
“mau di bawa kemana itu makan bi” saat melihat pembantunya membawa makanan
“ini buat Non Naya Nyonya”
“apa dia masi belum keluar?”
“iya Nyonya, non Naya belum pernah keluar dari kamarnya dan dia belum pernah makan bibi sudah beberapa kali bawakan non makanan tapi non Naya tidak pernah buka pintunya”
“biar saya yang bawakan makannya bi”
“baik Nonya”
Tok tok tok
“Nak buka pintunya ibu bawakan makanan kesukaan kamu”
Naya tak berkeming dia tak menghiraukan ibunya dia hanya menagis di dalam kamar tampa mau keluar kamar, Naya hanya mengurung dirinya di dalam, kalau dia lelah menagis dia akan tertidur tapi jika dia bagun dan mengigat kakaknya dia akan kembali menagis.
"ini semua karna Ayah,,,kalau dia tidak mengusir kakak,,,pasti kakak tidak akan pergi,, aku benci Ayah aku benci" ucap Naya tapi ibu Maryam tidak mendegarnya, Naya kembali menagis di dalam kamarnya.
“Nak buka lahc nak sudah seharian kamu tidak pernah makan”
“nak”
Ibu maryam berusaha membujuk anaknya tapi Naya masi tidak membukakan pintu ibu Maryam menghela nafas panjang karna merasa sungguh susah membujuk anaknya .
“Nak aku simpan makannya di depan pintu”
“kamu harus makan”
Ibu Maryam berlalu meninggalkan kamar Naya menuju ruang kerja suaminya dia melihat suaminya begitu sibuk dia tidak mau mengaggu suaminya, tapi suara pak Zam memberhentikan langkahnya.
“Naya belum makan juga bu” ucap pak Zam karna tadi dia mendegar percakapan istrinya dan pembantunya.
“iya yah Naya juga tidak mau keluar kamar” sambil mendekati suaminya
“ini semua gara gara Ayah,,,seandaiya kejadian itu tidak pernah terjadi,,,, pasti keadaanya tidak begini” ibu Maryam mendekat dan menepuk nepuk pundak suaminya untuk memberikan suaminya kekuatan.
“ini bukan kesalahan ayah sepenuhnya ,,, karna wanita itu sendiri yang berlari ke tengah jalan sehingga ayah tidak sengaja menabrak dia,,,,Ayah juga sudah membiayai seluruh biaya rumah sakitnya”
“tapi seharusnya Ayah bertanggung jawab bu” pak Zam memijat kepalanya yang terasa sakit.