I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 24. Interogasi



"Jadi benar bukan dari tokomu paket ini?" tanya seorang detektif kepada Firo untuk ke sekian kalinya.


Firo duduk dengan tenang sambil membalas pertanyaan Detektif Co. Firo balas melihat Detektif Co, seakan mengatakan kalau memang jawabannya tidak berbohong. Yah, harapan satu-satunya hanya dia yang percaya kalau barang haram tersebut bukan berasal dari tokonya.


"Paket itu bukan berasal dari tokoku, tidak ada logo di kertas lebel pengiriman. Kenapa hanya aku yang diperiksa? Bisa jadi pihak ekspedisinya yang salah. Atau bisa jadi ... mereka bersekongkol dengan si pengirim dan sengaja menjebakku."


Detektif Co masih mengamati lekat raut wajah Firo. Dia sedang meneliti ekspresi di wajah Firo, apakah pria itu sedang berbohong atau tidak. Dari awal dia yakin, Firo tak terlibat dalam kasus ini. Hanya saja, karena riwayat keluarganya yang buruk, membuat Polisi mencurigainya apalagi barang bukti didapat tidak hanya sekali.


"Kamu yakin tidak memberikan keterangan palsu? Kamu tahu bukan hukumannya kalau terlibat dalam kasus ini?" tanya Detektif Co.


"Yah, aku tahu," jawab Firo dengan tegas.


Detektif Co tersenyum. Dia pun sepemikiran dengan Firo. Alat pendeteksi kebohongan tidak bereaksi apa pun, itu tandanya Firo memang berkata jujur.


"Jangan khawatir! Aku sudah menyuruh Siena untuk mengawasi kasus ini. Aku sudah menugaskannya menjadi seorang siswi di sekolah anakmu," ucap Detektif Co lagi, "besok aku juga akan datang ke Indonesia membantu mengawasinya di sana."


Alis Firo berkerut, dia sedang memahami kata-kata dari Detektif Co. Kenapa dia menyuruh rekannya mengawasi tempat Drago sekolah? Bukankah kiriman itu bukan berasal dari Indonesia? Lalu kenapa harus mengawasi sekolah Drago? Sudah banyak pertanyaan dalam hatinya.


"Aku akan beritahukan nanti hasilnya. Jangan khawatir, aku sangat percaya bukan kamulah pelakunya. Kasus ini berkaitan dengan mafia sindikat penjualan obat terlarang dan perdagangan organ manusia internasional. Dan salah satu anggotanya ada di dalam sekolah itu," ucap Detektif Co.


"Maksud Anda? Salah satu mafia ada di sekolah itu?" tanya Firo.


Detektif Co tersenyum, tak membalas mengangguk atau pun menggeleng. "Kamu akan tahu nanti. Aku jamin Polisi tidak akan menahanmu di sini. Hanya saja untuk keperluan penyelidikan, kamu belum boleh pergi ke luar negeri termasuk Indonesia."


"Terima kasih, detektif Co. Aku titip putraku di sana," ucap Firo sambil menyalaminya.


***


Di tempat lain di persimpangan jalan. Freya berjalan sangat cepat seorang diri setelah turun dari bis kota. Sangat sepi, karena memang lingkungan rumah Freya bukan pemukiman penduduk, melainkan tempat gudang-gudang kosong yang tak terpakai. Freya harus melewatinya untuk sampai rumah.


"Baru kali ini aku merasa takut jalan sendirian ke arah rumah," gumam Freya sambil mengencangkan jaket pemberian El.


Sudah beberapa hari ini semenjak bekerja di rumah Drago, dia harus pulang dan pergi dalam keadaan gelap termasuk malam ini. Tadi Freya mendatangi temannya dulu, dia ingin meminta pekerjaan tambahan dengan menjual produk secara online. Yah, dia hanya berperan sebagai dropshipper dan mencari konsumen di rumah.


"Semoga usahaku lancar dan cepat mengumpulkan uang untuk menebus ayah," ucap Freya pada dirinya sendiri.


Freya mencoba setenang mungkin saat berjalan. Berusaha mengarahkan pandangannya ke depan, tak peduli dengan apa pun, tujuannya hanya ingin cepat pulang dan sampai rumahnya.


Akan tetapi sebelum dia benar-benar sampai, dua orang lelaki yang sedang mabuk di dalam gudang kosong, berjalan sempoyongan mendekatinya.


"Ada mangsa empuk di depan," ucap salah satu pemabuk.


"Hai gadis, kenapa kamu berjalan sendirian. Sini Abang temani."