I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 7. Pekerjaan Paruh Waktu



Bunyi hujan begitu deras terdengar di telinga Freya. Matanya yang bulat sedikit demi sedikit mulai terbuka lebar ketika beberapa tetes air mengenai tubuhnya. Freya barusan tersadar, entah apa yang barusan terjadi. Tiba-tiba saja ia sudah tertidur di bangku panjang yang ada di halte.


Malam ini hujan deras turun ke bumi beriringan dengan suara petir yang menggelegar. Sangat keras memekakkan telinga, matanya yang sudah membuka sempurna menatap ke sekeliling yang begitu sangat sepi.


Freya, kini ia berada di sebuah halte dan tidak bersama ayahnya lagi. Terakhir Freya mengingat masih berada di sebuah rumah yang megah bersama ayahnya bernegosiasi dengan seorang rentenir yang telah memberi hutang kepada Soren, ayahnya.


Tetap saja setelah Freya menyetujuinya, Soren tetap menjadi jaminan hutang kepada mereka. Kini Freya harus berusaha mencari uang agar bisa melunasi hutang tepat waktu, kalau tidak ginjal ayahnya akan diambil paksa. Mereka para mafia sangat pintar, agar tak terdeteksi di mana lokasinya, mereka membius Freya keluar dari dalam rumah dan menaruhnya di halte seperti sekarang.


Terakhir yang diingat, Ia tidak boleh melaporkan semua kejadian yang dilalui bersama ayahnya di rumah itu. Freya harus merahasiakan kepada siapa pun kalau Soren sedang dijadikan jaminan sampai ia bisa membayar lunas hutang ayahnya. Freya harus mengumpulkan uang senilai lima ratus juta sebelum tiga bulan.


Tubuh mungilnya sekarang mulai menggigil, Merasakan hawa dingin yang mulai menjalar meresap ke tulang-tulangnya. Dalam otaknya ia sedang berpikir bagaimana caranya agar mendapatkan uang untuk menebus ayahnya.


Matanya mulai memandang ke segala arah, melihat jalanan yang sepi tak di lalui mobil satu pun. Tanpa sengaja Freya melihat sebuah brosur tertempel di dinding halte. Membaca sekilas sebuah tulisan yang ditulis tebal.


"Lowongan kerja! Dibutuhkan cepat!"


Freya mulai membaca dari tempat ia duduk. Seperti sebuah kebetulan, Freya yang sedang membutuhkan uang seakan mendapat angin segar.


Tangannya yang sudah mulai gemetar meraih brosur itu lalu merobeknya pelan dari dinding.


"Sepertinya Tuhan sudah memberiku jalan keluar!" batin Freya.


***


Mansion Tuan Muda.


"Selamat Anda diterima kerja di sini, Nona," ucap kepala pengurus rumah tangga.


Freya begitu kegirangan saat kepala pengurus rumah tangga menerimanya sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.


"Pekerjaan Anda di sini hanya mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan tuan muda Drago. Karena Anda masih sekolah, maka nona hanya bekerja saat jam pulang sekolah sampai jam sembilan malam. Bagaimana apakah Anda sanggup, Nona Freya?" tanya kepala pelayan lagi.


Mendengar itu Freya mengangguk dengan cepat! Terlebih gaji di situ sangat tinggi untuk ukuran asisten rumah tangga pada umumnya.


"Saya setuju, Pak. Kapan aku mulai bekerja?" tanya Freya begitu bersemangat.


Kepala pelayan tersenyum, "Hari ini Anda akan mulai bekerja! Saya hanya berpesan kepada Anda kalau Tuan Drago memiliki sifat yang tidak mudah nyaman dengan seseorang apalagi dengan orang yang baru ia kenal. Saya sarankan jangan terlalu ikut campur urusan Tuan Muda dan siapkan mental Anda mulai sekarang, Nona." Tambah kepala pelayan lagi.


Freya menelan ludahnya, "Memangnya kenapa dengan tuan muda, Pak?" tanya Freya ingin tahu.


"Nanti lama-lama Anda akan tahu, Nona. Selamat bekerja!" ucap kepala pelayan menyalami Freya.


Freya balas menyalami pria tua di depannya. Agung nama kepala pelayan di rumah itu.


Atas perintah dia, gadis itu lalu mengganti bajunya dengan seragam pelayan. Memulai pekerjaan hari ini juga.


