
SanYe menunganggi kuda miliknya kearah gerbang Akademi Xuan, ia juga banyak melihat kereta mewah dari berbagai Kelas masyarakat atas.
SanYe turun dari kudanya, Wakil Kapten di sampingnya memberi hormat, Karna Banyak nya Tamu, Dekan secara pribadi memerintahkan Penjaga untuk melindungi Akademi dan Kenyamanan Peri, Tamu mereka.
Sudah banyak Bangsawan yang mengatar hadiah, namun mereka tidak di respon, jawaban para penjaga
"Dia Tidur"
Mereka juga tidak berani membangungkan Gia, karna Ada Snowy yang menjaganya.
Melihat SanYe,Wakil Kapten berkata"Jendral Yang Mulia Peri sedang tidur, bila anda berkenan anda bisa menunggu di ruang tamu akademi" SanYe manganggukkan kepalanya.
Gia di kamar perlahan membuka matanya, menguap, ia melihat bahwa hari sudah sore, jadi ia tidur beberapa menit ahh.
Gia keluar, dan melihat Snowy Menutup matanya berjaga depan pintu.
"Snowy? aahhhh"
Snowy asik tidur, Gia akhirnya memilih berjalan sendiri Sampai seorang pengawal berjubah putih menghampirinya
"Yang Mulia, Jendral SanYe datang mencari anda"
Gia terkejut"Aku?"
Pengawal itu menganggukkan kepalanya, Gia setuju mengikuti pengawal itu
SanYe dalam Ruangan meminum cangkir tehnya, dan mendengar suara pintu berderit, berbalik
Diluar Gia berdiri, tidak lupa wajahnya yang dingin dan datar, SanYe heran, ada apa ini?
"Salam jendral"
"Salam Peri "
Mereka berdua akhirnya duduk berhadapan, Gia meminum tehnya dengan anggun, Tidak lupa matanya mencuri pandang pada Pria tampan di depannya
"Ahhh Tampan apa kau merindukan ku? "
Akhirnya SanYe mendengar suara genit gadis itu lagi, SanYe merasa sikap ini adalah aslinya si Gia.
Gia tersenyum cerah, Tangannya disatukan dan kepalanya menyamping
"Apa Kau kemari karna merindukanku ahhh. Ternyata jendral kaku ini jatuh hati padaku"
"Nona apa anda memiliki sifat ganda? "
Mendengar itu, Gia menatapnya bingung
"Ganda? "
"Yah anda Bersikap dingin dan acuh lalu bersikap genit dan nakal "
Gia hanya menganggukkan kepalanya paham
"Ahhh begitu, Saya diharuskan memiliki etiket di luar saat bertemu orang lain, Tapi Tampan~ kau tak perlu khawatir, Aku akan selalu menyukai mu ahh"
Telinga SanYe memerah, Ia tak bisa fikir ada gadis yang berkulit tebal menggoda seorang pria, bahkan kata 'Menyukai'diucapkan santai
SanYe bahkan lehlbih heran dengan dirinya, ia tak kesal apalagi jijik seperti biasa pada lawan jenisnya, Hanya perasaan Mengungcah, bahagia yang ia rasakan.
Kedua orang itu menikmati cemilan mereka, dan akhirnya Gia dan SanYe berjalan keluar bersama.
SanYe entah kenapa hampir mimisan dihadapkan dengan wajah manis gadis itu, padahal Ia terkenal Acuh dan Alergi pada setiap jenis wanita, tapi Jenis Gia, membuat Ia merasa hal itu menyenangkan
"Em"
Berhenti, Keduanya saling menatap
"Kenapa Wajah mu sangat datar, Seperti papan cuci milik tetangga? "
Seakan burung gagak terbang di kepala SanYe, Ia merasa Pertanyaan Gia sangat konyol
Memang kenapa kalau ia tak memiliki ekspresi, dan apa maksudnya papan cuci sama seperti wajahnya
Apa ia kurang tampan?
Ini adalah pertama kali nya SanYe merasa bahwa Modal wajahnya mulai turun
Melihat bahwa Pria di samping diam, Gia berfikir bahwa kata-katanya mungkin membuat sakit hati, Gia hanya bisa menggelengkan kepalanya kasihan
Pantas Saja Jendral ini Jomblo berkarat, Wajahnya aja kayak papan cuci
Merasa iba, Gia menepuk-nepuk pundak SanYe, Mata Gia tersirat rasa iba pada Nya, membuat SanYe menghitam
Mengapa mata gadis ini, dan ekspresinya seakan menyiratkan bahwa ia terlalu kasihan?
Akhirnya tanpa ada jawaban SanYe, kedua orang itu memisahkan diri, karna Gia harus mengajar cara bertarung sore ini.
Melihat Siluet Gia menghilang, SanYe mengeluarkan aura dinginya, (Dingin dari AC)
"Shu keluar"
Setelah katackata SanYe banyangan hitam seorang pria muncul bersujud di depannya
"Aku ingin bertanya"
Shu kaget, ini pertama kalinya tuan bertanya padanya, selama bertahun-tahun ia ikut, tuannya selalu diam, sekarang ia ingin mendengar pendapatnya, Shu merasa bahagia
"En. Silahkan Tuan"
Thor:Tidak tuan tidak bawahan, Sama-sama ngomong irit
"Menurutmu........... Apa Wajahku terlalu datar? "
Shu langsung mengangkat kepalanya, bengong, Aneh,shu Melihat tuannya bingung, Pertanyaan Tuannya, bukan tentang urusan politik, namun soal wajahnya nya
Dan sejak kapa Jendral yang Kejam memikirkan Ekspresinya?
SanYe melihat bahwa Shu diam, membuatnya tambah kesal
"Uhuk.... Tuan Hamba..... Tidak tau"jawabnya apa adanya
Shu tidak tau cara menjawabnya, ia masih sayang nyawanya ahh
Mendengar bahwa Shu tidak tau jawabannya, SanYe langsung berbalik pergi.
Meninggalkan Shu yang merasa di tinggalkan
Thor"lu Jomblo, kasiannn"