
Pagi harinya...
Li Wei berjalan-jalan di Pasar yang ada di Junk city. Kebanyakan penjual disana menjual emas, dan sisanya menjual makanan dan aksesoris.
Rakyat kota Junk city menjalankan aktivitas seperti biasanya ketika mendengar bahwa pembunuh yang baru-baru ini meneror, sekarang telah ditangkap.
Li Wei berjalan dengan cadar,dan pakaian Rakyat biasa. jadi tidak ada yang terlalu memprhatikanya.
Tidak ada yang menarik disini jadi ia membalikan badanya ingin kembali ke Paviliunya.
Tapi suara perkelahian menarik perhatianya. Itu berasal dari kerumunan orang di depan. Dia melangkah dengan tenang kesana.
Dia menerobos kerumunan, Orang-orang di kerumunan kesal dan sedikit menyumpahi Li Wei, tapi dia tidak peduli.
Saat dia melihat apa yang terjadi, matanya mengungkapkan sedikit ketertarikan.
"Kau anak kecil tak berguna! Berani-beraninya kau mencuri uang yang akan digunakan Kakakmu untuk masuk ke academy." Seorang wanita berusia awal 30 tahun berteriak dan memukuli seorang Anak perempuan dengan marah.
Banyak orang yang berkumpul untuk melihat, tapi tidak ada dari mereka yang mau menyelamatkan.
"Aku tidak mencurinya ibu, aku tidak mencuri... " Gadis kecil itu menyilangkan tanganya menahan pukulan Ibunya.
"Apakah kau pikir Kakakmu berbohong? Dia adalah anak yang baik dan tidak pernah berbohong. sedangkan kau anak pungut yang menjadi Serigala bermata putih!" Wanita itu terus memukuli, pukulan itu bertambah ganas dia bahkan menendang tubuh kurus gadis kecil itu.
(T/N: Serigala bermata putih biasanya dikatakan untuk orang yang tidak tahu berterimakasih)
Di belakang Wanita itu terdapat gadis lain, kondisinya berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Gadis kecil yang sedang dipukuli.
Baju dan tubuh miliknya terlihat bersih dan terawat berbeda dengan gadis dibawah, bajunya compang-camping, kulitnya hitam, dan tubuhnya sangat kurus. Ada banyak bekas luka yang belum mengering juga di tubuhnya.
Kerumunan sebelumnya bersimpati pada Gadis kecil itu, tapi setelah mendengar ucapan Ibunya, mereka mengejeknya secara terang-terangan.
"Aku pikir gadis ini tidak bersalah, tapi mendengar wanita itu...ck"
"Ya, benar-benar Serigala bermata putih!"
"Apa kau dengar barusan? Dia adalah anak pungut, bukanya berterima kasih dia malah menjadi gadis tak tahu malu!"
...
Mendengar semua orang mengkritik gadis di bawahnya, wanita itu memiliki rasa bangga di matanya.
"Beruntung aku dalam suasana hati yang baik saat ini, jadi aku akan melepaskanmu hari ini." Wanita itu menggandeng gadis di belakangnya lalu berjalan pergi meninggalkan gadis itu tergeletak di tanah sendiri.
Kerumunan juga pergi setelah pertunjukan berakhir, Li Wei berdiri tegak disana.
Gadis kecil itu berdiri dengan susah payah, tubuhnya terasa sakit saat ia bergerak walaupun sedikit. Ia tak mampu menahanya lagi, dan dia pingsan
Entah bagaimana, sekarang Li Wei telah berdiri di di depan gadis kecil itu. Dia membungkuk dan menggendong Gadis kecil itu di lenganya.
Li Wei menatap gadis kecil itu sebentar sebelum menghilang dari sana tanpa jejak.
---
Li Wei saat ini sedang berada di ruangan gelap, di depannya ada sebuah tungku besar. Li Wei membungkuk untuk menyalakan api.
Dia awalnya tidak mempunyai seseorang untuk dijadikan kelinci percobaan, namun sekarang dia punya gadis kecil itu.
