
Entah apa yang dipikiran Freya, tiba-tiba saja perempuan itu menyiram Drago dengan air es. Benar-benar di luar kendalinya.
Ini balasan untukmu karena sudah membuatku bajuku kotor, batin Freya tersenyum puas.
"Hah!" Drago mendengkus kesal begitu mengetahui seorang perempuan berani menyiram bajunya dengan air es. Baru pindah sekolah, dia sudah berurusan dengan perempuan aneh, pikirnya.
"Setidaknya kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat dibully tadi!" Freya kemudian berjalan tanpa rasa bersalah ke depan hendak meninggalkan Drago, ia hanya ingin meluapkan kekesalannya saja lalu berniat pergi.
Baru beberapa langkah perempuan itu berjalan, tangan Drago dengan cekatan menarik tas gendong Freya dari belakang, "Berhenti! Kamu tidak boleh pergi sebelum bajuku kamu keringkan!"
Freya yang terhenti langkahnya langsung menoleh ke belakang, "Hai, Lepaskan tanganmu dari tasku!" teriak Freya, "kita sudah impas. Tadi pagi kamu sudah membuat bajuku basah kuyup dan kotor."
Tangan kokoh milik Drago masih menarik tas Freya hingga perempuan itu hampir terjatuh, "Itu bukan urusanku!"
Salah kamu sendiri kenapa jalan di dekat kubangan air. Dasar perempuan aneh! batin Drago.
Freya berbalik arah menatap sinis ke arah Drago menyilangkan tangannya di depan dan menarik ujung bibirnya, "Aku tidak akan mengeringkan bajumu!"
Mereka saling menatap sinis satu sama lain. Freya tadinya tak ingin membalas Drago. Akan tetapi, dia begitu kesal saat di kelas tadi teman-temannya membully habis-habisan dan Drago yang menjadi penyebabnya hanya diam saja.
Tidak jauh dari tempat mereka berselisih, seorang perempuan adik kelas mereka telah memperhatikan dari jauh. Dia berjalan mendekati Drago.
"Kakak kenapa tak bilang kalau sudah masuk sekolah? Aku kira kakak akan masuk besok," kata gadis itu menghentikan perseteruan Drago dengan Freya.
Gadis dengan rambut panjang yang sudah pasti cantik parasnya mendekati mereka berdua. Calista Anastasya, namanya. Gadis itu adalah siswi tercantik di Ganesha internasional School. Selain cantik, Calista merupakan siswi yang cerdas. Kesempurnaan hampir dimilikinya, cantik, cerdas, bahkan Calista berprofesi sebagai seorang model remaja. Kepopulerannya sudah sangat terkenal di sekolah.
Drago membuka kembali helm di kepalanya. Kemudian merapihkan rambutnya yang terlihat acak-acakan.
"Cali," ucap Drago pelan. Jelas ia mengenalinya, Calista memang sudah dijodohkan dengannya dari kecil.
Bahkan Freya pun tahu siapa Calista, dia begitu terkejut ketika Calista mendekati mereka. Freya benar-benar mengidolakan kecantikan Calista yang menjadi tolak ukur kecantikan remaja bagi siswi GIS. Freya terperangah tak berhenti melihat wajah Calista yang begitu cantik.
Dilihat dari postur tubuhnya, Calista lebih tinggi dan menarik dibandingkan Freya. Lekuk tubuh dan wajah yang dimiliki Calista begitu sempurna perpaduan antara indo spanyol.
"Aku minta maaf kalau kakak punya salah," ucap Calista sopan, ia benar-benar seorang gadis yang lemah lembut, "Perkenalkan nama aku Calista," tambahnya.
Freya benar-benar terkesima ketika seorang Calista siswi terpopuler di sekolah mau berbicara dengannya mengajak berjabat tangan, "Nama aku Freya, aku sudah mengenal Anda, Nona."
Jelas semua siswa tidak ada yang tidak mengenal seorang Calista.
"Senang berkenalan dengan Anda." Calista kembali tersenyum.
Dia benar-benar sangat cantik kalau dilihat dari dekat. batin Freya.
"Kakak, aku ingin berbicara dengan mu," ucap Calista kepada Drago tak ingin berbasa-basi terlalu lama.
