I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 33. Kedatangan Meysa



Berita kepergian Drago dari rumah Niki terdengar oleh Meysa di Singapore. Kebetulan kasus yang dialami Firo telah selesai diselidiki. Meskipun belum selesai total dan masih dalam pantauan. Firo sudah diperbolehkan pulang.


Saat itu juga Meysa dan Firo memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Demi keamanan, detektif Co ditugaskan untuk ikut dan memantau mereka di Indonesia.


"Terima kasih detektif Co, kamu sudah membantuku untuk mendapatkan izin pulang ke Indonesia," kata Firo.


"Itu sudah tugasku, Pak. Kebetulan ada seseorang yang harus aku temui di Indonesia."


Meysa masih merasa was-was. Diperjalanan tak hentinya Meysa memikirkan Drago. Sebenranya ada masalah apa sampai Drago memutuskan untuk keluar dari rumah adiknya.


***


"Mengenai Drago, aku sudah mengantarkannya ke rumah bapak," ucap Niki begitu Meysa datang dan bertanya di mana anaknya.


"Apa penyebabnya? Maafkan aku, Niki. Aku tak enak jadi menyusahkanmu."


Meysa membuka satu kotak perhiasan, kemudian memberikannya kepada Niki sebagi oleh-oleh dan hadiah terima kasihnya.


"Tak usah repot-repot, Kak."


"Tidak apa, ambil saja. Ini untukmu, aku membelinya sudah lama."


Karena dipaksa akhirnya Niki menyerah dan menerima satu set perhiasan dari Mey. " Terima kasih, Kak. Aku tidak menyangka kalau Rion akan keluar dari rumah ini karena seorang pembantu."


Kemudian Niki mulai menceritakan permasalahan Drago yang kepergok berdua di kamar mandi dengan Freya. Niki juga mengatakan, dia akan menerima Drago kembali kalau anak itu mau tinggal di rumahnya lagi.


"Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalian. Maafkan aku kalau belum maksimal menjaga Rion," kata Niki dengan raut wajah sedih.


"Tidak, harusnya aku yang meminta maaf. Terima kasih banyak, Niki sudah aku repotkan dengan Rion. Dia masih terlalu muda, ini salahku karena tak memantaunya sendiri."


Meysa mengerti dia pun meminta maaf dan berterima kasih banyak kepada Niki. Sekarang, yang ada dipikirannya kali ini adalah, dia harus cepat menemui Drago dan mempertanyakan masalah sebenarnya.


Sore itu juga, Meysa dan Drago bergegas langsung ke rumah bapaknya untuk menemui Drago. Sayangnya baru saja sampai, Mesya mendapatkan kabar kalau Drago sudah sudah tak ada di sana.


"Kenapa dengan anak itu? Bisa-bisanya berubah hanya karena perempuan yang baru dia kenal," gerutu Firo.


Meysa memegang tangan Firo. Menyuruh dia agar bersabar dan jangan berprasangka buruk dulu. "Jangan terbawa emosi. Kita belum mendengarkan sendiri dari Rion langsung."


"Tetap saja aku merasa tidak enak dengan Shaka. Bagaimana kalau sampai dia dan Calista tahu?" Firo terlihat sangat kecewa, dia tak habis pikir kalau itu benar, Drago sudah mencoreng nama baiknya, terlebih kalau perjodohan ini dibatalkan. Dia akan malu dan tak enak dengan Shaka.


"Sayang, anak kita masih terlalu muda. Mungkin dia sedang khilaf. Maklum pergaulan anak muda jaman sekarang sudah melebihi orang dewasa," kata Meysa lagi menenangkan.


Firo menggeleng pelan. Bukannya tenang, dia malah menyalahkan Drago. "Aku memang tidak pernah menikmati masa muda seperti orang pada umumnya. Tapi ini sudah keterlaluan. Harusnya dia jangan kabur. Aku tidak pernah mengajarkan dia sebagai lelaki yang pengecut."


Meysa menghela napas berat. Dia akhirnya diam dan tak meneruskan berdebat lagi. Suaminya sedang marah. Selama belum tahu kebenarannya, Meysa belum bisa membela anaknya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam. Dia yakin Drago tak melakukan perbuatan seburuk itu.


