
Freya tak dapat menolong kucing Oyen. Di tengah perjalanan menuju dokter hewan, kucing tersebut sudah terlebih dulu mati.
"Kemana saja Anda, Nona Frey?" tanya Pak Gun begitu Freya sampai rumah.
Freya mengusap lengannya yang kotor terkena tanah bercampur keringat. Barusan dia habis menggali tanah untuk mengubur kucing oyen.
"Maaf, tadi aku belum sempat minta izin keluar," jawab Freya.
Dahi Pak Gun mengernyit. Dilihatnya tampilan Freya yang lusuh. Pak Gun menggeleng pelan, baru saja sehari Freya memakai seragam pelayan, dia sudah mengotorinya.
"Kalau kamu jorok seperti ini, Nyonya Niki tidak akan lama memperkerjakanmu. Sebenarnya dari mana saja kamu?" bentak Pak Gun.
"Aku ... em, barusan habis terjatuh saat menuju minimarket. Tanahnya licin dan aku terpeleset," jawab Freya menunduk. Menyembunyikan matanya agar tak terlihat berbohong.
"Ganti bajumu sekarang. Setelah ini datanglah ke kamar tuan muda Drago," perintah Pak Gun.
Freya mendongakkan wajahnya, "Memangnya ada apa dengan tuan muda?"
Ekspresi Pak Gun langsung berubah marah. "Ada apa? Apa kamu lupa akan tugasmu di sini?"
Freya kembali menunduk, dia hampir lupa akan tugasnya. Tepatnya bukan lupa, dia mendadak mengkhawatirkan Drago. Dia ingat kata-kata dokter hewan kalau oyen mati karena keracunan. Oyen baru saja memakan makanan bekas Drago, dan dia khawatir Drago pun memakannya.
"Baik, Pak. Aku akan segera ke sana," ucap Freya.
Setengah berlari Freya menuju kamar Drago. Takut akan terjadi apa-apa dengan lelaki itu. Tidak ada lima menit dia sudah berdiri di depan kamarnya dan langsung membuka tanpa mengetuk dahulu.
Di mana dia? Apa dia baik-baik saja?
Freya menengok ke sana ke mari mencari Drago. Namun, tak ada siapa pun di tempat tidur. Layar laptopnya masih menyala dan dia pun tak ada di tempat.
"Tuan, tuan muda!" seru Freya.
Gadis itu memberanikan diri ke kamar mandi. Saking khawatirnya, membuka tanpa berpikiran akan ada orang di dalamnya.
"Aarghhh!!" Freya berteriak keras.
Seketika Drago berlari menghampiri, menarik gadis itu dan menutup mulutnya rapat dengan tangan. "Beraninya kamu masuk ke dalam," bisik Drago.
Mata Freya membulat, hanya berani memejamkan mata agar tak melihat hal yang tak seharusnya dilihat.
"Aku pikir kamu ...."
Freya masih mengatur napasnya. Secepat kilat Drago mengambil handuk dan menutupi sebagian tubuhnya.
"Sepertinya kamu sengaja ingin melihat tubuhku."
"Jangan percaya diri. Aku hanya memastikan kondisimu."
"Kondisi?"
"Rion," panggil Niki dari dalam kamar. Wanita itu berani masuk karena melihat pintu kamar Drago yang terbuka. "Rion," panggil Niki lagi. Ada yang ingin dia bicarakan.
Seketika, keduanya menghentikan pembicaraan, saling melihat. Freya tak mau terjadi salah paham, jadi dia buru-buru ingin keluar.
Akan tetapi, lagi-lagi Drago menahan Freya dengan menarik lengan tangannya. Gerakan tangan Drago cepat, membuka beberapa kancing baju Freya.
"Hah! Apa yang kamu lakukan?"
"Jangan takut! Ikuti saja permainanku," ucap Drago.
"Kamu, lepaskan aku!" teriak Freya.
Suara Freya yang keras terdengar dari luar. Niki berjalan cepat membuka pintu kamar mandi. Matanya terbelalak melihat kelakuan keduanya.
"Kalian, kenapa berada di kamar mandi berduaan? Apa yang kalian lakukan di dalam?" tanya Niki dengan nada tinggi, "cepat keluar!"
