I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 17. Penolakan Drago



"Semangat El ... aku mendukungmu ...." Freya berdiri sambil berteriak kencang menyemangati Elard yang sedang bermain basket, "semangat El!" teriaknya lagi.


Freya sendirian menyemangati El, ia tampak paling heboh sendiri. Freya begitu sangat percaya diri berteriak mendukung El tidak jauh dari pertandingan basket berlangsung.


"Lihat, cewek miskin itu." Tunjuk salah seorang siswi.


Selain dia, banyak para siswi yang duduk bergerombol mendukung El. Hanya dia yang tidak memiliki teman di sekolah, beberapa murid lain menganggap Freya adalah gadis paling dibawah standar. Selain tidak kaya dan pintar, tak ada keistimewaan yang dimiliki Freya, membuatnya tak memiliki teman satu pun di sekolah.


"Dasar cewek aneh! Terlalu percaya diri dan kampungan.. ha.. ha.. " Dua orang siswi yang duduk di beberapa meja dari Drago, sedang menertawakan dan membicarakan Freya.


"Ha...ha..betul! Bahkan dari tadi Elard yang ia semangati tak memperdulikannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan." Teman satunya menimpali.


"Lihat saja penampilannya sangat kampungan. Bahkan wajahnya tak menarik sama sekali, mana mungkin ada cowok yang menyukainya. Mungkin dia berharap akan mendapatkan cowok kaya di sini. Nyatanya hampir tiga tahun sekolah di sini, satu pun cowok bahkan cewek saja, tak ada yang mau mendekatinya." Mereka berdua tertawa terbahak membicarakan Freya.


Drago yang duduk di kantin, diam-diam menguping pembicaraan mereka. Ya, Drago juga tengah memperhatikan Freya dari tempatnya duduk.


Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menepuk bahu Drago. "Maaf sudah membuat kakak menunggu lama?" Calista mendekati Drago membuyarkan pandangannya.


Drago terkesiap begitu tahu kalau perempuan yang ditunggunya sudah ada di belakang. Siang ini Calista mengajak ia bertemu di kantin sekolah seusai pulang sekolah. Tentu saja ada hal penting yang tak bisa ia bicarakan lewat telepon.


"Tidak, aku baru duduk di sini lima menit yang lalu." Drago menggeser dirinya agar Calista bisa duduk di sebelah, "duduklah! Apa kamu ingin memesan sesuatu?" tambahnya lagi.


Calista menggeleng. Dia malah menyeruput minuman yang barusan dipesan Drago. "Wah minuman ini sangat segar sekali."


"Kalau kamu mau, minum saja. Biar aku pesan lagi," kata Drago.


Lagi-lagi Calista menggeleng. Dia malah sibuk menceritakan dirinya tadi saat di kelas. Sebaliknya, Drago malah mengabaikan dan fokus dengan ponselnya.


"Kakak, aku sedang bicara. Kenapa Kakak malah mengacuhkanku? Apa aku sedang mengganggumu?" tanya Calista tanpa basa-basi. Dia paling tak suka ketika sedang berbicara lawan bicaranya malah fokus dengan ponsel.


Sekarang pandangan mata Drago beralih pada Calista, "Apa aku terlihat sedang sibuk?" Drago balik bertanya, "ayo ceritakan lagi yang tadi."


Calista tersenyum tipis. "Aku pikir kakak sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kalau tidak sibuk ... aku ingin mengajak kakak nanti malam."


Kening Drago mengernyit. Setelah beberapa bulan jarang berkomunikasi membuat hubungan mereka sedikit renggang. Tepatnya ketika Calista sibuk dengan pekerjaan modelnya.


"Nanti malam?" Drago kembali bertanya.


"Apa dia teman sesama model?"


Calista mengangguk pelan. Ia tak yakin lelaki itu mau menerima ajakannya, mengingat Drago paling tidak suka terekspos kamera.


"Kamu kan tahu aku tidak su–" Belum sempat Drago meneruskan ucapannya Calista sudah menyelanya.


"Aku tahu! Tapi setidaknya kali ini saja. Bukankah kita tak pernah pergi ke acara berdua semenjak kejadian itu?" Calista mengingatkan lagi kejadian tiga tahun yang lalu. Ya, kejadian saat mereka berumur lima belas tahun, ketika mereka baru saja resmi bertunangan.


"Lupakan kejadian itu. Aku tak ingin mengingatnya lagi!" seru Drago.


"Jadi bagaimana apa kakak mau menemaniku nanti malam?" tanya Calista lagi meyakinkan.


Tak ada pertimbangan sama sekali Drago langsung menolaknya. "Maafkan aku, Cali! Aku hanya akan menemanimu tapi tidak ke acara itu," sahutnya. Drago tidak nyaman berkumpul bersama para artis lainnya. Dia tak ingin hubungan mereka menjadi konsumsi publik di media sosial.


Mendengar penolakan dari lelaki di depannya, Calista tampak kecewa. Baru kali ini ada lelaki yang menolak dan lelaki itu adalah tunangannya sendiri.


"Lalu siapa yang akan menemaniku? Mereka pasti membawa pasangan masing-masing. Lalu aku? Bukankah kamu adalah tunanganku?" Calista mulai tersulut emosi.


"Kamu bisa mengajak El! Dia pasti mau menggantikanku," sahut Drago enteng.


"Selalu saja dengan El? Lalu untuk apa kamu pindah ke sini?"


Tanpa permisi, Calista langsung pergi dari tempat. Ia tidak suka dengan penolakan, apalagi penolakan itu datang dari lelaki yang sangat ia cintai.


"Cali." Drago mencoba menghentikan tangan Calista, menahannya agar tidak pergi. "Jangan marah! Kalau mau aku akan mengajakmu nanti malam, tapi tidak ke pesta itu."


"Pesta itu sangat penting. Banyak teman-temanku yang membawa pasangannya di sana. Sudahlah, lebih baik aku pergi sendiri saja," ucap Calista sedikit ketus.


Calista yang terlanjur marah segera menepis tangan Drago. Tanpa sepatah kata pun ia pergi dari tempat itu.


Maafkan aku, Cali, batin Drago.


Dari jauh seorang lelaki yang sedang beristirahat memperhatikan Drago dan Calista yang sedang berseteru. Ya, dia adalah Elard. Jauh sebelum pertunangan mereka dilakukan, El sudah menyimpan perasaan yang begitu dalam terhadap Calista.