
Sepulang sekolah sesudah mengganti baju, Freya langsung menuju tempatnya bekerja. Mulai sekarang ia harus pintar-pintar membagi waktu untuk bekerja dan sekolah. Mencari uang untuk membayar hutang ayahnya adalah tujuan utama Freya saat ini.
Dilihat lagi foto Freya bersama ayahnya yang ada di atas nakas. Foto masa kecil Freya dengan Soren saat ia berusia tujuh tahun. Gadis itu tak mengenal ibunya. Menurut Soren, ibunya meninggal saat melahirkan Freya.
Freya mengusap air mata yang mulai menetes, mengingat akan ayahnya yang sedang menjadi jaminan hutang. Setiap hari salah satu anggota mafia memberikan foto dan video Soren yang sedang beraktifitas di dalam penjara pribadi. Mereka memperlakukan ayahnya secara manusiawi dengan memberi makan tiga kali.
"Tunggu aku ayah, aku akan berusaha mendapatkan uang itu!" ucap Freya pelan mengusap foto ayahnya.
***
Tugasnya hari ini merapihkan kamar milik majikan yang belum pernah ditemuinya itu. Merapihkan kamar tidur yang masih terlihat bersih dan rapi.
Freya menyemprotkan pengharum ruangan, menurut cerita Pak Gun, tuan mudanya sering kesulitan tidur sehingga para pelayan harus benar-benar membuat wangi dan nyaman kamar.
"Padahal kamar ini sudah sangat bersih dan nyaman tetap saja harus dibersihkan," ucap Freya pelan.
Saat Freya merapihkan pakaian di lemari, tak sengaja ia melihat seragam yang mirip siswa di sekolahnya. Freya yang penasaran memastikan kembali logo sekolah di atas saku baju seragamnya itu.
'Bukankah ini seragam sekolah GIS? Kalau iya berarti aku sudah mengenalnya'
Benar saja, ternyata itu seragam milik siswa GIS. Freya terus menduga siapa yang menjadi tuan mudanya itu. Apakah ia sudah pernah bertemu dengannya di sekolah. Jelas pikirannya bukan kepada Elard. Karena kemarin El mengatakan Freya bekerja untuk sepupunya.
Derap langkah kaki terdengar dari luar, seperti terdengar mendekati kamar.
"Terima kasih Paman Gun atas bantuannya." Terdengar suara lelaki dari arah pintu.
Dari suara sepertinya Freya mengenalnya, suara pria itu tidak asing di telinganya. Karena begitu penasaran ia mengintip dari dalam kamar.
"Enam bulan lagi, Denis akan berlibur disini. Dia sudah sangat kangen dengan Anda, tuan muda," sahut Pak Gun. Mereka masih berdiri di depan pintu.
"Apa tuan muda masih sering mengalami insomnia?" tanya Pak Gun lagi.
"Sepertinya paman? Entahlah mungkin terlalu banyak pikiran semenjak ibu sakit."
"Kalau begitu beristirahatlah dulu tuan muda, Kami sudah mempersiapkan semua keperluan anda di dalam kamar," ucap Pak Gun.
Freya yang mengintip begitu kaget begitu tahu kalau lelaki yang jadi tuan mudanya adalah siswa baru di kelasnya, lelaki yang tadi siang berurusan dengannya. Buru-buru Freya berlari mencari tempat persembunyian ketika Drago hendak masuk ke kamar.
Bagaimana ini? Freya terlihat sangat panik. Dicarinya tempat persembunyian yang sangat pas yang paling aman. Freya berpikir sejenak dan akhirnya masuk ke dalam lemari.
Di dalam lemari, Freya mengintip di cela pintu. Bersembunyi di dalam agar tak ketahuan Drago, ia begitu ketakutan. Berpikiran bagaimana jadinya kalau Drago sampai tahu kalau gadis yang berseteru dengannya tadi siang adalah pembantu di rumahnya.
Apa yang akan dia lakukan? Oh tidak dia akan membuka bajunya! batin Freya mencoba menutup matanya ketika melihat Drago sedang membuka bajunya.
