
Gadis kecil itu tiba-tiba tersentak ketika melihat seorang Wanita cantik dengan gaun muslin putih, kulitnya indah dan lembut seperti batu giok, wajahnya halus seperti dewi. Gadis kecil itu memiliki perasaan iri di hatinya, namun ia pendam. Dia tidak mungkin bisa menjadi secantik itu kan?
Li Wei menoleh. "Nama?"
Gadis kecil itu linglung sebentar sebelum menjawab, "ah, namaku Su Luo."
"Hm... Su Luo jika kau ingin menjadi kuat, maka turuti perintahku." Su Luo tanpa ragu mengangguk.
"Sekarang Berlarilah dengan pelan memutari bukit ini 10 kali. Jika sudah selesai, kau bisa memanggil namaku sekali dalam hatimu." Setelah mengucapkan itu, Li Wei menghilang tanpa jejak, tapi Su Luo bisa merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.
Dia sedikit ragu untuk memutari Bukit sebesar ini, tapi di menguatkan tekadnya dan mulai berlari.
----
Li Wei duduk dengan tidak tenang. Disampingnya ada Baili Dongfang yang terus menerus merengek.
"Ayolah, Kasim Tao mengatakan ada sungai di sekitar sini. Ayo kita kesana, dan mandi bersamaa!" Baili Dongfang mengguncang lengan Li Wei.
Pelayan yang ada di sana menahan senyum tipis di bibir mereka. Adegan ini seperti seorang istri yang sedang mmebujuk suaminya yang dingin.
Li Wei tiba-tiba ingin membunuh Kasim Tao. Dia dengan enggan mengangguk.
Baili Dongfang tersenyum lebar, dia mendorong Li Wei untuk segera bersiap. Li Wei berjalan ke kamarnya dengan malas, Para pelayan di sana juga mengikutinya meninggalkan Baili Dongfang sendiri di sana.
Tiba-tiba atmosfer disana menurun. Wajah cerah Baili Dongfang sedikit berubah menjadi datar dan dingin.
"Selidiki identitas gadis yang baru saja dibawa Tunangan Zhen itu!"
"Ya, Yang Mulia." Seorang bayangan hitam keluar dari balik pohon, dia membungkuk pada Baili Dongfang sebelum menghilang tanpa jejak.
Wajah Baili Dongfang sangat menakutkan sekarang. Dia menyeringai.
"Tidak ada siapapun yang boleh merebut Perhatiannya dariku!"
Di Aula...
Kasim Tao bersin tanpa sebab.
-----
Gaun putihnya sekarang basah karena Baili Dongfang yang terus-terusan menyipratkan air sungai padanya. Dia menatap Baili Dongfang dengan malas.
Baili Dongfang tidak memperhatikanya, dia menarik kaki Li Wei menyebabkan dia jatuh di pelukan Baili Dongfang.
Air sungai itu dingin, namun entah kenapa saat berada di pelukan Baili Dongfang tubuhnya terasa hangat. Dada Baili Dongfang juga kekar dan nyaman, Li Wei merasa enggan melepaskannya.
Wajah Li Wei terbenam di dada Baili Dongfang jadi dia tidak bisa melihat senyum nakal yang kini terpampang di wajah Baili Dongfang.
"Istri, Apakah dadaku sangat nyaman sehingga kau enggan melepaskanya?" Baili Dongfang bertanya dengan polos. Mendengar itu Li Wei segera mendorong Baili Dongfang, wajahnya memiliki semburat merah.
Li Wei tampak manis sekarang jadi Baili Dongfang tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipinya yang bulat.
"Istri pipimu sangat kenyal dan lembut!" Li Wei melotot padanya, pipinya bertambah merah. Dia menepis tangan Baili Dongfang.
Li Wei berjalan pergi dari Sungai, dia pergi ke balik batu yang paling besar diantara batu-batu lainya. Li Wei mengeluarkan Gaun putih baru dari Penyimpanan Langit dan mulai mengganti Bajunya.
Baili Dongfang tersenyum geli saat memikirkan wajah Li Wei yang memerah, dia bermain air saat melihat Li Wei keluar dari balik Batu.
Li Wei menatap Baili Dongfang yang masih berada di sungai. Sepertinya dia tidak memiliki niat untuk pergi sekarang, Jadi Li Wei mengambil Kain dan meletakanya di tanah, Setelah itu dia Juga mengambil Buah-buahan yang sengaja ia tanam di Penyimpanan langit.
Li Wei meletakan Buah-buahan di keranjang yang baru saja ia ambil, lalu duduk di atas kain. Dia mengambil Apel dan memakanya sambil melihat Baili Dongfang.
"Aku mau juga!" Baili Dongfang berseru. Li Wei tersenyum sedikit lalu melemparkan Buah apel lainya ke Baili Dongfang. Dia menangkapnya, memakanya sambil bermain bersama ikan-ikan yang berenang di sungai.
---------
Aku ngetik sambil senyum-senyum sendiri ea:v
-
Jangan lupa Like dan Comment;)