I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 20. Membeli Hadiah



"Pakai helm dulu. Temani aku memilihkan hadiah sekarang," kata Drago sambil menyodorkan helm cadangan yang dia simpan di jok motor.


Freya menurut kemudian memakainya. Helm sudah terpasang, saat itu juga Freya beranjak naik ke boncengan. Dia nampak canggung menaiki motor bersama Drago.


Jangan terlalu dekat! Dia adalah monster, batin Freya berusaha menjaga jarak agar tubuh mereka tak berdekatan.


Drago melajukan motornya dengan kecepatan cukup kencang. Dia tak pedulikan Freya yang ada di belakang yang sedang ketakutan, berusaha menstabilkan tubuhnya agar tidak terjatuh apalagi bersentuhan dengan Drago.


"Kyaaa!" teriak Freya kencang.


Bug! Rupanya akibat laju motor Drago yang terlalu cepat, ditambah Freya yang tak berpegangan pada lelaki itu membuatnya hilang keseimbangan. Tak sengaja gadis itu terjatuh ke pinggir jalan.


"Woii, berhenti! Pasanganmu jatuh tertinggal di sana," teriak pengendara lainnya berkata kepada Drago setelah dia mengklakson berulang kali.


Drago menoleh, segera dia pelankan laju motornya. Saat kedua kali pengendara tersebut berteriak, akhirnya Drago mengerti dan segera melihat ke belakang. Dari jauh Drago melihat Freya sedang ditolong banyak orang. Tak mau terjadi yang diinginkan, akhirnya Drago berbalik arah dan mendekati Freya.


"Dasar cowok macam apa kamu! Lihat cewekmu jatuh malah tidak tahu!" bentak seorang ibu muda memarahi Drago.


Drago langsung turun dari motor dan menghampiri Freya. Untung saja gadis itu tak mengalami luka yang parah karena menggunakan helm, hanya saja lututnya tergores aspal sedikit. Yang paling utama, Freya sedang syok hebat akibat terjatuh tadi.


"Kenapa kamu diam saja? Lihat gadis ini terluka, kamu harus tanggung jawab. Kalian sepasang kekasih, bukan? Kenapa gadis ini bisa terjatuh dari motormu? Jangan-jangan kalian sedang bertengkar dan kamu tak mau memeluknya?" ucap seorang lagi memarahi Drago dan Freya.


Drago dan Freya saling melihat satu sama lain. Daripada dikeroyok, Drago lebih baik diam saja saat orang-orang tersebut memarahinya. Sebaliknya mereka malah membela Freya.


"Benar kan dia pacarmu?" tanya ibu muda lagi.


Drago mengangguk, kemudian dia merangkul Freya dan berpura-pura menjadi pacarnya. "Iya, aku pacarnya. Kami sedang bertengkar. Mungkin cewekku sedang PMS dan salah paham denganku, makanya dia tak mau memelukku. Ya kan, Sayang," ucap Drago.


Freya tersentak, dia bertambah syok saat rangkulan Drago semakin erat, seakan memberi kode Freya agar cepat mengatakan iya.


"Aha, iya. Kami tadi sedang bertengkar, gara-gara dia telat menjemputku," ucap Freya malu-malu.


"Heum, baru saja pacaran telat menjemput saja sudah ribut. Lain kali tak usah diperebutkan hal kecil seperti itu, apalagi sampai membahayakan nyawamu sendiri. Lihat lututmu terluka, kalau saja tadi ada mobil di belakang, sudah habis tubuhmu tertindas," kata ibu muda menanggapi. Dia juga memberikan wejangan kepada Freya dan Drago agar hubungan mereka semakin harmonis.


"Lihat buktinya kami berdua. Jangan mempermasalahkan hal-hal sepele agar hubungan terus harmonis. Kami berpacaran sejak SMA dan memutuskan menikah setelah kami lulus. Karena aku sabar, suamiku sangat menyayangiku sampai sebentar lagi akan mempunyai tiga anak," ucap Ibu muda sambil mengelus perutnya, "dia sangat tampan. Saranku, jangan sampai kamu melepaskan dia," bisiknya lagi kepada Freya sambil tersenyum.


Drago dan Freya hanya mengangguk pelan mendengarkan cerita ibu muda. Mereka masih pura-pura seperti sepasang kekasih.


"Terima kasih, Bu, sudah menolongku. Aku doakan semoga kelahiran anak ketiganya lancar," kata Freya sebelum mereka kembali meneruskan perjalanan.


Sebelum motor mereka melaju lagi, ibu muda menyuruh Freya agar memeluk Drago dari belakang. "Ingat peluk erat pacarmu jangan sampai lepas."


