How to Defeated The Kingdom?

How to Defeated The Kingdom?
2. Kaibo



Li Wei menghabiskan waktunya dengan olahraga dan aktifitas fisik lainnya yang dapat membantunya mengurangi rasa sakit di tubuhnya, beruntung beberapa hama tidak mengganggunya selama ia berolahraga.


Sakit di badannya baik di dalam maupun luar kini berangsur membaik walaupun tidak sepenuhnya hilang, Li Wei bersyukur sudah dapat bergerak dengan bebas kecuali lari dengan jarak yang panjang.


Li Wei merasa ingin muntah mencium badannya yang penuh keringat, anehnya keringat yang keluar dari tubuhnya justru berwarna hitam pekat dengan bau yang tidak sedap.


Tidak tahan dengan bau badannya sendiri, Li Wei pergi keluar untuk mencari kamar mandi atau air yang bisa membersihkan tubuhnya saat ini.


Li Wei membuka pintu kayu di ruangan itu dan pemandangan yang pertama ia lihat hanyalah halaman kosong dengan beberapa pohon dan satu kolam di bawahnya, kolam berisi air bersih dan ikan-ikan kecil di dalamnya.


Tanpa berpikir panjang Li Wei segera menceburkan diri ke kolam yang kedalamannya hanya sebatas perutnya saja. Air yang tadinya jernih kini berubah menjadi keruh dan ikan-ikan di dalamnya mulai melompat keluar dari kolam.


"Haaa... apakah keringatku sebau itu?" Li Wei menatap lingkungan sekitarnya yang sepi dan sunyi, kediaman ini diampit oleh tembok-tembok besar dan tinggi yang mustahil manusia biasa bisa memanjatnya tanpa tangga.


Hanya satu jalan keluar dari kediaman ini adalah pintu besar yang sekarang diikat oleh rantai yang mengeluarkan cahaya merah kehitaman entah apa, namun Li Wei dapat mengerti ia tak bisa sembarangan menyentuh rantai itu.


Li Wei merobek pakaian luarnya dan mengumpulkan ikan-ikan kecil yang melompat dari kolam, walaupun kecil mereka bisa menahan rasa lapar Li Wei untuk malam ini. Lagipula tidak ada lagi yang bisa ia makan disitu, buah dari pohon saja terlihat mencurigakan dengan warna ungu dan suara-suara aneh yang dikeluarkan buah itu.


Li Wei membungkus ikan-ikan kecil dan menaruhnya di pinggir kolam, ia berdiri dan mulai memasuki kediamannya lagi untuk berganti baju. Hanya ada dua baju tergantung di dinding, baju yang lusuh dan penuh jahitan. Li Wei memilih salah satu baju berwarna hitam dan segera berganti baju.


Selesai berganti baju, Li Wei kembali keluar dan mengumpulkan ranting-ranting pohon yang akan ia buat untuk membakar ikan.


Ranting-ranting telah terkumpul dan api telah menyala dengan kerja keras Li Wei menggosok kayu hingga timbul percikan kecil, Li Wei menusuk ikan dengan ranting yang lebih kecil lalu menempatkannya ke perapian.


Sembari menunggu ikan itu matang, Li Wei terdiam ketika mendengar suara bisikan yang berasal dari belakang pohon.


"Kau bosan?" Suara bisikan itu seolah berputar-putar di kepalanya, tidak ada siapapun disekitarnya dan Li Wei lebih memilih diam daripada menanggapinya.


"Kau pasti ingin balas dendam bukan? aku bisa memberimu kekuatan." Mata Li Wei bergerak dengan cepat mengikuti asal suara bisikan itu yang terus-menerus berpindah.


"Tidak perlu curiga, aku tidak menginginkan apapun darimu. Aku hanya mencari kesenangan hahahahahaa..." Li Wei tetap diam dan mendengarkan orang dibalik suara bisikan itu berbicara.


"Kau lihat buah ungu di pohon itu kan? makanlah. Aku menumbuhkannya khusus untukmu." Li Wei menatap buah ungu yang ada di pohon, pohon di depannya adalah pohon apel yang belum waktunya berbuah tahun ini namun anehnya buah ungu itu adalah satu-satunya buah di pohon.


"Tunggu apa lagi? makanlah dan kutukan di meridianmu akan mulai menghilang." Kutukan? jadi selama ini Li Wei mempunyai kutukan yang membuatnya tidak dapat menguasai bela diri?