Freya yang melihat keduanya merasa canggung dan segera pamit meninggalkan mereka berdua, "Aku sudah memaafkan dia. Sepertinya ini adalah salah paham dan aku harus pulang," ucap Freya memundurkan langkahnya lalu berjalan menjauh.
"Terima kasih," balas Calista.
Freya tahu siapa dirinya, kalau bukan kakek Calista yang memberinya beasiswa, tak mungkin ia bisa bersekolah di GIS. Melihat Calista mengenal Drago membuatnya menurunkan egonya agar tak berurusan lagi dengan lelaki yang bernama Drago.
Drago yang melihat itu tersenyum miring ke arah Freya. Menurut Drago, Freya sedang berusaha mencari perhatiannya saja. Setelah Calista menyahut, Freya akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tidak, itu hanya masalah sepele, lupakan saja."
"Bagaimana kabarmu, Kak?" Calista mulai berbicara empat mata dengan Drago, "Bagaimana kabar bibi Mey?"
Mereka berdua sudah enam bulan lamanya tidak bertemu. Terakhir mereka bertemu ketika Calista melakukan pemotretan di luar negeri itu pun hanya bertemu beberapa menit, Drago tidak menyukai kamera terlalu mengekspos dirinya ketika bersama Calista saat itu, ia lalu meninggalkan Calista di cafe karena terlalu banyak wartawan yang berlalu lalang mengambil foto mereka.
"Ibu sudah cukup baik sekarang. Bagaimana kabarmu?" tanya Drago. Hubungan mereka sebenarnya tidak terlalu dekat. Drago yang tinggal di luar negeri tak sering bertemu dengan Calista berbeda dengan Elard yang sering bersamanya.
"Aku baik-baik saja, kak. Bolehkah aku minta sesuatu kepadamu?" Calista berdiri di depan Drago, menatap lekat wajah tunangannya.
"Katakan padaku apa yang kamu inginkan," sahut Drago.
"Antarkan aku pulang," jawab Calista.
"Naik motor?" tanya Drago memastikan gadis itu.
Calista mengangguk.
"Kalau begitu, naiklah!" ucap Drago.
Calista mulai menaiki motor Drago, mendudukkan pantatnya di jok belakang.
"Maaf kemarin aku tak bisa menjemputmu di bandara, kak" Calista memeluk pinggang Drago saat lelaki itu melajukan motornya. Drago sempat kaget ketika tangan itu tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Tidak apa, lagian ada El yang menjemput ku." Sambil terus melajukan motornya, mereka berdua terus berbicara.
Sebenarnya Drago sudah menganggap Calista seperti adiknya sendiri, apalagi Drago merupakan anak tunggal dan tidak memiliki adik. Sayangnya orang tua mereka lebih menginginkan agar bersatu. Pernikahan mereka pun sudah ditentukan akan dilakukan ketika Calista lulus SMA.
"Kakak tidak merindukanku?"
Pertanyaan Calista membuat Drago tersentak.
"Tentu saja!" sahut Drago.
Drago sangat menghormati keputusan orang tuanya mengenai perjodohan dengan Calista, walaupun sebenarnya ia ingin menolak. Drago hanya ingin membahagiakan ibunya.
Sepuluh menit kemudian motor Drago telah sampai di depan rumah Calista. Gadis itu tinggal bersama nenek dan kakeknya. Orang tua Calista sangat sibuk mengurusi kedua adiknya yang lain.
Drago melangkah masuk bersama Calista kedalam rumahnya yang sangat besar. Terakhir Drago memasuki rumah itu saat usia balita ketika berkunjung bersama orang tuanya.
"Drago, bagaimana kabarmu? Nenek dengar kamu datang kemarin dari Calista," seru nenek Calista menyambut Drago.
"Baik, Nek. Tadi malam aku baru sampai rumah Bibi Niki," sahut Drago.
"Apa masalah di usaha ayahmu sudah selesai?" tanya nenek Calista.
Mendengar pertanyaan itu, Drago terkesiap. Dia sendiri tak tahu kalau usaha ayahnya sedang dalam masalah.
"Maksud Nenek?"