I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 16. Nilai Sempurna



"Gimana bisa membangunkanku, kalau sampainya saja jam segini?" ucap Drago sambil menunjukkan jam tangannya.


Drago sudah siap berangkat, setelah melihat Freya sampai, dia malah tak peduli sama sekali dan pergi hendak berangkat. "Besok, kamu harus datang lebih pagi lagi. Kalau telat, untuk apa kamu ke sini." ucapnya sambil berlalu.


"Maaf, tadi ada kemacetan di jalan," kata Freya dengan napas ngos-ngosan sambil melihat ke arah punggung Drago yang semakin menjauh, "aku janji besok ngga akan telat lagi."


Gara-gara ada kecelakaan mobil di tengah jalan tadi, Freya sampai datang terlambat.


Kalau bisa bangun pagi, untuk apa aku harus datang ke sini? gumam Freya mendengkus kesal.


Dengan jalan tertatih karena kelelahan berlari tadi, Freya kembali berjalan menuju bis umum untuk sampai ke sekolah. Sementara Drago, baru saja dia keluar dari ambang pintu utama, motornya sudah berlalu kencang melewati Freya.


***


Di dalam kelas. Freya telah sampai ke sekolah setelah sebelumnya mampir sebentar untuk membangunkan Drago. Nyatanya Drago malah sudah bangun sebelum dia datang ke kamarnya.


"Kumpulkan buku PR kalian," ucap Miss Ana seorang guru matematika.


Freya terkesiap, ia baru ingat kalau buku pelajarannya tertinggal di rumah Drago. Beberapa murid telah mengumpulkan buku PR, kecuali dirinya. Freya sedang bersiap menerima hukuman dari Miss Ana, biasanya siswa yang tidak mengerjakan PR akan diberi hukuman meninggalkan kelas.


Sepertinya aku akan dihukum lagi, batin Freya.


"Freya," panggil Miss Ana.


"Yah," jawab Freya gugup.


"Aku tidak yakin kamu mendapatkan nilai seratus kali ini! Apa ini benar kamu yang mengerjakannya?" tanya Miss Ana.


Freya merasa kaget dengan ucapan Miss Ana.


Apa nilai seratus? Bahkan aku belum mengumpulkan buku PR, apa Miss Ana salah membaca nama di buku itu?


"Kenapa bengong? Ambil buku PR-mu sekarang!" perintah Miss Ana lagi.


Freya lalu berjalan sedikit ragu ke depan. Mengambil buku dari tangan guru matematikanya itu.


"Apa benar kamu yang mengerjakannya?" tanya Miss Ana lagi.


Apa mungkin dia yang mengerjakannya? Tanya Freya dalam hati.


Tatapan mata Freya tertuju pada lelai yang sedang sibuk dengan buku pelajaran di tangannya. Ya, Drago pura-pura tak melihat Freya saat maju ke depan kelas.


"Freya!" Miss Ana mengagetkan lamunan Freya.


"Betul, Miss. Aku yang mengerjakannya," jawab Freya berbohong.


Miss Ana masih tidak percaya kalau Freya mengerjakan sendiri, baru kali ini Freya mendapatkan nilai seratus. Bahkan teman-teman lainnya mencibir Freya, menuduhnya menyontek.


Tidak! ini bukan tulisanku, lalu siapa yang mengerjakannya? Tadi malam aku yakin bukan ini jawaban yang aku tulis, batin Freya.


Freya yang berjalan ke arah bangkunya, menghentikan langkahnya sebentar di depan Drago. Namun, lelaki itu tetap mengacuhkannya, seolah tak terjadi apa-apa.


Apa mungkin dia yang merubah jawabannya? batin Freya meneruskan langkahnya lagi, lalu duduk tepat di belakang Drago.


flashback on.


Drago mengalihkan perhatiannya ke arah buku yang ada di meja belajarnya. Ya, akibat tidak bisa tidur Drago berulang kali melakukan kegiatan yang membuatnya mengantuk seperti membaca buku. Namun, setelah buku itu selesai dibaca rasa kantuk itu pun tak kunjung datang.


Drago membuka buku yang jelas bukan miliknya. Ternyata itu adalah buku PR milik Freya. Gadis itu lupa membawanya pulang setelah mengerjakan tugas miliknya. Selembar demi selembar ia baca dan buka. Alangkah terkejutnya Drago saat melihat nilai, sebagian nilai PR Freya rata-rata dibawah lima puluh.


Apa dia sebodoh itu? Sampai tak ada satupun nilai di atas rata-rata?


Kemudian ia melihat lagi hasil kerja Freya terhadap PR nya. Ingin tertawa sudah pasti, ia berpikir Freya merupakan siswi yang pintar, tapi ternyata sebaliknya. Semua yang dikerjakan Freya hanya dua soal yang benar, selebihnya salah.


Aku kira ia bersekolah di GIS karena beasiswa kepintarannya? Ternyata bukan!


Yang Drago tahu, rata-rata murid di GIS adalah anak orang kaya, anak konglomerat atau bahkan anak pejabat. Dari yang ia tahu dari Kakek Sam, kakek Calista sekaligus pemilik sekolah itu, ada beberapa murid yang mendapat beasiswa karena kepintarannya. Namun, kenyataanya Freya bukan dari keduanya. Ia bukan anak orang kaya bahkan bukan siswi yang pintar.


Rasa pusing di kepalanya sudah mulai menghilang. Namun, rasa kantuknya masih tak kunjung datang padahal sudah jam dua belas lebih. Akhirnya Drago memutuskan untuk merubah kembali jawaban yang sudah di kerjakan gadis itu bahkan ia juga merubah jawaban PR di buku Freya.


Dasar gadis bodoh! Drago terus membatin.