
Gia dan Kembar Song sedang mengobrol tentang pertarungan mereka tadi, Gia tertawa mendengar cara mereka bicara yang heboh, ia merangkul kedua bahu mereka lalu mereka saling tertawa
Baru saja ia merangkul, Sebuah tangan panas menariknya membuatnya menabrak dada keras, lalu bau Cendana masuk kedalam hidungnya
"Kau...? Kenapa kau disini... Lepaskan aku"
Gia menarik dirinya keluar dari pelukan SanYe, Lalu menatap dingin pria itu
Gia, " Jangan. Sentuh. Aku"
Sanye mengeryitkan keningnya saat melihat sikap dingin gadis itu padanya
Ia melangkah ingin menyentuh gadis itu, tapi tangannya di pegang oleh tangan lain
Seorang gadis dengan rambut kuning muda dan telinga lancip menatap Sanye dingin dan marah, lalu menghempaskan tangan pria itu
"Jendral ini, tolong jangan menikam peri gia lagi"
Cara Airin mengatakan kata dari mulutnya penuh penekanan, Gia tau ia mencoba menahan amarahnya
Mengingat kondisinya yang hampir Dead, Gia juga marah, tapi melihat raut kesedihan pria itu, Ia entah kenapa merasa sedih, tapi ia tak ingin di sakiti lagi
"Airin . Ayo"
Gia berbalik pergi diikuti Airin dan Kembar Song, Hanya menyisakan Sanye yang menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal keras
Keesokan Harinya
Rongyan dan anak anak lainnya kembali ke kerajaan Utara lebih dulu karna mereka mengalami trauma teruntuk Rongyan, gadis itu masih takut
Walikota memberikan Tim Gia Emas sebagai hadiah, tapi Gia hanya meminta agar Emas ini di berikan pada Orang Miskin dan yang membutuhkan
Ia hanya meminta Kue manis dan buah manis, Yang lain hanya setuju kemauan Gia
Tim Gia berencana kearah Timur, kemarin mereka sudah ke barat, sekarang mereka akan ke lokasi selanjutnya
Gia mengenakan Atasan Kain Biru langit dan rok putih ,lalu mengambil Jubah Putihnya
Airin sudah menemukan Markas sekelompok Goblin lainnya, mereka akan berangkat saat sore
Sanye ingin melangkah kearah Gia, tapi ia seakan takut gadis itu akan menjauh lebih jauh darinya
Airin, "Lihat si Pria tampan mu ingin mengajak mu bicara"
Gia mengambil panahnya dan menelitinya, "Terserah.Aku akan fokus pada pertarungan kali ini, entah kenapa aku memiliki firasat buruk"
Airin menepuk kepalanya, "Cobalah untuk Rileks"
Gia menudukkan matanya, dan berdiri lalu memasang tempat panahnya
"Kita Akan Berangkat Sebentar Lagi"
Gia akan berbalik tapi tiba-tiba sebuah suara melengking masuk ke telingannya, membuatnya kesakitan
Airin merenkuh Gia ,"Hai Ada apa? Ada apa dengan kepalamu"
Gia memegang telinga dan kepalanya sakit, "Ahgghhh ada yang berteriak, Dari Dua arah"
Airin, "Arah mana? Siapa? "
Gia, "Suara perempuan, dari arah Barat dan Selatan Hutan,sepertinya mereka baru di culik"
Airin menautkan alisnya, "Jadi apa rencana kita? "
Suara teriakan reda, Gia duduk sambil memijat keningnya, "Kita Berpencar, membagi kelompok, Kamu bisa dengan Si kembar kearah Selatan, aku akan kearah barat bersama Snowy"
Airin tidak setuju, "Bagaimana mungkin kau bertarung seorang Diri, aku ikut kau"
Gia, "Tidak, keadaan darurat, Percaya padaku, Oke"
Melihat mata Gia penuh kepercayaan dirii, Akhirnya Airin setuju
Kedua Tim Berpisah, Gia Menaiki Snowy, Snowy berlari dengan cepat kearah barat, Suasana menjadi mengcekam, Lalu Bintik putih turun dari langit, Gia mengangkat kepalanya dan melihat bahwa Salju pertama telah turun
"Snowy Berhati-hati, Sepertinya akan badai, Salju mampu menutupi Goblin untuk bersembunyi, Lihat disana ada Gua"
Keduanya masuk, Gia mencium cium aroma di dalam, dan tidak ada Aroma Goblin, lalu ia lega
Ia dan Snowy masuk kedalam"Snowy Masuk ke pola sihir, Mungkin kita akan bertarung sangat keras"
Snowy menatapnya, "Kau yakin? " ,lalu gia menganggukkan kepalanya pasti
Gia melihat bahwa Badai salju mulai berlansung, lalu mengambil batu roh, "Airin apa disana juga terjadi badai? "
Airin menjawab, "Iya, kami berteduh sekarang, bagaimana disana"
Gia " Keadaan Baik, Kalau begitu kalian Waspada"
Gia menyandarkan tubuhnya kearah Dinding Gua dan menutup matanya, Tiba-tiba suara langkah kaki sseseorang membuat Gia waspada
Ia dengan waspada menarik Panahnya dan bersiap menembak, Langkah kaki semakin dekat, dekat dan mendekat
Gia mulai waspada, ia sudah siap menembak, lalu dari depan sosok seorang pria muncul
Semakin dekat, Gia semakin jelas, lalu saat Pria itu sudah berdiri di depan Gua, Gia menurunkan panahnya, dan membiarkannya pria itu masuk
"Dimana Pasukan mu Jendral?"
