I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 23. Kebebasan Sony



"Sebenarnya apa isi paket ini?" gumam Soren dalam hatinya.


Soren sudah dikirim ke Singapore dan dia sedang melaksanakan tugas pertamanya mengirimkan sebuah paket misterius. Melihat dengan saksama, Soren mencoba menebak apa isi paket itu. Yah, dalam pikirannya paket tersebut berisi obat terlarang.


"Semoga bukan bom isinya," gumam Soren lagi.


Tambah menegang lagi saat Soren melihat salah satu pengawal ketua mengawasinya dari jauh. Yah, tatapannya sangat tajam dan yang paling mengerikan orang tersebut membawa senjata. Bisa saja membidik kapan saja Soren di tempat.


"Apa Anda yang bernama Soren?" tanya seorang pria berpakaian kurir. Berbisik pelan sambil terus mengamati keadaan sekitar.


"Ya, benar, Aku Soren."


Kemudian orang tersebut memberikan kode dengan memberikan sapu tangan kepada Soren. Tentunya sudah ada cek yang terselip di dalamnya. "Terima kasih. Kalau ada yang bertanya sesuatu, bilang saja kamu salah satu pegawai di toko online," ucapnya setelah menerima paket.


Soren hanya mengangguk pelan, tak mengerti apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Masih dengan tangan gemetar, Soren memasukkan cek yang diterimanya tadi ke dalam kantong.


"Apa tugasku sudah selesai?" tanya Soren dengan lugu.


Pria berbaju kurir mengedipkan matanya sejenak. Sebelum Soren pergi, dia sempat mengecek alamat pengirim yang tertulis di atas paket. Yah, alamat yang dituliskan adalah usaha online milik Firo. Dia sengaja memakai toko online Firo untuk dijadikan sebagai alamat pengirim. Salah satu alasannya karena Firo adalah cucu Bramantyo, seorang pemilik perkebunan ganja yang dihukum mati. Seandainya mereka terciduk, Polisi pasti akan mencurigai Firo karena Isi paket itu adalah ekstasi yang disembunyikan di tumpukan ganja yang sudah mengering.


"Yah, kamu sudah bekerja bagus hari ini. Kamu bisa kembali ke hotel dan cek rekeningmu sekarang. Ketua sudah mengirimkan bonus pekerjaanmu hari ini," kata sang pengawal di dalam mobilnya, memberitahukan lewat telepon.


"Frey, tunggu sebulan lagi selesai. Ayah akan pulang. Aku berjanji tidak akan berjudi lagi," ucap Soren dalam hatinya.


***


Di lembaga permasyarakatan, terlihat Sony dengan angkuh duduk sambil dipijat beberapa narapidana anak buahnya. Walaupun di penjara, dia memiliki banyak uang sehingga dia bisa mentraktir narapidana lain dan petugas lapas.


"Ada telepon untukmu," ucap petugas lapas memanggil Sony.


Seketika anak buah Sony langsung berhenti memijat. Sony mengikuti petugas tersebut dan masuk ke dalam suatu ruangan untuk menerima telepon.


"Aku akan bebas sebentar lagi. Bagaimana kabar anakku? Apa kamu sudah beritahukan semuanya?" tanya Sony di telepon.


Di tempat lain, Niki membalas ucapan Sony. Ada perasaan senang sekaligus sedih begitu mendengar Sony akan bebas. Niki belum sekali pun mempertemukan Sony dengan El. Namun, El sendiri sudah lebih dulu tahu.


"Tenang saja, aku akan bawa anakku ke luar negeri. Di sana dia bisa dihargai, Ketua bahkan sudah sangat menyukainya. Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir!"


Sekali lagi Sony meyakinkan Niki kalau dia bisa membawa kesuksesan untuk anaknya. Yah, tentu saja Sony ingin menjadikan Elard seperti dirinya.


"Bagaimana dengan anak itu? Apa dia masih ada di rumahmu?" tanya Sony, "aku juga sudah menyiapkan kejutan untuk Firo."