I AM A FAIRY

I AM A FAIRY
27



Gia terbangun dari tidur nya ,Diluar masih gelap tanda masih tengah malam


Gia menekadkan pikirannya dan mengambil jubah ajaibnya dan melompat dari jendela


Ia mendarat dengan aman ditanah, Pendaratan nya mulus, Ia tak lupa melihat ke kamarnya, melihat bahwa Tidak ada yang meerasakan bahwa ia keluar, Gia menghembuskan nafas lega


Gia melompat ke atap rumah penduduk dan begitu seterusnya, ia melompat dan tujuannya ke arah Kamp Militer dekat Perbatasan Gerbang Kota Lanyara


Melompat turun, Gia melihat sekelilingnya dan merasa aman, Gia mengayungkan jarinya dan membentuk Mantra sihir, lalu Ia menekannya


Mantra itu berubah menjadi Merpati Putih, Merpati itu terbang ke arah lokasi lain


Gia mengikutinya sampai dia melihat Tenda yang dijaga ketat, Gia mengeryitkan alisnya bingung saat mengetahui bahwa Sanye membawa banyak pasukan, bahkan ia melihat di samping ada juga tenda lain dengan warna biru muda dengan pola mawar emas,tanda Kerajaan Selatan Yu


Gia memfokuskan dirinya kearah tenda tempat merpati hinggap, Gia langsung mengangkat tudungnya dan tubuhnya mulai menjadi transparan dan perlahan menghilang


Jubah ajaibnya adalah pemberian Airin padanya saat diwilayah terlarang


Gia dengan hati-hati masuk kedalam Tenda, dan tubuhnya membeku saat mendengar ada yang saling berdisku


Mengatur nafasnya, Gia melihat bahwa seorang pria berdiri dan ada juga yang duduk,


Berdiri adalah Shu, dan yang duduk adalah Sanye, Melihat bahwa Sanye Masih tampan seperti biasa, Gia langsung tersenyum nakal, ia akan mengagetkan pria itu saat keduanya masih berdiskusi


Barulah Gia melihat raut wajah Sanye yang pucat pasi, dan ia melepsñas topengnya, memperlihatkan mata pria itu yang berbeda warna


Tubuh Gia membeku saat melihat warna mata yang mirip di ceritakan airin padanya


"Tuan... Tubuh anda sudah hampir mencapai batasnya! "ujar Shu


Sanye memegang dadanya


"Aku harus bertahan"


Shu menatap tuanya kesal, "Tuan Kenapa anda tidak meminjam..... Mutiara Peri, Bukankah kalian sudah baikan! "


Memdengar itu, tubuh Gia bergetar, tangannya mengepal


"Tuan,Saya yakin Yang Mulia Peri pasti akan berbaik hati akan meminjamkan anda bila anda bilang Anda kristis dan membutuhkan permata itu"


Sanye Diam


"Tuan.... "


Gia menunggu jawaban pria itu


"Aku... Tidak akan meminta benda paling berharga bagi nya, Aku Akan hidup atau mati sudah ditakdirkan"


Shu menatap Sanye Membeku lalu berbalik pergi


Lalu ia terkejut saat melihat pria itu memuntahkan banyak darah, bahkan kulitnya sudah kehilangan warna, pucat


Gia ingin membantunya, tapi ia masih bersembunyi, lalu ia mendengar suara jatuh dan melihat bahwa Sanye jatuh pingsan dengan noda darah


Gia dengan cepat meletakkan kepala pria  itu dipangkuannya dan menyalurkan Energi Ilahinya


Sanye Merasakan perasaan hangat masuk kedalam tubuhnya,alisnya yang berkerut akhirnya rileks


Gia tersenyum lemah, lalu mengelus rambut Pria di pangkuannya


"Sanye.... Kau benar-benar mencintaiku ahh~"


"Pria sepertimu sudah sangat jarang yang tidak akan mengorbankan Pasangannya"


"Aku juga ingin tau, apa kau memang akan menjadi takdirku..... Atau tidak"


"Sanye.... Kalau kau melamarku, Aku akan Bersedia"


Melihat bahwa keadaan Pria itu sudah membaik, tapi Gia merasakan racun dalam tubuhnya semakin ganas


Ia menyentuh Keningnya, Lalu dengan kuat menekannya, seperti mencabut sesuatu


Di luar Langit bergemuruh, petir menyambar, Airin keluar dan melihat pemandangan itu Syok


Ia bergegas berlari kearah Sumber  Petir diikuti Snowy


Gia melihat di tangannya, sebuah mutiara bercahaya terang, Lalu dengan Pelan menekannya ke kening Sanye


Mutiara itu Masuk secara perlahan, dan akhirnya seutuhnya bersatu


Tubuh Sanye mengeluarkan cahaya ungu terang, melihat bahwa racunya sudah hilang, Gia memeluk pria itu erat menekan dagunya di kepala pria itu


Menggunakan jari telunjuknya menyelusuri wajah pria itu, Gia tersenyum manis


"Sekarant Kau harus bertanggung Jawab Ahhh~  "


"Ppfffttttt"


Gia menutup mulutnya karna batuk, lalu ia melihat bahwa ia memuntahkan darah


Gia dengan pelan menidurkan Sanye, lalu berdiri pergi dengan tubuh lemah


Baru saja keluar, ia mendengar Raungan marah dari jauh, menyipitkan matanya


Gia melihat ratusan bahkan Ribuan Monster dan Goblin menuju kemari, Gia mengertakkan giginya dan menggunakan kelopak bunga melaju kearah moster berada