I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 35. Mengikuti Soren



Tiga puluh menit yang lalu, sebelum Soren mengantarkan paket ganja. Soren menghubungi Freya yang sedang ada di kamar Drago. Soren mengatakan dia baik-baik saja dan ketua mafia akan segera melepaskannya.


"Ayah, rumah kita di sita," kata Freya di telepon.


Soren di tempat lain membalas ucapan anaknya dengan wajah berseri. "Tenang saja, Frey. Besok ayah dibebaskan. Ayah sudah punya uang untuk membayar semua utang kita. Besok ayah juga akan mengurusi rumah kita yang disita."


"Dari mana ayah mendapatkan uangnya?"


Soren di seberang sana terlihat memikirkan ide untuk berbohong. Tentunya agar Freya tak curiga sama sekali. "Dulu ayah pernah bercerita ada teman ayah yang berhutang miliaran kepada ibumu. Kemarin, dia menghubungiku dan mengembalikan semua uangnya."


Freya tampak bahagia. Mendengar ayahnya dibebaskan, itu artinya dia tak perlu bersusah payah mencari uang tebusan. Dia pun tak perlu lagi bekerja untuk Drago. Dia akan hidup bebas seperti dulu.


Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini? Batin Freya.


Freya ingin cepat keluar dan menemui Soren. Namun, sepertinya dia tak bisa keluar begitu saja dari kamar Drago. Di luar masih ada Meysa yang masih berlalu lalang. Freya tak mau dicurigai lagi.


"Syukurlah teman ayah datang di waktu yang tepat. Aku tak sabar bertemu denganmu ayah. Aku rindu makan mi semangkuk besar bersama seperti dulu," kata Freya di telepon.


"Tenang saja, Frey. Ayah akan membelikan mi yang banyak nanti. Ayah juga akan mampir ke pasar untuk membelikan semua makanan kesukaanmu. Setelah tugas ini selesai. Ayah akan cepat menemuimu. Di mana kamu sekarang, Frey?" tanya Soren di tempat lain.


Freya tak mungkin mengatakan sedang di rumah seorang lelaki. Dia pun menjawab kalau dia sedang menginap di rumah temannya. "Ayah tak perlu terlalu boros. Ayah harus mengirit uang dan menghentikan kebiasaan ayah berjudi lagi," kata Freya, "bagaimana kalau Freya saja yang menemui Ayah?"


"Tenang saja dengan sisa uang ini, ayah berencana akan membuka kedai mi ayam kesukaanmu. Kita akan buka usaha kecil-kecilan seperti dulu bersama ibumu."


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya, Ayah. Eum ... tunggu! Barusan Ayah mengatakan akan menyelesaikan tugas. Memangnya tugas apa, Ayah?"


"Bukan pekerjaan yang sulit, Freya. Nanti ayah jelaskan kalau kita sudah bertemu. Kita bertemu saja di taman anggrek tempatmu bermain dulu. Ayah juga punya sesuatu untukmu."


Setelah memberitahukan tempat pertemuan mereka, keduanya memutuskan untuk menutup obrolan. Soren sudah diburu waktu untuk tugas terakhirnya mengantarkan paket, setelah ini tugasnya akan selesai dan dia akan dibebaskan.


Sementara Freya masih berada di kamar Drago, dia masih mengamati dari dalam. Mengatur strategi agar dia bisa keluar dari apartemen Drago tanpa dicurigai.


"Harusnya aku tidak ke sini tadi. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar di sini? Tiga jam lagi aku harus menemui ayah di taman anggrek," gumam Freya.


Karena terlalu banyak berpikir membuat perut Freya keroncongan, ditambah dari tadi siang dia belum makan. Sekarang sudah jam tujuh malam, harusnya waktunya dia makan malam. Freya mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari kue atau makanan apa saja yang bisa mengganjal perutnya. Karena tak ada yang ditemukan, Freya sampai memberanikan diri membuka laci meja Drago.


"Apa ini? Bukankah ini adalah miniatur karakter Robin? Apa dia terlalu menyukai game MS sampai dia memiliki miniaturnya?"


Freya mengamati miniatur karakter Robin di tangannya. Memutar benda itu dan membaca tulisan "Orion Robin" di bajunya. Kemudian pandangannya beralih ke piagam emas bertulisan nama Drago. Piagam penghargaan sebagai seorang konten kreator favorit di salah satu aplikasi terkenal bertuliskan Yu Klub.


"Semoga dugaanku salah," gumam Freya.


Freya sangat kaget begitu mengetahui pemilik konten game MS yang selama ini viral di media sosial adalah Drago. Dari semua bukti yang dia temukan di kamar menunjukkan kalau Drago lah yang memainkan karakter Robin. Namun, Freya masih tak percaya, beharap bukan lelaki itu yang menjadi pacar dunia mayanya.


"Lagi-lagi kamu lancang mengobrak-abrik barang milikku."


Suara Drago mengagetkan Freya. Gadis itu terperanjat dan langsung melepaskan miniatur game milik Drago. Mata Freya tak berkedip melihat ke arah Drago yang sedang membawa makanan untuknya.


"Miniatur ini apakah ini milikmu?" tanya Freya, "eum ... maksudku lebih tepatnya apa kamu juga memainkan gamenya?"