***


Freya diberikan tugas merapikan semua baju dan kamar yang akan di tempati tuan mudanya. Menurut cerita dari kepala pelayan, tuan mudanya dari luar negeri akan menetap di sini.


Gadis itu sedang merapikan beberapa baju majikannya untuk ditata rapi di lemari. Freya yang biasa mengurus apa-apa sendiri. Bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan cekatan.


Nanti malam tuan mudanya akan sampai di rumah itu. Baju dan perlengkapan lainnya harus sudah beres sore ini. Freya segera menuju ruang depan mengambil koper yang akan dirapikan.


Freya melangkah keluar bertanya kepada beberapa pelayan lainnya di mana tempat ia mengambil koper. Salah satu pelayan menunjuk sebuah ruangan.


Gadis itu langsung menuju ruangan itu. Membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Setelah masuk ia menutup pintu perlahan. Freya lalu mengambil koper warna merah yang ada di pojok ruangan seperti yang diperintahkan Pak Gun.


Setelah mengambil, Freya bergegas kembali ke kamar majikannya.


"Tidak terlalu sulit pekerjaannya menurutku!" ucap Freya pelan sambil membuka pintu.


Krek. Pintu ruangan mencoba ia buka saat koper sudah ada di tangannya. Namun kali ini begitu susah. Freya masih mencoba membukanya sekali lagi. Memperhatikan apa ada yang salah dengan pintu itu.


Kenapa pintu ini sulit sekali di buka! Batin Freya kesal.


Gadis itu mendengus kesal terus berusaha membuka. Hampir sepuluh menit Freya berusaha membukanya namun tetap tidak bisa.


Krek, krek!


"Apa pintunya rusak? Bagaimana kalau aku terjebak di sini!" batin Freya. Menyadari itu Freya begitu ketakutan. Ia mulai berteriak meminta pertolongan dari luar sambil mengetuk pintu.


"Siapa pun tolong bukakan pintu untukku!" teriak Freya sambil mengetuk pintu keras.


Setelah cukup lama akhirnya ada orang yang menolongnya dan Pintu akhirnya terbuka dari luar.


Freya begitu kaget saat tahu siapa yang membuka pintu untuknya, "Kamu!" Mata Freya berbinar.


Tatapan matanya tak berkedip saat Freya melihat seorang pria yang dia kenal berdiri tepat di depannya.


"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" tanya seorang pria tersebut tersenyum kepadanya, "Nona apa Anda baik-baik saja?" Pria itu kembali bertanya kepada Freya yang dari tadi tak berhenti memandang takjub kepadanya. Tangannya melambai tepat di depan muka Freya.


"Aku baik-baik saja," balas Freya terkesima.


"Sepertinya Anda belum tahu bagaimana cara membuka pintu ini! Pakai kartu ini untuk membukanya," jelas Elard, nama pria tampan yang memberikan sebuah kartu akses untuk di gesekkan di pintu agar Freya bisa membukanya.


Tangan Freya meraih kartu dari tangan Elard, "Terima kasih," balas Freya tak berhenti melihat El.


Elard Avanz, Lelaki berumur 18 tahun berperawakan tinggi, berhidung mancung ternyata adalah teman sekelas Freya. Mereka baru sekelas tahun ini jadi belum terlalu mengenal dekat.


Freya baru tahu kalau El sapaan lelaki itu ada di rumah itu. Ia sangat beruntung bertemu langsung dengan El, yang sangat hobi bermain basket. El merupakan bintang basket di sekolah, dan dia sangat mengidolakannya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya El.


Freya menunduk malu, "A-aku asisten baru di rumah ini," sahut Freya terbata sambil menunduk.


"Apa kamu juga bersekolah di Ganesha? Kalau tidak salah kamu adalah teman sekelasku," kata Elard menatap lekat wajah di depannya.


Ganesha internasional School (GIS) adalah sekolah internasional di kota itu. Rata-rata yang bersekolah di sana merupakan anak orang kaya. El masih melihat wajah Freya, menurutnya mungkin ia sedang salah orang. Tidak mungkin siswi Ganesha internasional school bekerja di rumahnya sebagai asisten rumah tangga.


Freya mengangguk pelan, "Iya, saya siswi kelas dua belas di Ganesha School. Kita adalah teman sekelas," jawab Freya pelan.