"Ada pesan dari Rion, kalau dia sekarang ada di apartemen miliknya," kata Meysa setelah membaca sebuah pesan di ponselnya.


Firo yang sedang menyetir langsung kaget. Dia tak tahu kalau anaknya memiliki uang, apalagi sebuah apartemen. Timbul tanda tanya besar di pikirannya. "Apartemen miliknya? Dari mana dia mendapatkan uang untuk membelinya?"


"Sebaiknya kita ke sana sekarang. Rion sudah memberikan alamatnya kepada kita," ujar Meysa sambil menunjukkan alamat yang dikirim Drago.


***


Di tempat lain di sebuah apartemen. Drago bersiap diri menyambut kedatangan orang tuanya. Drago sangat senang, karena akibat masalah ini orang tuanya mempercepat kembali ke Indonesia.


"Ting!Nung!"


Suara bel terdengar dari dalam. Drago segera bergegas, dia sangat tidak percaya kalau ibunya secepat itu sampai ke apartemennya.


"Ibu, aku sangat kang--"


Belum sempat meneruskan kalimatnya, Drago dibuat kaget karena kedatangan Freya yang sudah ada di depan pintu. Dari mana dia tahu alamat apartemennya? Lalu ada keperluan apa dia sampai mendatanginya.


"Maaf, aku datang ke sini mengagetkanmu. Gara-gara ayah belum membayar utang, pihak bank sementara menyita rumahku. Aku bingung harus ke mana sekarang. Tadi aku engga senagaja menemukan kartu namamu yang terjatuh," kata Freya seraya menyodorkan sebuah kertas kecil.


Drago meraihnya. Memang benar itu adalah kartu nama miliknya. Karena gara-gara dia gadis itu dipecat, mau tak mau Drago menyuruh Freya masuk.


"Masuklah," ucap Drago.


Freya masuk ke dalam. Mendudukkan diri di sofa ruang tamu. "Kamu harus bertanggung jawab karena membuatku dipecat," kata Freya tak mau berbasa-basi lagi.


Drago pun mengangguk. Yah, dia tak lupa. Hanya saja tak seharunya wanita itu datang ke apartemennya. Apalagi sekarang orang tuanya mau datang.


"Siapa bilang kamu dipecat? Terus kasih sudah menyelamatkanku."


"Apa maksudmu?" Freya balik bertanya.


"Kapan aku bilang sudah memecatmu? Katakan berapa uang yang dibutuhkan untuk menebus rumahmu? Aku akan memberikannya sekarang."


Drago sebentar lagi mengambil uang. Namun sebelumnya, Freya bertanya terlebih dahulu dan mencegahnya. "Jadi maksudmu aku masih bekerja untukmu?"


"Yah, kamu masih bekerja untuk menjadi pacarku," jawab Drago cepat.


"Tidak, aku tidak mau. Pekerjaan ini sangat beresiko. Kalau begitu aku mengajukan pengunduran diri. Aku minta gajiku sekarang." Freya sudah tak mau berurusan dengan Drago lagi. Dia datang ke rumah itu hanya ingin meminta gajinya. Setelah itu dia akan pergi dan mencari pekerjaan lainnya.


"Kamu yakin ingin berhenti bekerja?"


Baru saja Drago berucap. Bel apartemennya kembali berbunyi. Drago yakin itu pasti orang tuanya. Tak mau orang tuanya melihat Freya, dia menggendong gadis itu ke kamarnya.


"Kamu boleh beristirahat di sini. Di luar akan ada orang tuaku. Jangan keluar sebelum aku yang memintanya," ucap Drago.


"Kamu pikir aku wanita simpanan? Kamu gila, aku sudah mengundurkan diri." Freya memberontak, dia tak mau menuruti Drago lagi.


"Diam dan tetap tenang di sini atau aku tidak akan membayar gajimu?"


Sekarang Freya sudah ada di kamar Drago. Kalau tidak karena uang, mungkin dia akan lari detik itu juga. "Baiklah, aku setuju."


"Terima kasih Freya kamu sudah menolongku. Setelah ini aku akan menceritakan semuanya. Maaf sudah membawamu dalam masalah."