I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 36. Pacar Atau Teman?



"Cokie, kamu terlihat cantik sekali malam ini," kata Siena sedikit menyindir.


Detektif Co menunjukkan raut ketidaksukaan. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mana mungkin dia mau merubah dirinya menjadi waria dan berpura-pura merayu lelaki hidung belang. "Tapi kamu tetap lebih cantik, Siena."


Dari tadi sebelum sampai ke kantor polisi, Siena berusaha menahan tawanya. Sebagai seorang polisi intel dia harus menjaga kewibawaannya di depan tawanannya, apalagi tadi dia sedang mengemban tugas berat menangkap sindikat pengedar ganja.


Sekarang Siena dan detektif Co sedang beristirahat sejenak di ruangannya. Saat itu juga Siena langsung melepas tawa terbahak, mengingat peran Detektif Co saat menyamar menjadi waria tadi.


"Sepertinya aku harus banyak belajar darimu bagaimana caranya menggoda lelaki yang tepat. Kau tampak manis dan seksi tadi, ha, ha ...."


Wajah Detektif Co mendadak masam. Kemudian membersihkan seluruh riasan wajahnya, melepas busa dan B H yang dia gunakan. Jelas sudah Siena melihat yang dilakukannya tadi, saat dirinya diremas manja bagian bokong dan dadanya oleh lelaki berdasi. Pasti sangat memalukan dilihatnya, gumam Detektif Co.


"Sudah kukatakan dari dulu kalau bagian bokongmu itu memang sintal dan lebih berisi seperti milik wanita. Kenapa kamu malah menambahnya lagi dengan busa? Pantas saja Pak Ong tadi terlihat sangat gemas saat mere masnya, ha, ha ..."


"Hentikan ocehanmu, Siena. Apa kamu lupa kita sedang ada di kantor? Kalau atasanmu mendengar, kita bisa dipindahkan tugas lagi," kata Detektif Co terlihat kesal. Terlepas dari pekerjaan mereka, keduanya memang sudah akrab dari dulu sejak masih kuliah. Pekerjaan mereka hampir sama. Sayangnya Detektif Co lebih memilih menjadi detektif swasta dibandingkan bekerja di pemerintahan menjadi intel seperti Siena.


"Kenapa kamu kembali ke Indonesia dan mau menerima tugas ini? Bukankah kamu dulu pernah bilang tak mau berurusan lagi dengan kasus narkoba? Kamu bilang hanya ingin menangani kasus mandiri seperti menyelidiki perselingkuhan?" tanya Siena kembali menyindir.


Detektif Co tersenyum menyeringai. Dia ingat pernah berkata seperti yang dikatakan Siena tadi. Setahun yang lalu keduanya pernah melakukan penyelidikan kasus yang sama. Kasus pembunuhan yang membuat mereka salah paham dan akhirnya membuat Detektif Co menjauh dari Siena dan tinggal di Singapore. Kini keduanya dipertemukan kembali dengan kasus paket ganja yang menimpa Firo. Detektif Co dipilih karena dia memiliki ketajaman di indera penciumannya.


"Kamu pasti tahu kenapa atasanmu meminta bantuanku?"


"Yah aku tahu karena indera penciumanmu cukup tajam. Karena hidungmu itu lebih mirip kucing dibandingkan manusia," kata Siena, "tapi sepertinya bukan itu alasan utamamu."


Detektif Co berjalan pelan mendekati Siena yang sedang berdiri. Kemudian berbisik di telinganya. "Kamu ingin tahu kenapa aku mau menerima pekerjaan ini?"


Siena mengangguk. Merasa tubuh Detektif Co terlalu mendekat membuatnya sedikit risih. "Tentu saja, Cokie."


Detektif Co menatap lekat Siena. Melengkungkan sudut bibirnya sambil berkata pelan, "Karena kamu. Yah, kamu Siena," ujar Cokie sambil mengedipkan sebelah matanya.


***


Di kamar Drago. Freya tak diperbolehkan pulang sebelum menghabiskan makanannya. Drago menegaskan kalau dia tak sedang meracuni Freya. Jadi, gadis itu harus makan sebelum pulang.


