I AM A FAIRY

I AM A FAIRY
14



Alam Atas


Semua pelayan sibuk menyiapkan pesta dalam. Beberapa. Hari ini


Bahkan para Putri Mentri dan bangsawan lainnya sibuk memilih Gaun terindah mereka, dalam tujuan menarik perhatian Pangeran Mahkota Kekaisaran langit


Pangeran Mahkota memiliki wajah yang sangat tampan, bahkan mengalahkan Seorang wanita cantik, Tubuh tegapnya membuat semua wanita mengidamkannya, Apalagi Pangeran Mahkota terkenal genit.


Dalam Istana


Seorang pelayan menyiapkan aksesoris ruangan, mengobrol dengan Temannya di samping


"Hei apa kau tau perayaan ulang tahun kali ini mengundang Sang Legenda"


"Sang Legenda? Maksudmu Si Peri yang baru muncul, dulu ku pikir hanya dongeng, ternyata ia benar ada"


"Ckckckk konon katanya ia seorang gadis yang sangat cantik"


"Gadis? Apa ia secantik kecantikan kekaisaran Putri Mahkota Chen Ying"


"Tapi Aneh saja, Pangeran Mahkota tetap menjadi incaran semua wanita walau ia sudah memiliki istri"


"Wajar Saja sih, kalau pria memiliki selir"


"Lalu Seberapa tinggi derajar Peri dari kaisar langit? "


"Mmm tetap sang Peri, karna ia utusan Tuhan langsung"


Kedua pelayan itu saling berbisik dan bergosip


Alam Tengah


"Hacccccuuiii"


Gia menggosok hidungnya


"Ada yang menggosipi ku ahh"


Gia menyimpan kembali Serulingnya, Lalu mengajak Ruru keluar jalan -jalan


Perjalan keduanya mengarahkan mereka  ke arah Kerajaan Rong


Gia tidak lupa memakai Menutup kepala dan wajahnya.


Ruru berjalan dengan Gagahnya kearah Pasar, dimana penjual manisan berbaris disana, Mata Gia berbinar


Turun Dari Ruru, Gia menciptakan Mantra Pengecilnya, sehingga tubuh Ruru sangat kecil, baru ia bisa memeluknya.


Baru berjalan beberapa langkah, Gia menabrak seseorang


Meringis, Gia melihat seorang Gadis menatapnya tajam


Wei Ni?


Kenapa ia disini?


"Kau rakyat Jelata beraninya menabrak ku! "geram Wei Ni


Gia hanya diam, tanpa membalas


Kesal di abaikan, Wei Ni akan menyerang Gia, Mengarahkan tinjunya ke arah Gia


Gia dengan sigap mengelak, lalu menendang tangan Wei Ni, membuat gadis itu meringis


"Kau TANGKAP DIA! "


Beberapa pengawal mengepung Gia, Gia yang tubuhnya mungil menatap semua pria ini geram


Menciptakan Mantra sihir, Gia mengambil Busurnya


Mata pria itu semua terbelalak, mereka terkejut dengan Sihir gadis ini


Penyihir dianggap langka, apalagi tipe pemanggil


Gia mengerutkan alisnya, Ia hanya bisa melompat dan memanah orang-orang ini, Ia tidak takut di kepung, hanya saja


Ia lupa bahwa ia memakai Gaun pendek ,memikirkan bagaimana ia bila melompat, bukankah gaunnya akan melayang, lalu yang di bawah..... 😅


Memikirkan hal itu, Gia berkecamuk di kepalanya, apa harus melompat dan menyerangg, atau menghilang?


"Serang!! "


"Tunggu"


Gia mengangkat tangannya meminta berhenti,lalu menatap semua pengawal itu


"Kalian tidak adil bila menyerang ku seorang diri Ahhh"


Mendengar itu, Semua orang kaget, Mereka berfikir apa yang dikatakan gadis itu benar, tapi perintah Putri mutlak


" Apa yang kalian tunggu BODOH, Tangkap ****** itu! "


Mendapat perintah sekali lagi, para Pengawal mengangkat senjata mereka, dan mengarahkannya ke Gia


Gia menyipitkan matanya, lalu membaca Mantra


Suara Dentingan senjata di atasnya bergema, Namun Gia tidak terluka, Karna Sudah Ada Prisai yang melindunginya


Tersenyum dingin, Dia mengayungkan tubuhnya dan menendang semua pengawal


Suara Tabrakan keras bergema, Wajah Wei Ni menatap Gia takut dan horor


Gia tersenyum menang, Lalu mengangkat busurnya mengarahkannya ke Wei Ni


Merasa terhina, Wei Ni mengeluarkan cambuk apinya, menghentakkanya ke tanah, dan menerjang ke arah Gia


Gia melompat ke belakang, Masa Bodoh dengan roknya.


Lalu Mengambil Panahnya, Menargetkannya pada Wei Ni, menarik tali Busur lalu Menmbakkanya.


Laju Panah sangat kuat, Wei Ni lansung membuat Perisai dan ,Panah menabrak Penghalang, Tapi tidak tinggal begitu Saja, Gia membaca kan Mantra lagi, lalu mengayungkan tangannya, Bola api menerjang Wei Ni


Tidak siap, Bola Api menghantam Kuat penghalang, Membuat Wei Terlempar.


