I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 14. Menghubungi Meysa



Perasaan Freya sedikit kesal. Gadis itu sedikit memajukan sedikit bibir, menghembuskan kasar napasnya, membuat poninya terangkat ke atas sebentar.


Berulangkali Freya melihat jam di dinding yang menunjukan pukul sembilan malam lebih. Ya, sebenarnya Freya berniat pulang cepat malam ini. Ia ingin membuka usaha online dadakan miliknya di salah satu e commerce terkenal di negara itu. Tentu saja itu dilakukan untuk menambah uang tabungannya. Freya masih memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang lebih agar cepat menebus ayahnya.


Bersama dua pelayan lain, Freya membenahi kamar Drago. Pria itu memintanya agar memindahkan kasur ke arah lain, menghadap ke arah jendela. Drago sering mengalami insomnia, ia berpikiran dengan mengubah suasana kamarnya, membuat ia bisa tidur malam ini.


"Ganti semuanya dengan warna biru tua!" perintah Drago.


Mau tak mau Freya akhirnya menuruti kemauan Drago lagi, meskipun sedikit lelah hari ini. Bersama dua orang pelayan Freya mengganti semuanya, mulai dari sprei dan hordeng sampai ke alas kaki ia rubah menjadi bernuansa biru.


"Aku sudah mengganti semuanya, Tuan. Bolehkah aku pulang sekarang? Hoaemm!" ucap Freya sembari terus menguap.


Drago memasuki kamar, mencoba merasakan suasana baru di dalamnya. Sebenarnya Drago kurang puas, namun ia ingin mencoba terapi yang diberikan dokter agar ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


"Tuan, aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku pamit undur diri. Kalau ada yang dibutuhkan lagi, Asisten Ji siap membantu Anda, Tuan." Freya lalu bergegas pergi meninggalkan kamar itu.


"Tunggu!" Drago menghentikan langkah Freya.


"Ya, Tuan!"


"Karena dua kali kamu melakukan kesalahan, untuk hukuman tambahan, aku perintahkan kamu harus membangunkan aku setiap pagi. Ingat, jangan sampai membuatku telat masuk sekolah besok," ucap Drago merebahkan tubuhnya di kasur.


"Apa? Membangunkanmu pagi-pagi? Tapi Tu–"


"Tapi apa? Bukankah kamu asisten pribadiku? Atau kamu sudah tidak betah kerja di sini?" tanya Drago.


Glek! Freya menelan ludahnya, mencerna apa yang dikatakan Drago tadi. Tidak betah kerja di sini? Oh tidak! Freya masih butuh uang sekarang. Karena tak ingin dipecat, Freya terpaksa mengiyakan apa yang diperintahkan Drago kepadanya.


"Satu lagi, karena kamu adalah asisten pribadiku, tugasmu adalah mengingatkan semua kegiatan sehari-hariku mulai besok!" seru Drago.


"Baik, Tuan! Katakan padaku apa kegiatan sehari-harinya? Aku akan mencatatnya sekarang." Freya lalu mencari kertas untuk mencatat.


"Tanyakan kegiatan sehari-hariku pada Paman Gun. Aku juga peringatkan kepadamu agar kita bersikap biasa saja nanti di sekolah, jangan panggil aku Tuan di sekolah. Kamu mengerti?" tegas Drago.


"Baik, Tuan!"


^^^"Rion, ibu sudah mengirimkan uang untuk bekalmu di sana. Ibu baik-baik saja di sini," kata Meysa di tempat lain.^^^


"Ibu tak usah mengirimkan uang, Drago sudah punya uang sendiri. Drago juga sudah punya uang untuk biaya pengobatan ibu, sebaiknya berobat di sini saja, Bu," kata Drago lagi.


Meysa lagi-lagi menolak. Sebenarnya dia sudah sembuh dari penyakit kistanya, setelah dioperasi beberapa bulan yang lalu. Hanya saja Meysa masih saja berbohong, agar menutupi suaminya yang masih menjadi tahanan kota. Dia tak mau Drago mengetahui kasus yang sedang membelit suaminya itu.


^^^"Tidak apa-apa, Rion, di sini saja. Hanya beberapa bulan lagi selesai. Setelah ini, ayah dan ibu akan menyusulmu," jawab Meysa.^^^


"Di mana ayah? Aku ingin berbicara dengannya, Bu?" tanya Drago. Semenjak dia tinggal di Indonesia, sekali pun belum pernah mengobrol dengan ayahnya di telepon.


^^^"Eum ... ayahmu sedang ada di toko, Rion. Pesanan membludak ayahmu harus turun tangan langsung. Nanti kalau ayah pulang, ibu akan meneleponmu lagi," sahut Meysa di telepon.^^^


Sekali lagi Drago kembali kecewa. Semenjak minggu-minggu terakhir sebelum dia pulang ke Indonesia, ayahnya memang terlihat sibuk. Hubungannya dengan Firo pun sedikit merenggang.


"Baiklah, jaga ibu baik-baik di sana. Tak usah mengirimkan uang, Rion sudah memiliki penghasilan sendiri," kata Drago.


Beberapa menit setelahnya keduanya mengakhiri hubungan telepon. Drago merasakan ada yang aneh pada keluarganya. Terutama saat kemarin nenek Calista tiba-tiba saja menanyakan kabar masalah dalam keluarganya. Drago merasakan ada yang disembunyikan dari ibunya.


"Aku harus mencari tahu sendiri," gumam Drago pelan.


Karena belum mengantuk, Drago kembali membuka laptopnya. Membuat konten tentang game dan yang lainnya, di media sosial yang menjadi penghasilannya saat ini.


Ting! Undangan bermain game dari Hyuna masuk. Drago menghentikan aktifitasnya dan mulai membuka aplikasi MS.


[Freya: Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini Robin.]


[Drago: Apa karena tugas di sekolahmu banyak? Atau pekerjaan paruh waktumu?]


[Freya: Yah karena semuanya. Ayo kita bermain sekarang, jangan sampai Baron menduduki level tertinggi. Kita harus melawan dia dan sekutunya.]


Drago tersenyum, mulai memainkan game MS dan membeli beberapa amunisi di aplikasi untuk bermain. Dia bahkan memberikan beberapa koin yang dia beli untuk Hyuna. Yah, meskipun mereka tak saling bertemu, keduanya tahu kesibukan masing-masing. Dan yang Drago tahu, Freya adalah siswi SMA yang bekerja paruh waktu setiap pulang sekolah. Drago sama sekali tidak tahu kalau Hyuna yang dia kenal adalah Freya.