Jika Kaibo ada disini, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Mungkin dia akan berpikir Tuanya mengambil gadis kecil itu untuk menyelamatkanya bukan menjadikanya kelinci percobaan.
Li Wei memasukan bahan-bahan secara berurutan. Dia mengaduk mereka menggunakan sendok kayu yang sudah ia lapisi Qi Spiritual.
Tak lama Tungku meledak. Namun, ledakan itu tidak mengeluarkan asap hitam, melainkan Asap ungu. Itu hal normal saat selesai membuat Ramuan, hal itu juga disebabkan oleh warna bahan-bahan yang digunakan. Contohnya Li Wei menggunakan banyak Lili ungu untuk membuat Ramuan.
Di dalam tungku, terdapat cairan ungu yang mengeluarkan bau harum. Li Wei mengambil botol porselen kecil lalu memasukan cairan ungu.
Dia menatap sisa cairan di dalam tungku.
"Berapa koin yang kudapatkan jika aku menjual Ramuan ini?" Li Wei bergumam
Dia berjalan keluar dari ruangan, ketika mendengar erangan kecil dari gadis kecil yang baru ditemuinya. Suara itu dari kamarnya dan terdengar sangat lirih, Namun Li Wei bisa mendengarnya dengan tingkat kultivasi nya saat ini.
Kamar Li Wei gelap, ada cahaya kecil dan cahaya itu hanya menyinari seorang Gadis kecil yang meringkuk di kasur luar Li Wei.
Li Wei berada di sudut yang sangat gelap, Jadi gadis itu tidak bisa melihatnya.
Gadis kecil itu membuka matanya, dia melihat sekeliling lalu mengerutkan alisnya. Dimana dia?
Disekelilingnya sangat gelap dan dia sangat takut sekarang.
"Permisi? A-apakah ada orang disini?" Suara gadis itu bergetar menahan tangis, dia paling takut dengan kegelapan!
Li Wei tidak bergerak, tapi bibirnya melengkung sedikit.
"Apakah kau mau menjadi kuat?"
Suara dingin namun Lembut bergema di Ruangan, itu menambah ketakutan Gadis kecil itu.
"Siapa disana?" Air mata Gadis kecil itu sudah mengalir di pipinya sedari tadi.
"Apakah kau mau menjadi kuat?" Li Wei bertanya lagi. Kali ini suaranya mengandung sedikit kemalasan, Dia benci melihat orang menangis.
Gadis kecil itu terdiam, dia memikirkan perkataan seseorang di dalam gelap. Memang dia sekarang sangat lemah, dia tidak punya akar Spiritual, sehingga dia dibuang oleh orang tua Biologisnya.
Tapi dia ditemukan oleh seorang wanita, dan wanita itu mengangkatnya menjadi anaknya. Dia berpikir kehidupannya akan baik, Namun dia salah. Ibu tirinya mengangkatnya hanya untuk menjadi Pembantu. Dia setiap hari akan disuruh mencuci piring dan baju keluarga angkatnya. dan saat suasana hati mereka tidak baik, mereka akan melampiaskan amarah mereka dengan cara mencaci dan memukulinya. Jika dia ingin makan, dia harus makan makanan sisa mereka.
Saudara angkatnya membencinya dan dia selalu menuduhnya melakukan kesalahan dan dia akan berakhir dipukuli oleh Ibu angkat.
Memikirkan penghinaan dan perbuatan keji mereka, Dia mengepalkan tangan. Dia ingin membalas tapi dia tidak mempunyai sedikitpun kekuatan!
"Ya, aku mau menjadi kuat!" Dia berkata dengan secerah harapan di matanya, dia berharap untuk bisa secepatnya menjadi kuat dan membalas dendam pada mereka!
"Bagus." Tiba-tiba pemandangan di depannya berubah, kini di depanya terdapat sebuah bukit besar yang dikelilingi dengan pepohonan.
---------------
Jangan lupa Like dan Comment;)