Dengan sangat terpaksa, Freya pun terpaksa memeluk Drago dari belakang. Dia merasa canggung karena baru kali ini berdekatan dengan seorang lelaki.


Di tengah jalan ketika sudah jauh dari orang-orang tadi, Freya langsung melepaskan pelukannya. Dia yang memeluk, tapi dia juga yang salah tingkah. Tak mau Freya jatuh lagi, Drago pun lebih memperlambat laju motornya.


"Yah, aku tahu," balas Freya.


Tiga puluh menit berlalu sama-sama diam di motor, mereka akhirnya sampai di sebuah mall besar. Drago memang sengaja mendatangi tempat itu. Rencananya dia ingin memberikan hadiah permintaan maaf kepadamendatangiarena tak menemaninya malam ini. Sebagai ucapan maafnya lagi, dia ingin mengajak Calista dinner berdua.


"Menurutmu, hadiah apa yang cocok diberikan sebagai permintaan maaf untuk perempuan?" tanya Drago ketika mereka sudah sampai depan sebuah toko perhiasan.


Freya diam sejenak, memikirkan jawaban pertanyaan dari Drago. Kalau dia yang ditanya sudah pasti jawabannya uang, karena dia sedang membutuhkan uang untuk menebus ayahnya.


"Eum, apa dia suka boneka?" tanya Freya, kemudian dijawab dengan gelengan kepala Drago.


"Perhiasan! Wanita biasanya sangat menyukai perhiasan," kata Freya memberikan usul.


Drago tersenyum, dia setuju dengan usulan Freya dan bergegas memilih kalung hadiah untuk Calista, tentunya dengan uang hasil kerjanya sendiri.


Di dalam toko perhiasan, Drago kembali bingung memilih kalung mana yang cocok untuk Calista. Dia kembali meminta pendapat Freya.


"Baiklah, aku pilih yang ini," kata Drago kepada pelayan toko setelah dia putuskan memilih sebuah kalung berbandul dengan inisial huruf "C"


Freya menjalankan tugasnya dengan profesional. Dia bahkan tak mau tahu siapa perempuan yang akan diberikan Drago sebuah hadiah. Perhatian Freya malah beralih mengamati orang yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri, sedang melihat video permainan game mafia simulator.


Bukankah itu Hyuna? Yah, itu karakter punyaku. Kenapa dia bisa melihatnya di aplikasi yu klub? Aku bahkan belum pernah mempublikasikannya ke mana pun.


Freya tak pedulikan Drago, malah keluar dan mendekati orang tersebut. Dia sangat penasaran siapa yang berani mengupload permainan karakter Hyuna di media sosial.


"Adek, kamu menyukai permainan itu ya? Aku juga sangat menyukainya. Oh, iya siapa karakter berbaju hitam itu, sepertinya aku belum mengenalnya." Freya langsung saja bertanya ke intinya kepada anak lelaki tersebut.


Anak lelaki sangat ramah langsung menjawab pertanyaan dari Freya, "Kakak juga suka game ini? Kalau suka kenapa tidak tahu karakter Hyuna? Dia kan sangat terkenal di media sosial," jawab anak lelaki itu polos.


"Benarkah? Kenapa aku baru tahu? Aku hanya sering memainkannya tapi tidak tahu kalau ada videonya di yu klub," jawab Freya.


Anak lelaki itu lalu menjelaskan kalau karakter Hyuna dan Robin sangat terkenal di media sosial, khususnya di situs web yang berisi banyak video itu. Sudah banyak followers yang mengikuti cerita tentang Robin dan Hyuna, menganggap keduanya adalah karakter mafia romantis di game tersebut.


Benarkah? Aku baru tahu kalau karakter game-ku sangat terkenal. Tapi siapa yang membuat Hyuna menjadi terkenal?


"Teman-teman cewekku banyak yang mengidolakan karakter Robin, apalagi saat dia menembak mafia lainnya. Tapi aku sebagai cowok, lebih suka karakter Hyuna saat bermain, dia benar-benar sangat kuat. Aku yakin yang memainkannya pun pasti kuat aslinya," kata anak lelaki tak berhenti memuji karakter Hyuna.


"Benarkah? Sekeren itu?" tanya Freya.


"Yah, bahkan banyak yang menunggu agar kisah mereka dijadikan komik. Kalau iya aku pasti akan membelinya berapa pun harganya."


Freya semakin dibuat berbunga-bunga. Dia sangat penasaran dan ingin melihatnya nanti saat pulang.


"Adik kecil, bolehkah aku tahu nama pembuat kontennya?"