
Li Wei sampai di Kediamannya, ia menyuruh Kangjian kembali ke kediamannya sendiri.
Li Wei menatap sekelilingnya.
Kediaman yang dulunya milik Ayahnya ini menyimpan banyak benda-benda aneh!
Tapi Li Wei tak peduli. Biarkan saja, mungkin itu adalah privasi Ayahnya yang tak dapat diganggu.
Li Wei mengganti bajunya menjadi baju putih tipis, Namun, tak memperlihatkan tubuhnya.
Ia berjalan ke tempat tidur .
Saat akan menutup matanya, Li Wei mendengar suara mendesing!
Tidak jauh dari Tempat tidurnya, Ada kuali tua.Li Wei berjalan menuju Kuali itu.
Saat tangannya menyentuh kuali, hal yang aneh terjadi.
Swosh-
Kuali Tua itu besar, yang mungkin membutuhkan tidak kurang dari dua atau tiga orang untuk diangkat, Itu menjadi seutas cahaya hitam dan masuk ke telapak tangannya.
Saat Kuali masuk ke dalam tanganya, rasanya seperti digigit ular kecil.
Pada saat Li Wei kembali ke akal sehatnya, Kuali di depannya sudah sepenuhnya menghilang.
Li Wei menatap tanganya, Ada tanda kecil Kuali tua tadi.
Tanda Kuali itu hanya seukuran kuku jari, tapi itu sangat persis dengan Kuali tua.
Setelah Kuali tua masuk ke dalam tubuh Li Wei, itu menjadi tanda lahir di telapak tangannya, tidak peduli seberapa kuat ia mencoba menghapusnya, itu masih tidak hilang!
Li Wei merasa matanya berat, Ia kembali ke tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.
....
Saat membuka matanya tempat pertama yang ia lihat bukanlah Kamarnya, Tapi Lapangan luas dengan Rumput yang terasa sangat nyaman ketika Kulit Li Wei menyentuhnya.
Li Wei berjalan beberapa langkah dan melihat di sisinya, ada batu coklat kehitaman. Dua kata diukir disana: ' Penyimpanan Langit'.
"Kakak!"Suara riang Li Shi terdengar di telinganya.
Ketika dia membuka matanya lagi, Li Wei menyadari bahwa dia telah meninggalkan "Penyimpanan Langit'"
Dan dia baru menyadari kalau sekarang sudah pagi.
"Ada Apa?"
"Kata Paman Fang, Hari ini Kakek akan datang mengunjungi kita!" Paman Fang adalah Kasim setia Kaisar Terdahulu.
"Kakek?" Li Wei mengerutkan kening, ia tidak ingat apapun tentang orang yang disebut 'Kakek' ini.
"En, Dia pergi berperang dengan Kerajaan Awan Kemarin." Li Shi sangat mengagumi Kakeknya, dulu dialah yang menaklukan musuh dan pemberontak, Namun, umurnya secara bertahap menua, dan kekuatannya pun tak sekuat dulu. Tapi itu tak membuat rasa kekaguman Li Shi pudar. Kakeknya, meskipun sudah Tua, dia masih berjuang di Medan perang untuk membasmi para musuh yang menghalangi kejayaan Kerajaan Bulan.
Li Wei memiliki rasa penasaran di hatinya terhadap tokoh 'Kakek' ini, setelah melihat jejak kekaguman di wajah Li Shi.
"Kak! Cepatlah bersiap! Kita akan menyambut Kakek." Li Shi menarik tangan Li Wei, hingga tubuhnya tegap. Li Shi mendorong Kakaknya ke arah Pemandian.
Li Wei tersenyum kecil. Ia melepas tangan Li Shi, lalu berjalan sendiri menuju Pemandian.
Li Shi yang melihat Kakaknya berjalan sendiri tak mau berlama-lama lagi, Ia berlari kecil ke Aula.
....
Li Wei saat ini duduk di Singgasana dengan Anggun, Aura disekitarnya memancarkan sifat tegas dan tak tersentuh membuat para Pelayan dan Kasim yang ada disana menunduk.
Sebaliknya, Li Shi yang duduk di sampingnya memberikan aura Kehangatan. Dua aura yang berbeda, Namun jika digabungkan Akan memberikan kesan menyenangkan.
Pintu besar yang ada di Aula kini terbuka lebar, membuat suara bising. Sosok tegap muncul berjalan ke arah dua bersaudara.
Sosok itu mempunyai keriput di wajahnya dan rambutnya sepenuhnya memutih, Namun tak mengurangi aura Tegas disekelilingnya.
"Kakek!" Li Shi tiba-tiba berdiri dan berlari menuju Pria paruh baya itu. Dia dengan semangat memeluknya penuh kerinduan.
"Shi'er cucu Kakek! " Pria Paruh baya yang sering disebut, Li Guo. Kini mendekap Cucunya dengan erat.
Menyadari tatapan orang banyak, Li Shi dan Li Guo melepaskan pelukan mereka dengan Enggan.
Mata tajam Li Guo menyapu Aula, dan tatapannya terpaku pada sosok kecantikan yang duduk di singgasana. Siapa itu? Apakah itu Wei kecilnya?
" ... " Seluruh Aula sunyi, hanya terdengar suara deru napas masing-masing.
"Wei'er?" Li Guo bertanya dengan ragu-ragu pada sosok yang saat ini menatapnya dengan cahaya samar.
"Ya," Suara itu seperti lonceng surga membuat jantung siapa saja yang mendengarnya akan berdetak kencang!
---------------
Jangan lupa Like dan Comment;)