I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 34. Siapa Mafianya?



"Ayah, Ibu, maaf baru memberitahu sekarang kalau Rion ada di sini."


Setelah Drago membuka pintu, langsung menyalami keduanya, kemudian mempersilahkan orang tuanya duduk. Baru mendudukkan diri saja, ekspresi Firo sudah sangat mengintimidasi.


"Rion, jelaskan semuanya sekarang," kata Firo memulai pembicaraan.


Drago menghela napas cukup panjang, kemudian melihat satu persatu wajah orang tuanya. Setelah dua cangkir teh tersedia di meja barulah dia bercerita.


"Barusan, Paman Sony hendak meracuniku," kata Drago langsung ke intinya. Drago mengambil satu sampel daging sapi lada hitam yang sudah di cek ke laboratorium, kemudian menyerahkan hasilnya di depan Firo dan Meysa.


"Sony belum keluar dari penjara. Dari mana kamu tahu makanan ini beracun?"


Firo mengamati cermat hasil laporan. Dia menggeleng kepala berulang kali melihat hasil laporan. Ternyata benar makanan itu beracun. Namun, dia tak yakin Niki ikut terlibat.


"Aku menggunakan sumpit dan sendok dari perak untuk mendeteksi racunnya. Sebelumnya, agen Siena telah memperingatkanku agar berhati-hati karena paman Sony sudah bebas, dia menyamar sebagai pembantu rumah tangga di rumah itu. Bahkan kakaknya sendiri adalah kepala pelayannya."


Meysa tercengang. Mendengar jawaban Drago membuatnya tak bisa berkata-kata. Kalau kepala pelayan adalah kakaknya Sony, berarti Pak Gun lah orangnya.


"Pak Gun? Dia ....?


Drago mengangguk cepat. "Yah, Siena sudah menyelidikinya. Pak Gunawan adalah kakak dari paman Sony yang ditugaskan untuk memantau El selama ini."


"Jadi kamu sudah tahu Siena?" tanya Firo. Dia tak habis pikir kalau Drago sudah mengetahui semuanya, tentang Siena yang dikirim Detektif Co sebagai siswa baru untuk memantau Drago dan sekolahnya.


"Aku dan Nona Siena sudah saling mengenal, jadi mana mungkin aku tidak tahu."


Drago tersenyum, banyak yang belum diceritakan kalau selama ini dia telah menyelidiki masa lalu kakeknya, dan masalah Firo yang selalu ditutupinya di depan Drago. Firo tak tahu kalau selama ini Drago tahu masalah paket ganja yang menimpa toko onlinenya.


"Ayah aku sudah tahu, salah satu orang yang mengirim paket ganja ke Indonesia atas nama toko online ayah adalah mantan karyawan ayah. Dia sekarang bekerja sama dengan para mafia penjualan obat dan organ dalam manusia. Sayangnya sekarang dia telah meninggal sebelum polisi menangkapnya. Racun dari Arsenik lah yang membuat dia tewas, sama dengan racun yang ada di daging sapi lada hitam. Berarti pelakunya saling berkaitan," kata Drago menjelaskan.


Firo mengamati ekspresi yang ditunjukan Drago. Tak terlihat kebohongan sama sekali. Lelaki yang di depannya kini bukanlah anak kecil lagi yang dulu dia gendong, dia cukup dewasa dan pintar untuk menyelidiki kebenaranya.


"Rion, Ibu sangat merindukanmu. Apa kamu baik-baik saja?"


Meysa langsung mendekati Drago. Entah benar atau salah, dia sangat mengkhawatirkan putra semata wayangnya itu. Mereka malah lupa hendak mengintimidasi Drago tentang Freya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ibu? Ibu tidak lupa meminum obatnya kan?"