Drago membuka seragamnya di dalam kamar, satu persatu dibuka dan hanya menyisakan celana pendek yang dipakainya. Sekarang Drago sudah bertelanjang dada, duduk di atas tempat tidur yang menghadap ke lemari.
Oh tidak, mataku sudah ternoda! batin Freya.
Freya langsung menutup matanya melihat pemandangan yang baru dilihatnya, baru terlihat dada bidang milik Drago saja ia sudah sangat ketakutan dan berkeringat.
Drago tidak langsung mandi, memutuskan untuk tiduran sejenak di atas kasur. Lalu mengambil handphonenya memulai bermain game di ponsel miliknya.
Kenapa dia mala tiduran di atas tempat tidur? Kalau begini caranya bagaimana aku bisa keluar? gerutu Freya sembari mengatur nafasnya di dalam lemari.
"Hatci!"
Tiba-tiba saja Freya bersin, hidungnya sangat gatal ketika bersentuhan dengan baju Drago di lemari. Mendengar suara aneh dari dalam lemari, Drago begitu kaget langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Suara apa itu?" teriak Drago ketakutan.
Freya langsung menutup mulut dan hidungnya, pikirnya sebentar lagi ia akan ketahuan.
Sepertinya suara itu berasal dari dalam sini? batin Drago menatap ke arah lemari.
Dibukanya pelan pintu lemari miliknya secara hati-hati. Sementara Freya begitu gemetar bersiap diri menghadapi kemarahan tuan mudanya itu.
Sebentar lagi hidupku akan berakhir disini! batin Freya takut menundukkan kepalanya di atas lutut.
"Siapa kamu?" teriak Drago ketika membuka lemari ada wanita di dalamnya sedang menunduk tak memperlihatkan wajahnya. Jelas Freya tak berani menampakan mukanya.
"Turun! Aku bilang siapa kamu?" teriak Drago sekali lagi sambil menarik tangan Freya, "Keluar."
Sayangnya tarikan tangan Drago begitu kuat hingga mereka sama-sama terjatuh di dalam kasur.
"Maafkan aku!"
Freya menutup matanya malu melihat Drago yang hanya memakai celana pendek.
"Kamu! Bukankah kamu gadis yang menyebalkan di sekolah?" bentak Drago langsung mengambil selimut agar menutupi dadanya yang terlihat terbuka.
"Kenapa kamu ada disini? Apa kamu sengaja mengikutiku?" Drago kembali menegaskan ucapannya.
"A-aku, as-ssisten rumah tangga di sini!" seru Freya begitu ketakutan, ia pasrah kalau hari ini akan dipecat.
Drago yang mendengar itu menahan tawanya, tidak percaya kalau gadis yang berseteru dengannya tadi siang ternyata asisten rumah tangganya.
"Jadi kamu adalah asisten rumah tanggaku? Lalu kenapa tadi siang kamu berani menyiramku?" geram Drago sembari memakai bajunya lagi.
"Buka matamu! Aku sudah memakai baju!" ucap Drago lagi.
Freya menghembuskan nafasnya kasar. Wajahnya bersemu merah, antara takut dan gemetar.
"Maafkan aku Aku tidak tahu kalau Anda adalah majikanku! Aku mohon jangan pecat aku! Aku baru bekerja di sini satu hari." Mau tak mau ia harus menurunkan egonya agar tak dipecat, ia harus cepat mengumpulkan uang untuk menebus ayahnya.
Sial! Kenapa harus cowok ini yang menjadi majikanku? Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bertemu dengannya? gerutu Freya dalam hati.
Drago tertawa lepas mendapati kenyataan itu. Ia melihat wajah Freya memikirkan apa yang akan ia lakukan padanya.
Sepertinya aku akan punya hiburan baru, batin Drago.
"Baiklah aku tidak akan memecatmu! Tapi kamu tetap bersalah karena sudah mengintip dan melihat tubuhku secara percuma?" ucap Drago tersenyum sinis.
Melihat tubuh Anda? tapi itu tak di sengaja, lagipula aku sudah menutup mataku? batin Freya sedikit kesal.
"Aku tidak akan memecatmu, asal dengan syarat ...."