Sanye Menjawab, "Aku memerintahkan Shu membawa mereka ke selatan, membantu Teman-teman mu"
Mata Gia melebar, "Kau baik sekali, apa ini tanda permintaan maaf karna menikamku? "
Sanye mendengar suara gadis itu dingin, dan serak seakan menahan tangis
"Aku minta maaf, Waktu itu.... Aku tidak melihat mu, aku... Aku.....aku... Aku... Hanya..."
Gia melempar ranting Kering ke Api, "Hanya apa? KAU PIKIR DITIKAM ITU TIDAK SAKIT HAH! "
Akhirnya kontrol Emosi Gia sudah naik, air mata membasahi pipinya
"Kau melukaiku hanya karna, Wei Ni berteriak memanggil mu, tanpa melihat siapa yang melawannya atau siapa yang memulainya"
Sanye menundukkan kepalanya, lalu tangannya mengambil belati dari pinggannya, ia berdiri dan berjalan mendekat kearah Gia
Gia terkejut, "apa yang kau lakukan kemari?! "
Sanye berlutut di depan gadis itu, lalu mengarahkan belatinya tepat kedadanya
Gia terkejut, "Apa yang kau lakukan, Ingin bunuh diri, jauh-jauh dariku"
Sanye, "Bila dengan aku mati kau akan memaafkan ku aku rela, Gia mungkin kau tau aku tidak pernah sesuka dan menganggap ssesuatu adalah hal yang berharga dan berarti bagiku, Tapi sejak aku bertemu dengan mu, Aku....aku merasakan,... Perasaan hangat, nyaman dekat dengan mu,..... Aku ingin mengatakan bahwa aku,,,, aku,,....Aku Mencintaimu Giaoyana"
Mata Gia melebar, lalu busur ditangannya jatuh, ia menatap Sanye kaget
"Kau,,, kau,,, apa,,, yang,,, kau katakan? "
Sanye, "Aku Mencintaimu, aku ingin kau menikahiku, Menjadi Istriku dan menjadi Pendamping Hidupku sampai Ajal Menjemput"
Gia dulu sudah mendengar pengakuan cinta pertama sanye, tapi ini ia dan pria ini saling berhadapan, melihat mata sanye secara langsung ia tidak melihat kebohongan, hanya ketulusan dan Keyakinan
"Aku rela mati hanya di tangan mu, Gia"
Sanye mendekat kan Belati itu kearah dadanya, membuat darah merembes keluar, melihay aksi pria itu ,Gia langsung mengambil belati itu dan melemparnya,
SanYe menatap Gia terkejut, lalu ia melihat gadis itu melompat dan menubruk tubuhnya
Ia merasakan tangan gadis itu memeluknya erat
"Aku Juga,,,,,, Cinta Kamu"
Sanye membeku, lalu menarik dagu Gia dan mencium bibir manis gadis itu
Mata Gia melebar, tapi ia ta menolak, Ia membiarkan Pria itu mengecup dan ******* bibirnya, Gia memejam kan matanya
Sanye lalu mengigit bibirnya membuat gadus itu membuka mulutnya, ia langsung memasukkan lidahnya dan mengakses seluruh isi mulutnya
"Emmmmmhmmmm..... Mmmmmmm..... Mmmm"
Keduanya saling berciuman cukup lama, sampai Gia kehabisan nafas, melepas tautan bibir mereka, Gia lalu membaringkan tubuhnya ke dada Lebar Sanye dan mencium aroma pria ini yang menyejukkan
Keduanya saling berpelukan, menyalurkan rasa hangat masing-masing
Lalu Gia melepaskan pelukan mereka berdua, dan menatap Sanye intens,
Lalu tangan kanannya mengayung kearah wajah Sanye
Plllaakkkkk
Suara tamparan bergema di dalal Gua itu, Sanye diam, Lalu Gia mendengus, lalu berbalik duduk dekat api
Sanye menyentuh bekas tamparan yang pukulan gadis itu sangat keras.