"Setidaknya kamu masih memiliki energi dari makanan ini untuk sampai hotel."


"Sejak kapan kamu memperdulikanku?" tanya Freya sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Kamu pikir aku peduli karena apa? Kalau kamu pingsan di jalan atau terjadi sesuatu di luar sana karena kelaparan. Polisi akan mencurigaiku karena kamu habis dari sini," kata Drago. Baru kali ini dia terlalu cerewet kepada perempuan. Tepatnya dia sedang menaruh perhatian kepada Freya.


"Yah, baiklah," ucap Freya sedikit kesal. Kemudian meraih sendok dari tangan Drago dan menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Sangat cepat, gerakannya hampir tak terjeda. Alhasil, belum dikunyah habis membuatnya menumpuk di mulut.


"Uhuk ... uhuk." Freya sampai tersedak.


"Kenapa kamu mengurungnya di dalam, Rion?"


Meysa langsung mengintimidasi. Rupanya Meysa sudah tahu ada seorang gadis di dalam kamar Drago. Sebelum dia masuk ke rumah, sebelumnya dia telah melihat sepatu wanita di depan pintu apartemen. Meysa yang tak ingin suaminya marah dan curiga karena ada seorang wanita di apartemen Drago, saat itu Meysa langsung menyingkirkan sepatu tersebut.


"Kenapa diam? Gadis itu ada di dalam kan?"


Drago tersenyum nakal. Feeling Meysa tak pernah meleset tentang Drago. Dari kecil ketika anaknya berbohong pun, dia dapat menduganya. Karena itulah Drago tak berani berbohong kepada Meysa dan selalu terbuka.


"Yah, dia ada di dalam sedang makan, Ibu." jawab Drago sambil membuka pintu kamarnya lebar. Memperlihatkan Freya yang berdiri tidak jauh dari pintu, masih batuk karena tersedak.


"Kenapa kamu jahat sekali? Menyekap seorang gadis dan memberinya makan tanpa minum. Cepat ambilan gadis itu minum, Rion!"


Ketika tahu Meysa melihat dirinya, Freya terlihat gelagapan. Ditaruhnya piring, kemudian mencari posisi yang nyaman untuk mengatur napas. Freya kira, dia akan dimarahi lagi. Jadi, dia harus bersiap-siap dahulu.


"Tant ... uhuk ... huk!"


"Duduklah yang tenang. Jangan berbicara dulu sebelum Rion mengambilkan minuman," kata Meysa setelah berdiri di depan Freya.


Terlihat jelas kalau Meysa tak ingin memarahinya. Dari sikapnya saja, Meysa tampak hangat berbicara dengan Freya. Tak lama Drago datang membawakan segelas minuman.


"Maafkan aku, Tante. Ini tak seperti yang dilihat. Kami–"


"Kami berpacaran, Ibu. Namanya Freya," kata Drago menyela ucapan Freya.


Freya berusaha mengatakan tidak. Namun dia sedikit bingung. Jadi hanya bisa tersenyum ragu-ragu. "Kami tak melakukan apa pun di kamar, Tante. Aku hanya numpang makan saja di sini."


Meysa awalnya melihat ke arah Freya. Kemudian ke wajah anaknya. Dia sedang menilai kebohongan di raut wajah dua anak remaja di depannya itu.


"Aku percaya. Rumahmu di mana, Nak? Biar Tante antar yah," kata Meysa.


"Tidak perlu, Tante, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri dan kebetulan akan pulang sekarang," kata Freya masih berusaha menstabilkan napasnya.


Meysa melirik Drago. "Atau, biar Rion saja yang antar?"


"Dia sudah terbiasa pulang sendiri, Ibu." Drago kembali menyela.


"Yah, aku sudah biasa pulang sendiri," sambung Freya.


Meysa merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Setelah Freya pulang nanti, rencananya Meysa ingin bertanya banyak kepada Drago. Namun setelah tahu gadis itu akan pulang sendiri, Meysa malah melarangnya.


"Kamu bilang dia pacarmu? Kenapa membiarkan gadis ini pulang sendiri?" kata Meysa kepada Drago.