Drago melepaskan cengkeramannya. Ada tujuan lain mengapa dia melakukan hal me sum itu kepada Freya.
"Kamu gila!"
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah ada di dalam kamar. Berdiri bersebelahan di depan Niki yang duduk di sofa. Tatapan Niki penuh intimidasi kepada Freya.
"Kamu dipecat! Silahkan datangi Pak Gun untuk mendapatkan gaji pertama dan terakhirmu," ucap Niki tegas.
Mata Freya membulat. Dia tak menyangka kejadian barusan membuat dia sampai dipecat. Sedangkan Drago, wajahnya masih datar. Dia tak merasa bersalah sama sekali.
"Tadi tak seperti yang Anda lihat, Nyonya."
Freya membela diri. Dia masih butuh uang dan masih ingin bekerja di tempat itu. Dia melirik Drago, seakan meminta lelaki itu agar membuka suara.
"Aku tidak memperkerjakanmu untuk menjadi penggoda. Memalukan, cepat keluar!" bentak Niki lagi.
"Kalau begitu aku juga akan keluar dari rumah ini," kata Drago.
Niki beralih melihat ke arah Drago. Dia tak menyangka ponakannya juga meminta dirinya keluar. "Rion, apa kamu yakin dengan ucapanmu?"
Tatapan remaja berumur 19 tahun itu sangat tajam. Entah apa yang sedang dipikirannya. Dia sedang tidak bercanda, sengaja melakukan perbuatan me sum tadi agar bisa keluar dari rumah itu.
"Kita melakukan berdua. Kalau Freya dipecat, aku pun harus keluar dari rumah ini," ucap Drago.
Ekspresi wajah Niki langsung berubah. Dia balik melihat ke arah Drago. Apa yang akan dia katakan kepada kakaknya kalau dia melihat anaknya berbuat me sum bersama pembantu di kamar mandi.
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Beritahukan saja," ucap Drago dengan wajah datar.
Niki mengembuskan napasnya. Dia memecat Freya bukan berarti membiarkan Drago keluar dari rumahnya. Niki melihat wajah Drago lagi sambil berpikir, dia seperti melihat ada hal lain yang membuat Drago ingin keluar. Bukan karena adegan tadi, lebih tepatnya seperti direncakan agar dia bisa keluar.
"Aku akan memaafkanmu, Rion."
"Terima kasih, Bibi. Aku akan sempatkan ke mari kalau ada waktu luang," kata Drago. Tangannya dengan cekatan memasukkan barang-barangnya di dalam tas. Tidak banyak, hanya beberapa helai baju dan satu laptopnya. Drago tak ingin berlama-lama. Menurutnya dia sudah tak aman berada di tempat itu.
Freya masih terpaku di tempat. Dia sudah dipecat, seharusnya dia cepat keluar dan mengurus gajinya. Tetapi dia malah melihat perubahan ekspresi di wajah Drago. Sepertinya dia telah paham.
Apa dia tahu ada seseorang yang sengaja ingin meracuninya? Batin Freya.
"Terima kasih, Nyonya. Sudah mau menerimaku bekerja di sini. Maaf kalau aku salah, tadi kami khilaf," kata Freya. Kali ini dia malah mendukung permainan Drago.
Niki sedikit tercengang. Melihat Freya dan Drago bergantian. Dia melirik Freya seakan memandang rendah gadis itu. "Kamu tidak tahu ponakanku sudah memiliki tunangan?"
"Kamu masih sangat muda, jangan terlalu murahan!" kata Niki lagi.
Ucapan Niki begitu menohok. Tak ada dibenaknya sama sekali menjadi perempuan murahan. Dia hanya ingin membantu Drago dengan mengikuti permainannya. Karena Freya merasa ada yang aneh di dalam rumah itu. Barusan dia disuruh mengantarkan makanan. Setelahnya, seorang pelayan mendatanginya dengan bersikap aneh. Yang lebih menakutkan lagi, dia yakin ada orang yang sengaja menaruh racun di makanan Drago.
"Tentu saja tidak, Nyonya. Aku hanya membantunya."