Batuk, Wei Ni memuntahkan banyak darah, Menatap Gia penuh kebencian, Gia tersenyum ceria


"Kau Harusnya ...tau kalau kau akan kalah Nona"


Gia berbalik, Melihat itu, Wei Ni menggerakkan tanganya, Sebuah belati muncul, Wei Ni tersenyum Sinis, Lalu mengarahkan belati itu menerjang tubuh Gia


Gia merasakan hawa aneh di belakangnya langsung berguling di atas dan menendang Senjata itu kembali menerjang Tubuh Wei Ni


Wei ni menatap belati ke arahnya mengigil, Ia langsung berteriak


"Kakak YE! "


Teriakannya Bergema, lalu siluit Hitam muncul di depan Wei Ni, dan Menangkis belati itu, Dia adalah San Ye, Lalu Ia melemparnya dengan ganas menerjang tubuh Gia


Gia membeku saat melihat SanYe, pria yang mengaku padanya menolong gadis lain, Lalu mengarahkan serangan kearahnya.


Tidak Siap, Gia lupa mengelak, Lalu suara tikaman menembus tubuh terdengar semua orang


"Pptthhhh akkhhhh"


Gia memuntahkan banyak darah, Gaunnya sudah ternoda darahnya, Bagian perutnya di sebelah Kanan tertancap belati putih  menembus kulitnya nya


Darah merembes keluar, Lengah, Dan sakit, Gia jatuh terduduk, memegang perutnya


"Pppffttt Uhhukkk" Sekali lagi memuntahkan darahnya


Pertama Darah merah yang ia muntahkan, Lalu Darah bewarna Hijau terang, Darah di perutnya juga berubah, jadi Gia di tutupi dua warna Darah


San Ye membeku saat mendengar suara batuk yang akrab, Lalu ia berbalik melihat gadis yang menutupi dirinya sudah jatuh dan darah yang ia muntahkan membuat San Ye bergetar


Darah Hijau


Jadi Gadis itu adalah...........


Wei Ni melihat bahwa Gadis itu terluka, lalu tersenyum sinis, Berusaha berdiri, Ia lalu mendekat ke arah San Ye


"Kakak Ye.... Terima kasih menolong Ni'er"


Tapi San Ye fokus pada orang di depannya,Ia ingin melangkah tapi kakinya mati rasa


Lalu sebuah Portal Sihir muncul di belakang gadis itu, Sesosok Perempuan dengan Gaun Hijau muda, telinga lancip dan rambut kuningnya muncul, dengan Raut Khawatiran, Gadis bergaun Hijau itu tergesa-gesa ke arah Gadis yang terluka


Memeluk tubuh Gia


"Bertahan lah.... Hei.... Jangan Tutup mata mu..... GIA!!!


Mendengar Nama Gadis yang terluka itu,  Tubuh San Ye bergetar hebat, matanya menatap Gia Sakit dan menyesal


Gia di peluk Erat Airin, Airini melepas penutup kepalanya, menampakan wajah pucat Gia


Airin terkejut, lalu ia menangis saat melihat Gia yang nakal -nya sudah bermandikan darah


"Kenapa kau bisa lengah Hah! "


Gia Tersenyum Lemah


"Aku Lengah.... Uhuk..... Kau betul... Cinta itu membunuhku cepat atau lambat"


Mendengar keluhan Gia, Airin mengangkat kepalanya menatap San Ye dengan jubah hitamnya marah dan dingin


Aura di sekeliling Airin menciptakan gelombang momentum Qi kuat, membuat semua orang bersujud, hanya meninggalkan SanYe,Bahkan Wei Ni sudah jatuh dan memuntahkan darah


Airin mengarahkan tanganya dan menciptakan portal lainnya, Memapah tubuh Gia, Airin berbalik pergi, Sebelum Itu ia menatap San Ye benci


"KAU MELUKAI GIA!!! DOSA MU TAK TERMAAFKAN JENDRAL "


Airin berbalik, dan berjalan memasuki Portal


"Tunggu Kak"


Gia berbalik menatap San Ye, tidak ada lagi senyum menggoda dan mata berbinar gadis itu menatapnya seperti dulu, Sekarang Mata yang gia gunakan adalah Rasa Sakit, Kecewa, dan Marah


"Kau Menyerang ku Jendral, Kau memberikanku kata-kata palsu yang berkata menyukai ku, Uhukkkk...... "


"Gia!Ti-dak. "


"Jendral, Kau dan Aku tidak pernah bersama di jalan yang sama, Lindungi lah Putri mu"


Gia meneteskan air mata, Lalu senyum pahit di wajahnya muncul, Ia mengarahkan tangannya dengan sisa tenaga ke arah belati yang masih tertancap, menutup matanya, Ia langsung Menariknya, membuat Darahnya sekali lagi merembes keluar


Memegang belati di tangannya, Gia melemparkannya tepat menancap di depan San Ye


San Ye mengenali belati itu Milik Wei Ni, Jadi Ia membantu Wei Ni melukai Gia?


SanYe akhirnya sadar, dan ia jatuh memegang dadanya sakit, lalu menatap tangannya,lalu melihat Sosok keduanya sudah tidak ada.


"Aku s-sudah me-melukainya?  Dengan Tanganku sendiri"


Shu muncul di sampingnya dan menatap Tuannya iba, Tuannya melukai Peri Alam Sendiri.


Shu lalu berjalan, membawa Wei Ni yang tak sadarkan diri kembali ke Istananya