I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 25. Menangkap Dua Pemabuk



"Sini ikut Abang." Seorang pria pemabuk mendekati Freya kemudian menarik tangannya.


Freya terperanjat kaget, berusaha menjauh dengan menarik tangannya cepat. "Aku akan berteriak keras kalau kamu macam-macam denganku!" ucap Freya tegas.


Pria pemabuk bukannya menjauh, malah semakin mendekat dengan mencengkeram pipi Freya secara kasar. "Teriak saja sekarang! Di sini tak ada siapa pun selain kita bertiga," ucap pria pemabuk sambil melirik temannya.


Freya terlihat gemetar hebat, berusaha menarik diri dari cengkeraman mereka. Namun, walaupun mereka dalam kondisi mabuk. Keduanya adalah lelaki dan memiliki tenaga lebih kuat dari Freya, sekuat apa pun Freya melawan, tetap tenaganya tak seimbang.


"Tolong lepaskan aku, Bang. Aku mohon," ucap Freya memohon.


Akan tetapi, mereka tak peduli dan malah menggotong tubuh Freya ke pundak. Hendak membawa Freya ke dalam gudang kosong dan ingin memperkosanya.


"Kita bersenang-senang sekarang, gadis manis."


Teriakan Freya tak terdengar siapa pun. Karena memang di sana sangat sepi dan tak ada orang.


Seorang berdiri memakai jaket tebal, sedang memperhatikan dari jauh. Berjalan mendekat sambil membawa pistol di tangannya.


"Lepaskan aku, tolong, lepaskan aku!" Freya memukul keras punggung pria tersebut sambil berteriak lebih keras lagi.


"Jangan membuang-buang tenagamu dengan berteriak. Karena itu percuma. Simpan teriakanmu nanti saat kau keenakan, ha, ha," kata pria pemabuk sambil tertawa keras.


Dua pria pemabuk menghempaskan tubuh Freya ke lantai hendak memperkosanya bergantian. Setelah melakukan perundingan, diputuskan pria berbaju merah yang ingin menggilir Freya lebih dulu.


"Tolong, Bang. Jangan lakukan!" pinta Freya sambil memundurkan diri berusaha menjauh.


Seakan mendapat mangsa empuk, keduanya tak ingin berlama-lama. Pria berbaju merah langsung membuka celana hendak merangsek tubuh Freya dengan cepat.


"Lepaskan aku!" Freya tak tinggal diam dengan menendang selangka ngan pria berbaju merah.


"Kurang ajar! Beraninya kamu menendangku!" Pria berbaju merah kesakitan, namun tak menyulutkan niatnya untuk mencicipi tubuh Freya. Dilepasnya ikat pinggang lalu memukulkan ke tubuh Freya dengan keras.


Prak!Prak! "Diam atau aku pukul lagi!"


"Aaargh!"


Freya berusaha berdiri dan kabur. Namun, satu pria lagi menahannya dan membiarkan Freya dicambuki dengan keras. "Aaargh!" teriak Freya lagi kesakitan.


Kali ini Freya mulai ketakutan. Dalam kondisi seperti itu saja dia masih berusaha kabur, berusaha merangkak menuju pintu keluar. "Tolong, Bang. Jangan perkosa aku!"


"Ikat kaki gadis ini!" perintah pria berbaju merah. Rupanya ke dua pria tersebut merupakan preman pasar dan si pria berbaju merah adalah bosnya.


"Sudah bos bilang jangan banyak melawan. Lihat tubuhmu terluka, kan?" ucap Si anak buah.


"Aku tak peduli. Tolong, Bang, lepaskan aku." Sekali lagi Freya memohon diiringi isakan, menarik tubuh pria berbaju hitam agar melepaskan ikatannya. "Cepat lepaskan aku, Bang! Ayahku tak akan tinggal diam kalau tahu kalian menodaiku!"


"Ayahmu tidak akan selamat! Jadi serahkan saja tubuhmu dengan sukarela, ha, ha," ucap si anak buah sambil tertawa. Dia tak peduli kalau harus memakan anak temannya sendiri.


Plak! Freya menampar pipi pria tersebut, "Apa Abang Lupa kalau ayah pernah mengajak makan di rumah? Abang juga pernah ditolong oleh ayah saat kecelakaan. Tolong lepaskan aku! Aku janji tidak akan mengatakannya kepada ayah nanti!"


Pria berbaju hitam merasa marah atas tamparan Freya, begitu pula sang bos. Mereka tak ingin membuang-buang waktu sekarang. Tak peduli Freya adalah anak temannya sendiri.


"Beri dia alkohol dengan campuran ekstasi sekarang!" perintah sang bos berbisik pada bawahannya.


Kemudian, pria berbaju hitam mengambil sebotol minuman keras, membuka penutupnya lalu menuangkan di dalam gelas.


"Kami sudah menggunakan cara yang halus, tapi kamu tetap saja cerewet! Buka mulutmu sekarang!" bentak anak buah sambil mencengkeram kepala Freya dan berusaha membuka paksa mulutnya.


"Aaargh!" Freya tak bisa berkutik, menjerit pun rasanya susah saat pria berbaju hitam dengan paksa membuka mulutnya dan memasukkan beberapa pil kecil di mulut Freya.


"Cepat telan! Aku akan memberikan minuman agar kamu bisa menelannya," ucap pria berbaju hitam sambil mencekoki minuman keras.


"Soren tidak akan selamat. Ketua tetap akan membunuhnya sesudah tugasnya selesai nanti. Jadi lebih baik ikut bersama aku saja sebagai simpananku," ucap Sang Bos.


"Apa yang kamu katakan?"


"Pekerjaan ayahmu itu selain berjudi juga seorang kurir narkoba. Ketua tidak menyukai ayahmu dan berniat menghabisinya nanti. Jadi jangan harap dia akan kembali."


Dor! Tiba-tiba saja suara tembakan terdengar menggema di ruangan. Sangat keras, hingga membuat Freya dan ke dua pria kaget. Cepat-cepat pria berbaju merah memasangkan lagi resleting celananya dan menoleh mencari siapa yang berani mengusik kesenangan mereka.


"Siapa dia?"


Pria berbaju hitam melemparkan gelas ke sembarang arah dan melepaskan Freya begitu saja ke lantai.


"Bos kita pergi saja sekarang. Jangan-jangan polisi mengikuti kita dari tadi," ucap pria berbaju hitam ketakutan.


Sang bos juga berpikiran demikian, tapi dia masih merasa sok jagoan dengan menantang si penembak. "Siapa kamu? Beraninya mengganggu kesenangan kami?"


"Bos, ayo kita lari saja sekarang. Kita tinggal saja gadis ini di sini," ucap si anak buah menunjuk Freya yang terkulai di lantai.


Baru beberapa detik menelan pil tadi, kepala Freya mendadak pusing. Dia masih jelas mendengar suara tembakan, namun tiba-tiba saja tubuhnya melemas seperti tak ada tenaga.


"Lepaskan dia!" teriak seorang berjaket tebal sambil membuka penutup kepalanya. Dia adalah Siena, siswi baru teman sekelas Freya. Seorang polisi wanita yang menyamar sebagai seorang siswi baru di GIS.


"Polisi!" Refleks kedua preman mengangkat tangannya ke atas bahu tanda menyerah.


Siena sengaja membuntuti Freya dari tadi. Ketika dia mendapati Freya akan diperkosa, dia menghubungi dan membawa beberapa polisi, "Tangkap dua orang itu, Cepat!" teriaknya masih menodongkan pistol ke arah mereka.