Li Wei mengambil buah itu dan berpikir tidak akan ada masalah jika ia mati atau hidup di dunia ini, lagipula dari dulu Li Wei memang sudah tidak ada niatan untuk menjalani hidup. Hidup sungkan, mati tak mau.


Li Wei menggigit setengah dari buah itu dan menelannya tanpa merasakan hal yang salah, buah itu memiliki rasa yang manis dan asam seperti apel pada umumnya. Beberapa detik setelah ia memakan buah itu sampai habis, Li Wei merasa sesuatu yang panas mulai keluar dari tenggorokannya.


Rasa panas dan dingin mulai menjadi satu di tubuhnya, perut Li Wei bergejolak memaksanya memuntahkan isi perutnya. Li Wei membuka mulutnya dan keluarlah cairan hitam kental yang terasa sangat panas ketika tak sengaja jatuh ke tangan Li Wei.


Setelah keluar cairan hitam itu dari tubuhnya, Li Wei merasakan bahwa tubuhnya terasa lebih ringan dari yang sebelumnya dan rasa sakit yang selama ini ia rasakan pun sudah menghilang entah kemana.


Li Wei menatap kebawah kakinya ketika merasakan bulu-bulu halus menyentuh kulitnya, dibawahnya ada sebuah bola berbulu berwarna hitam yang bergerak-gerak menggosokan badannya ke kaki Li Wei.


Li Wei sedikit terkejut ketika melihat dua bola mata besar pada bola berbulu itu dan mulut kecil yang berbicara dengan suara lantang namun imut.


"Benar kataku bukan? tidakkah kau merasakan bahwa tubuhmu dipenuhi kekuatan saat ini?" Ahh, sekarang Li Wei mengerti. Bola berbulu kecil di bawahnya adalah pemilik dari suara yang menyuruhnya memakan buah tadi.


"Kenapa kau membantuku?" Li Wei bertanya dan mengambil ikan yang ia bakar ketika sudah dirasa matang.


"Sudah kubilang, aku hanya mencari kesenangan saja dan tidak sengaja menemukanmu yang menurutku memiliki potensi untuk menjadi orang paling kuat nanti." Bola berbulu itu berjalan dengan keempat kakinya yang kecil dan hampir tak terlihat, ia naik ke pangkuan Li Wei dan melahap satu ikan di ranting yang berada di tangan Li Wei dengan santai.


"Aku juga sedang mencari murid yang bisa mewarisi kemampuanku dengan sempurna sebelum aku pergi dari dunia ini, Ah panggil saja aku Kaibo." Kaibo bergerak ingin melahap ikan di tangan Li Wei namun Li Wei dengan cepat memakan semua ikan itu dalam satu gigitan.


"Sialan... ekhm, jadi apakah kau mau menjadi muridku? aku bisa mengajarimu tentang dunia ini dan banyak ilmu bela diri atau pengobatan lainnya. Kau bukan Putri Mahkota yang asli bukan?" Li Wei terkejut ketika Kaibo mengetauhi jika ia bukan Putri Mahkota yang asli, selama ia pertama kali berada disini para selir bahkan tidak menyadari perubahannya. Namun kenapa Kaibo yang baru saja ia temui bisa mengetahuinya?


Kaibo tersenyum lebar dengan mulut kecilnya, "Hei tidak perlu tegang aku tahu semuanya dan aku tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun selama kau mau menerima permintaan menjadi muridku. Asal kau tahu, kau bisa mati kapan saja di dunia ini jika tidak memiliki secuil kekuatan." Li Wei berpikir bahwa ucapan Kaibo ada benarnya, ia masih tidak tahu apa-apa dan banyak sekali hal-hal baru di dunia ini yang menarik untuk ia pelajari.


Tidak ada salahnya menolak permintaan Kaibo, hitung-hitung ia dapat meningkatkan kekuatannya dulu dan sekarang. Li Wei mengangguk, Kaibo yang melihat itu meloncat kegirangan dan menggores jari Li Wei dengan kuku tajam di kaki kecilnya lalu menggabungkan darahnya dengan darah Li Wei. Cahaya emas mulai memancar dari jari Li Wei, luka yang ia dapati karna goresan kuku Kaibo pun menghilang meninggalkan tanda bulan sabit di jarinya.


"Dengan ini kau sudah resmi menjadi muridku, Dewa bulan."


...-----------------...