Di saat Meysa dan Drago sedang berbasa-basi melepas kerinduan, ponsel Firo berdering. Rupanya ada telepon dari Detektif Co, dia mengatakan kalau dia sedang melakukan penyamaran demi menangkap salah satu komplotan yang mengirimkan ganja di toko online Firo.


"Mey, aku tak bisa ikut menemanimu. Untuk sementara, tinggal di sinilah dulu bersama Rion. Barusan Detektif Co menghubungiku, ada tersangka baru. Sebentar lagi dia akan menangkapnya agar tahu siapa ketua mafia mereka. Aku yakin ketua mereka dulunya bekerja sama dengan ayahku dan Sony," kata Firo.


Meysa awalnya sempat khawatir. Namun setelah Firo mengatakan akan baik-baik saja karena bersama Detektif Co, Meysa pun membolehkannya pergi.


"Aku akan menjaga Ibu, Ayah. Jangan khawatir."


Firo tersenyum merasa lega. Meskipun banyak yang dia belum tahu tentang rahasia Drago kenapa memiliki apartemen dan tentang Freya, dia pun terpaksa meninggalkannya. Sekarang lebih penting, karena sebentar lagi dia akan menangkap salah satu dari mereka. Dia ingin tahu apa dibalik tulisan di buku merah ayahnya. Tuan Bram mengatakan kalau Firo memiliki saudara lain dari ibunya, dan dia salah satu mafia yang berperan penting.


***


Di tempat lain Detektif Co sedang menyamar menjadi seorang waria, dia sangat cantik layaknya wanita sungguhan yang akan melayani tamunya. Kebetulan tamu yang akan dia layani adalah seorang pengusaha penyuka sesama jenis.


"Tuangkan penuh saja, Carla. Aku sangat suka yang penuh dan full," kata pengusaha berdasi merah, sedang merayu Detektif Co yang berubah menjadi Carla.


"Baiklah, Tuan. Aku pun sama. Apa Tuan ingin aku ambilkan lagi winenya? Sepertinya ini tak cukup untuk beberapa jam lagi," jawab Detektif Co dengan nada suara mendayu.


"Ah benar sekali. Apalagi ada satu lagi yang akan datang, aku ingin kamu juga melayaninya," kata pengusaha berdasi merah, "tapi hanya melayaninya di sini. Dia sepertinya tidak menyukai lelaki," imbuhnya lagi.


"Baik, Tuan. Aku akan pesankan, aku akan ambilkan wine terbaik di sini. Tenang saja aku sudah mahir memilihnya," kata Detektif Co dengan gemulai.


Lelaki berdasi mengedipkan satu mata sambil menepuk keras bokong Detektif Co. Untungnya walaupun dia lelaki, bokongnya cukup berisi. Sedangkan Detektif Co, dia cukup kaget walaupun dia sendiri sedang bersandiwara.


"Jangan terlalu lama, setelah dia datang segera puaskan aku," ucap pengusaha berdasi dibalas anggukan Detektif Co.


Berpuas-puaslah sekarang karena sebentar lagi Siena akan menangkapmu, gumam Detektif Co.


Di ambang pintu, Soren berjalan pelan sambil mengamati keadaan sekitar. Di dalam tas kerjanya sudah dia sediakan paket berisi ganja kering yang ditutupi berkas- berkas layaknya hasil laporan. Hanya untuk menutupi bagian atasnya saja.


Dia pasti orangnya? Gumam Soren saat melihat pria berdasi merah sedang duduk sambil memberikan kode lewat ponselnya. Soren langsung bergegas mendekati. Suasana kafe cukup gelap hanya lampu kedap kedip saja yang menyala, tapi Soren tahu siapa yang akan dia temui.


"Tuan Adnan, hasil laporannya sudah ada di dalam koper," bisik Soren pelan kemudian menukar koper yang dibawa lelaki berdasi.


"Siena, target sudah ada di lokasi. Segera meluncur ke TKP," ucap Detektif Co lewat telepon tidak jauh dari Soren duduk.