I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 28. Jadilah Pacarku Sekarang!



Sinar matahari yang terik melewati sela jendela, membangunkan Freya dari tidur nyenyaknya. Tidur panjang setelah Siena memberikan suntikan obat tidur agar dia berhenti meracau tadi malam.


"Kenapa mataharinya silau sekali? Bukankah sekarang masih malam? Hoaem," ucap Freya sambil menutup mulut akibat menguap.


Masih dengan mata menyipit karena silau. Freya meraih jam di dekat meja kamar, membuka matanya pelan dan melihat waktu di jam tersebut. "Hah, sudah jam dua belas siang?"


Mata Freya langsung membulat sempurna. Buru-buru dia mengambil ponsel dan segera menghubungi wali kelasnya. Freya sudah dipastikan bolos sekolah hari ini dan dia tak boleh mengulangnya sebanyak lima kali. Karena kalau iya, GIS akan menghapus beasiswa yang diterima Freya.


Satu jam kemudian, ia telah sampai di kediaman Niki. Walaupun jam kerjanya belum dimulai, Pak Gun menyuruhnya untuk membersihkan kamar Drago. Freya sama sekali lupa siapa yang menolongnya tadi malam.


"Kamu boleh memulai pekerjaanmu sekarang, Nona Freya," ucap Pak Gun.


Freya mengangguk pelan, tak mau membuang waktu segera mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kamar Drago.


"Wah sepertinya barang-barang di kamar ini bertambah banyak," ucap Freya sambil melihat ke sekeliling ruang kamar Drago.


Di dalamnya sudah tersedia satu set komputer bersama perangkat lainnya. Alat-alat tersebut adalah alat tempur Drago untuk bekerja. Ada kamera, alat untuk mengisi suara, lampu yang sedang tidak menyala dan beberapa perangkat lainnya untuk mempermudah pekerjaan Drago selama membuat konten.


"Ini semua sangat keren. Kapan aku bisa memiliki monitor sebesar ini? Kursinya juga sangat empuk, aku pasti betah berlama-lama duduk di sini untuk bermain game," ucap Freya lagi sambil duduk, sembari membersihkan barang-barang Drago.


Semua barang-barang milik Drago berwarna merah dengan lampu hiasan warna warni ketika dinyalakan. Freya ingin mencoba. Sayangnya Freya tak bisa membuka laptop dan beberapa alat monitor lain, karena Drago sengaja mengunci memasang kata sandi yang rumit.


Ternyata dia juga seorang gamers, batin Freya.


Tangannya masih sibuk membersihkan debu yang menempel, sambil mencuri-curi waktu berfoto diri di depan semua peralatan milik Drago.


Jepit rambut ini bukannya punyaku? Kenapa dia menyimpannya? tanya Freya dalam hatinya.


Yah, jepit rambut yang dia gunakan saat bekerja di bandara. Jepit itu tertinggal di tubuh Drago saat mereka berciuman. Lebih mencengangkan Freya, ternyata Drago malah menyimpannya di depan toples kaca.


"Jangan pegang benda itu!" Sebuah suara mengagetkan Freya. Sontak, dia pun langsung melepas jepit rambut yang tak sengaja terlepas dari tangannya ke lantai.


"Kamu sudah pulang?" tanya Freya dengan ekspresi kaget.


Drago berjalan masuk ke dalam kamar, memperhatikan Freya saksama sambil tersenyum penuh ironi.


Secara tak sengaja, mereka berdua mengambil jepit rambut tersebut dalam posisi tangan saling menyentuh.


"Maaf, aku tak sengaja menjatuhkannya," kata Freya pelan.


Bukan membalas ucapan Freya, Drago malah meraih pergelangan tangan Freya dan melihat gelang yang dipakai Freya. Motif gelang itu sama persis dengan jepit rambut yang dia pegang sekarang.


"Kenapa motifnya bisa sama dengan jepit rambut ini?" tanya Drago.


