I'M Not A Mafia

I'M Not A Mafia
Bab 21. Arena Bermain



Dari anak tersebut, Freya mendapatkan nama sang pembuat konten. Nanti setelah sampai rumah, dia akan melihat dan akan memberikan komentar di konten tersebut.


"Ayo kita pulang," kata Drago setelah mendapatkan kalung.


Freya pun menurut, mengikuti lelaki itu dari belakang. Sambil berjalan, Drago melirik ke arah sepasang kekasih yang sedang melakukan sebuah permainan, menembak papan sasaran di arena bermain.


"Aku ingin boneka itu, yang warna merah itu," teriak seorang wanita kepada pacarnya.


"Tenang saja, Sayang. Aku pasti bisa mendapatkannya," jawab pacar di sampingnya.


Sang pacar sedang fokus memegang pistol mainan, sedang mengarahkan ke papan sasaran untuk mendapatkan boneka impian kekasihnya.


"Ah' sayang sekali. Padahal sedikit lagi," ucap sang pacar merasa kecewa karena tembakannya selalu melesat.


"Yah, engga dapet lagi," sahut perempuan di sampingnya.


Perempuan itu kecewa karena pacarnya tak mendapatkan lagi boneka keinginannya. Karena sudah banyak menghabiskan uang, pasangan tersebut dengan terpaksa menyudahi permainan.


Drago sangat tertarik, dia ingin mengasah skill menembaknya. Dibelinya saldo untuk melakukan permainan itu.


"Aku bisa mendapatkan boneka itu, lihat saja!" seru Drago kepada Freya.


Benar ternyata, hanya dengan sekali tembakan pelurunya tepat menempel ke tengah. Yang berarti dia telah berhasil mendapatkan sebuah boneka kucing yang lucu.


"Hebat, kamu berhasil mendapatkannya!" teriak Freya kegirangan.


"Aku kira sangat sulit, nyatanya ini sangat mudah! Aku sudah tak tertarik lagi memainkannya," ucap Drago.


Boneka yang baru saja didapatkan Drago, dia buang ke tong sampah. Kemudian dia pamit kepada Freya ingin pergi ke toilet sebentar.


"Kamu benar-benar ingin membuangnya?" tanya Freya kaget. Dalam hatinya boneka selucu itu kenapa harus dibuang.


Drago menggeleng. "Kalau kamu mau, habiskan saja sisa saldonya. Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Drago.


Freya mengangguk cepat, lalu meraih sisa koin dari tangan Drago. "Terima kasih, sisa saldo ini sepertinya cukup untuk bermain game itu," ucap Freya sambil menunjuk ke permainan Pump It Up.


"Habiskan saja sesukamu," jawab Drago lalu berjalan pergi ke toilet.


Sepeninggal Drago, Freya kembali mengambil boneka kucing tadi yang barusan dibuang Drago. Menurutnya boneka itu sangat lucu, sayang sekali kalau harus dibuang, lebih baik dia menyimpan untuk menambah koleksinya.


"Boneka kucing ini sangat lucu. Lebih baik aku bawa pulang saja kamu. Dasar cowok tak memiliki perasaan, bisa-bisanya boneka selucu ini dia buang," gumam Freya, tangannya dengan cepat memasukkan boneka tersebut ke dalam tasnya.


"Ok, aku siap bermain," ucap Freya dengan penuh semangat setelah saldo dia gesekkan ke dalam mesin game Pump It Up.


"Wah kakak hebat sekali!" teriak seorang anak berusia remaja takjub melihat gerakan Freya yang lincah.


Tubuhnya sangat lentur, hampir tak ada kesalahan sama sekali saat Freya memainkannya. Baru beberapa menit bermain, Freya sudah menjadi pusat perhatian karena kelincahannya dalam menari.


"One, two, three, let's go!"


Musik kembali menyala dan Freya kembali bermain mengikuti anak panah yang menyaka, kali ini dia berduet dengan seorang perempuan yang dari tadi sudah ikut mengantre. Keduanya sangat kompak dan menghibur orang-orang yang menontonnya di sana.


"Kamu sangat hebat! Ayo kita ulangi lagi," ucap anak perempuan itu meminta bermain lagi.


Dari jauh diam-diam Drago memperhatikannya. Dia pun sangat terhibur dengan gerakan Freya yang luwes. Sangat ceria, seakan gadis itu memberikan energi semangat untuknya.


Kalau dilihat-lihat cewek itu sangat manis walaupun dia terlihat sangat tengil. Bukankah lututnya sedang terluka? batin Drago terus memperhatikan Freya. Dia sadar tadi telah membuat gadis itu jatuh dari motor dan dia belum meminta maaf.


Sebelum mendatangi Freya yang sedang bermain Dance, Drago menyempatkan diri ke apotik membelikan obat luka untuk Freya. Nyatanya dia tak sekejam yang dibayangkan Freya yang menganggapnya seperti monster.


"Lagi, lagi, lagi," teriak anak-anak remaja yang ada di arena bermain kepada Freya. Mereka meminta Freya untuk berduet lagi dengan teman mereka.


"Ayo, Kak. Mainkan dance-nya lagi. Aku akan berikan saldo gratis untukmu," ucap salah satu dari mereka bersorak meneriaki Freya.


Freya menyadari kedatangan Drago, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Freya langsung berhenti melakukan Dance, dan turun dari papan pad.


"Kenapa berhenti, Kakak? Apa cowok ini pacarmu? Ajak saja dia bermain," ucap seseorang di sana.


"Yah, benar. Sepertinya mereka sangat cocok."


Drago terkejut ketika melihat orang-orang di sana menyuruh dia berduet dengan Freya. Tambah terkejut lagi ketika mereka mendorong Drago ke tengah papan. Menyuruhnya ikut memainkan game itu.


"Aku tak bisa melakukannya," ucap Drago ingin segara turun.


Akan tetapi, mereka yang menonton malah melarang. Mereka tak akan melepaskan mereka berdua sebelum bermain bersama-sama.


"Ayolah, jangan terlalu kaku. Permainan ini sangat asik," teriak orang-orang itu.


Merasa dalam posisi terdesak, Drago terpaksa memainkannya. Tentunya dengan gerakan yang sangat kaku, berulang kali melakukan kesalahan.


Ternyata sangat asik juga memainkannya, gumam Drago. Dia sedikit mahir ketika Freya mengajarinya cara bermain. Tidak butuh waktu lama meskipun gerakan Drago masih kaku, dia akhirnya bisa memainkannya.


Aku pikir dia cowok yang menyebalkan. Dari caranya bergerak, sepertinya dia tipe orang yang sangat berhati-hati, batin Freya, sesekali dia menoleh ke arah Drago.


"Pakailah obat untuk mengobati lukamu," ucap Drago sambil menyodorkan kantong berisi obat kepada Freya setelah permainan mereka berakhir.