Drago melihat ke miniatur karakternya. Kemudian mengambil dari tangan Freya dan meletakkannya di meja beserta piagam penghargaan dari Yu Klub.


"Yah, aku juga memainkan gamenya. Apa kamu juga suka menonton kontenku di Yu Klub?" tanya Drago.


Ditanya seperti itu, kepala Freya langsung menggeleng cepat. Keningnya tiba-tiba berkeringat, terus melihat ke arah Drago seakan masih tidak mempercayai kalau Drago adalah pacar onlinenya.


Drago menaruh makanan di meja, kemudian menjawab cepat, "Aku tidak suka mengulangi jawaban yang sama. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya. Makanlah dulu sekarang sebelum keluar! Aku sudah pesankan kamar hotel untukmu tidur malam ini."


Lutut Freya terasa lemas. Ternyata ucapan Drago beberapa waktu yang lalu tidak bercanda. Dia memang Robin.


"Aku tidak mau makan. Antarkan saja aku keluar," ucap Freya pelan. Dia masih terlihat shock.


...***...


Di tempat lain di kafe tempat Detektif Co menyamar. Firo telah sampai, sedang duduk tenang sambil terus mengamati. Dia melihat seorang lelaki bertubuh pendek sedang berbicara dengan pengusaha berdasi merah. Dia adalah Soren.


Detektif Co datang membawa dua botol wine, menempatkannya di meja, pas di hadapan Soren yang sedang berbisik. Detektif Co terlihat sedang menata gelas, sengaja melakukan gerakan lamban agar bisa menguping pembicaraan keduanya.


"Carla, pergilah dulu, kami ingin bicara berdua. Jangan khawatir, setelah ini kita akan bersenang-senang," kata lelaki berdasi merah.


"Baiklah, setelah merapihkan minuman ini aku akan pergi ke belakang, Tuan," jawab Detektif Co cukup tenang. Dia berusaha profesional agar lelaki berdasi merah tidak curiga.


Transaksi tersembunyi sedang berlangsung. Soren terus berbisik, mengatakan kalau tugasnya telah selesai dan ingin cepat pergi. Lelaki berdasi membalas agar Soren tak berburu-buru, ingin memberinya hadiah dengan mengajaknya minum.


"Tidak, aku harus menemui putriku setelah ini. Aku tak mau anakku mencium bau alkohol di mulutku," ucap Soren.


Lelaki berdasi merah tak memaksa. Membiarkan Soren pergi dan memanggil detektif Co untuk menuangkan minuman lagi di gelasnya. Detektif Co langsung beranjak dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menebar jebakan.


"Minumlah, Tuan. Wine ini diimpor langsung dari Perancis. Anda pasti menyukainya," kata Detektif Co.


Firo yang tadinya duduk langsung berdiri mengikuti Soren. Sementara Detektif Co masih sibuk menuangkan wine di gelas lelaki berdasi merah. Detektif Co tahu, lelaki berdasi tidak sendirian, ada beberapa orang yang mengawasinya dari jauh. Agar dapat menangkapnya, Detektif Co memutar otak agar lelaki itu menjauh.


"Maafkan aku, Tuan!" seru Detektif Co dengan nada kaget. Dia sengaja menuangkan segelas wine di baju lelaki berdasi. Sangat banyak membuat baju lelaki berdasi basah dan membuatnya tak nyaman.


"Kalau tak nyaman sebaiknya buka saja bajunya. Aku sudah siap sekarang," ucap Detektif Co setengah menggoda.


"Jadi kamu lebih suka melakukannya di sini?"


Detektif Co tersenyum malu-malu. "Tentu saja tidak. Aku tipe lebih suka bermain di atas ranjang."


Kedipan Detektif Co sangat nakal membuat pria berdasi menjadi tidak sabar. Kemudian seorang pengawal yang memperhatikan mereka dari jauh mengambil koper yang ditukar Soren, membiarkan lelaki berdasi pergi bersama Detektif Co yang menyamar menjadi Carla. "Jangan terlalu lama, Tuan. Ketua akan datang ke sini sebentar lagi," ucap pengawal memperingatkan lelaki berdasi.


Lelaki berdasi sudah mabuk, dia tak suka diatur dan membentak pengawal agar menunggunya saja di luar. "Jangan mengaturku. Kalau kamu mau, pesan saja satu wanita untuk menemanimu malam ini. Tenang saja aku yang akan membayarnya."


Di pertigaan menuju toilet, begitu lelaki berdasi dan Detektif Co berjalan hanya berdua. Siena yang memakai pakaian biasa langsung menodong pistol ke arah lelaki berdasi.


"Siapa kamu?" tanya lelaki berdasi ketakutan.


Setelah itu Detektif Co membuka wig di kepalanya, dan menunjukkan kartu identitas detektifnya. Lelaki berdasi sangat kaget, apalagi saat Detektif Co menendangnya dengan keras. "Lain kali kendalikan tanganmu agar tak memegang bokong orang lain dengan kasar!"


"Kamu?"


"Ikut kami ke kantor Polisi," ucap Siena tegas.


Beberapa polisi yang ikut bersama Siena bergerak masuk ke dalam klub untuk menangkap tersangka lainnya. Sementara Firo dan satu polisi lainnya bergerak mengikuti Soren dari belakang.


"Lelaki itu, kita harus menangkapnya," ucap Firo.