
Saat Lili dan Naya asik menonton televisi, tiba-tiba telepon Naya berbunyi, saat Naya melihat teleponya dia melihat nomor Wawan, walaupun Naya sudah menghapus Nomor Wawan tapi dia masi menghafal nomor Wawan.
“Nay kenapa kamu tidak angkat?” sambil mendekati Naya karna penasaran siapa yang menelpon, tapi Lili tidak tau siapa yang menelpon
Beberapa kali Wawan menelpon tapi Naya tak mengakatnya
“Nay angkat tu telpon’mu berbunyi terus dari tadi”
“aku males mengakatnya”
“emeng siapa yang menelpon”
“Wawan”
“ Wawan kenapa dia menelpon,?”
“palingan dia ingin ajak aku untuk bertemu”
Seketika Lili punya rencana, dia langsung mendekati Naya membuat Naya Risih
"ngapain sih kamu dekat betul seperti ini,,, sana menjauh"
“Nay,,, bagaimana kalau kamu bertemu dengan Wawan”
“tidak Li aku males sekali bertemu dengan dia”
“Nay sebaiknya kamu bertemu dengan Wawan siapa tau kamu bisa mendapat jawaban atas pertanyaan kamu semalam”
“maksud kamu apa Li”
“Gini yahc Naya sayang, kalau kamu jalan dengan Wawan kamu akan tau bagaimana perasaanmu,,” melihat Naya mengerutkan keningnya Lili langsung menyambung perkataanya " maksud aku Bukan sebagai pacar tapi kamu berteman aja dulu, dengan adanya Wawan di sisi kamu dan temani kamu,
*****
Rina sangat senang saat ayah mengatakan bahwa dia sudah berbicara kepada pak Zam untuk menjodohkan mereka sehingga setiap hari Rina datang kekantor Lion, dan seleruh karyawan juga sudah menegtahu tentang rencana pertunangan mereka. Sehingga tidak ada yang berani kepada Rina.
Setiap hari Rina sengaja datang ke kantor Lion untuk mengajaknya makan, Lion yang tak bisa menolaknya selalu menuruti ajakan Rina walaupun begitu, sikap dingin dan cuek Lion tidak berubah dia sekedar menemani makan dan tak pernah mengajak Rina ngobrol sekedar basah basih, dan setiap kali Rina mengajaknya untuk jalan-jalan dan nonton Lion selalu mengambil alasan bahwa dia sibuk bekerja di kantor.
Malam itu Rina sengaja kekantor Lion, saat dia berpapasan dengan Ririn dia sengaja menyengolnya dan terjatuh, Ririn sangat marah dan ingin menjambak rambut Rina tapi dia urungkan niatnya karna dia takut di pecat “ Maaf mba” Ririn langsung menundukkan kepalanya dan meminta maaf, Rina yang melihatnya hanya tersenyum jahat, Ririn hanya bisa mengepalkan gengamannya dan menahan amarahnya.
Saat Rina masuk dia melihat Lion siap-siap untuk pulang kerja dia langsung mengadeng tangan Lion.
“ sayang kita pergi makan yuk”
“aku tidak bisa aku sudah mau pulang” sambil melepas gandengan Rina dan berjalan meningalkan Rina
Tapi bukan Rina namanya jika dia tidak punya seribu akal dia sengaja menelpon ayahnya untuk menyur Lion menemaninya makan malam di restoran sehingga Lion terpaksa menuruti kemau Rina untuk makan malam.
Saat bersamaan Naya juga sedang makan bersama dengan Wawan di restoran sebenarnya dia tak ingin pergi bersama dengan Wawan tapi karna Wawan selalu memaksanya dan Naya mengikuti saran dari sahabatnya akhirnya mereka pergi makan bersama.
“Nay terima kasih karna kamu bersediah menemaniku makan malam”
“aku datang karna kamu mengatakan ada hal penting ingin kamu bicarakan”
“sebaiknya kita pesan makanan terlebih dahulu baru kita bicara”
“aku tak bisa lama-lama?”
“baiklah kita pesan minuman saja”
Wawan memesan minuman dan tak butuh lama minuman mereka datang,