I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 37. Ditembak



Di taman anggrek, Soren terlihat celingukan mencari Freya. Sudah jam sepuluh dan anaknya belum juga datang. Di tangan Soren sudah membawa bungkusan kecil untuk Freya nanti.


Soren menekan tombol di ponselnya berniat menghubungi lagi Freya. Namun, sekali pun tak diangkat oleh Freya. Yah, lantaran gadis itu sedang dalam perjalanan diantar Drago.


"Aku ingin memberikan foto dan kenang-kenangan dari ibumu dulu sebelum meninggal Freya. Kamu harus tahu kalau sebenarnya ibumu berasal dari Jepang dan masih memiliki keluarga lainnya. Semoga setelah ini Tuan Ryu mau mengakuimu sebagai cucu setelah melihat bukti ini."


Soren melihat foto istrinya dulu saat mengandung Freya. Meskipun postur Freya lebih mirip dengannya, tapi tidak dengan wajahnya. Freya sangat mirip dengan Hyuna, nama istrinya yang sudah meninggal saat melahirkan.


"Semoga Freya suka," kata Soren tak sabar mendekap kotak.


Soren terlampau bahagia karena kebebasannya dan sebentar lagi bertemu dengan Freya. Dia berniat akan memulai hidup baru, tak mau berjudi lagi maupun menjadi kurir ganja, Dia ingin hidup normal dan sederhana bersama Freya. Tak disadari dari belakang, seorang menepuk bahu Soren, menekannya sedikit kuat.


"Jadi, kamu sudah selesai melakukan tugasmu?"


Soren menoleh, dilihatnya seorang lelaki berpakaian mirip ketua yang selama ini menutupi wajahnya dengan topeng. Soren pikir, dia lah ketua mafia yang selama ini dia takuti.


"Iya, aku sudah menyelesaikannya tadi, Ketua," jawab Soren gugup.


Soren baru menyadari ada seorang lagi di sebelahnya, menodongkan pistol di perut. Soren terkejut, matanya terbelalak.


"Ketua, aku sudah mengantarkan paket terakhirnya dengan aman tanpa kendala. Bukankah Anda sudah membebaskanku?"


Yang dipanggil ketua oleh Soren malah tersenyum penuh ironi. Seorang lagi yang memegang pistol memberikannya kepada dia.


"Apa kamu sudah yakin tak ada kendala?"


Soren kembali ketakutan. Dia mengangguk dan semakin gemetar. Perasaanya sedang tidak enak sekarang.


"Kamu harus mati!"


Dor!Dor!Dor


Tubuh Soren langsung lemas. Baginya, dunia tampak berhenti seketika saat peluru menembus tempurung kepalanya. Di tangannya masih memeluk erat kotak kecil tadi, memikirkan anaknya yang sebentar lagi akan datang.


"Freya," ucapnya lirih, "maafkan, ayah."


Selang beberapa detik, kedua orang yang menembaknya tadi langsung berlari kencang. Mereka langsung masuk ke dalam mobil setelah sebelumya bertemu dengan Firo. Melemparkan senjata bekas mereka menembak tadi kepada Firo.


"To ... long ... a ... ku ...."


Di saat bersamaan, Freya dan seorang polisi datang. Awalnya Freya berjalan biasa saja. Namun, setelah mendengar tembakan dia langsung berlari ke arah sumber suara.


"AYAAAAHH!" teriak Freya sangat keras. Freya melihat langsung ketika kepala ayahnya bersimpah darah. Seketika Freya langsung berlari dan memapah tubuh Soren.


"Ayah, apa yang terjadi. Freya sudah datang. Siapa yang membuat ayah begini?" tanya Freya sambil menangis sesegukan.


Darah sudah mengalir deras membasahi baju dan lengan Freya. Tembakan Soren rupanya sangat serius, membuat dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. "Ef ... fre ...."


Tidak jauh dari sana, Firo langsung berlari mendekati mereka. Firo menaruh pistol tersebut ke dekat Soren lalu memapah tubuhnya. "Cepat bawa ayahmu ke rumah sakit, sekarang!"


Freya bingung harus berbuat apa. Saat itu juga dia menurut membantu menggotong ayahnya bersama Firo.


"Tolong selamatkan ayahku, hiks," ucap Freya sambil menangis.