"Yah, karena ini satu set," ucap Freya, "mmm, maksudku, gelang dan jepit ini banyak dijual satu set di toko aksesoris termasuk dengan anting yang aku pakai sekarang."


Drago diam beberapa saat. Bukan masalah organisasi kriminal tersebut. Akan tetapi, ketika dia tahu Freya memilikinya, itu berarti dia lah wanita yang menciumnya di bandara kemarin.


Drago mendekatkan wajahnya di depan Freya, membuat gadis itu mundur sejengkal. "Di toko mana kamu membelinya?


"A-aku mendapatkannya dari ayahku," ucap Freya terbata yang membuatnya salah tingkah ditatap seperti itu.


Ayah memberikannya sebagai kenang-kenangan dari ibuku, batin Freya. Dia ingat, ayahnya memberikan benda itu saat dia menginjak remaja. Kata Soren, aksesoris itu adalah benda yang dipakai ibunya sebelum meninggal.


"Kalau begitu ... jangan-jangan kamu yang menciumku di bandara kemarin?" tanya Drago terus menatapnya lekat.


Glek. Freya menelan ludahnya. Sangat kaget ketika Drago mempertanyakan masalah ciuman kemarin. Padahal dia sudah sembunyikan dan tak mau membalas masalah itu apalagi dengan Drago.


"Ciuman?" Freya mulai ketakutan, apalagi Drago terus memajukan wajahnya.


Mereka saling bersitatap. Entah karena angin apa yang membuat Drago semakin suka menatap Freya, menggoda gadis di depannya supaya ketakutan. Apalagi dia akhirnya tahu siapa yang mencuri ciuman pertamanya kemarin, dan pelakunya adalah Freya.


Ternyata benar kata El, kalau Freya sangat cantik. Bisa-bisanya dia mencuri ciuman pertamaku kemarin, batin Drago tersenyum smirk.


"Kalau kamu diam, berarti benar kamu yang telah menciumku paksa kemarin," kata Drago tersenyum tipis sambil menyipitkan matanya sedikit. "Kamu harus bertanggung jawab!"


"Hah!" Mata Freya membulat sempurna. Apalagi saat Drago hendak menciumnya balik, "Apa yang akan kamu lakukan?" teriaknya lagi sambil mendorong tubuh Drago.


"Baiklah! Aku minta maaf karena kemarin aku tak sengaja menciummu. Itu semua gara-gara Bing, bocah pencuri itu," kata Freya lagi membela diri.


"Ternyata dunia ini begitu sempit." Drago tersenyum kalau memikirkan kejadian kemarin, "aku tidak mau tahu. Kamu harus bertanggung jawab sekarang!"


Freya menjauhkan diri segera menghindar. "Maksudmu? Sudah kubilang kalau aku tak sengaja menciummu kemarin."


Drago terkekeh mendengar jawaban Freya. "Aku tak peduli! Aku tahu siapa kamu. Aku tahu kamu sedang banyak membutuhkan uang sekarang, bukan?"


Freya mengangguk pelan. Namun setelahnya, dia sadar dan malah menutup tubuhnya dengan ke dua tangan. Dia pikir, Drago adalah lelaki yang mesum dan akan membeli tubuhnya.


"Kamu pikir aku ingin menikmati tubuhmu?" Drago menekan kening Freya dengan telunjuknya, "aku akan memberikanmu banyak uang. Asalkan ... kamu mau berpura-pura menjadi pacarku mulai sekarang."


"Apa?!"


Freya kembali menelan ludah. Dia tak habis pikir kenapa Drago menyuruhnya berpura-pura menjadi pacar. Sedangkan dia sendiri tahu, kalau Drago memiliki tunangan.


"Tapi, bukankah kamu sudah memiliki ...."


"Turuti saja perintahku mulai sekarang dan aku akan memberikan apa pun maumu. Berapa banyak uang yang kamu inginkan, tulis saja di sini. Tapi dengan syarat, kamu harus berpura-pura menjadi pacarku mulai sekarang!" kata Drago sambil memberikan sebuah kertas.