His Struggle

His Struggle
• BAB 9 •



Keisya membersihkan rambutnya menggunakan shampo dengan sekeras tenaga, agar bekas permen karet yang menempel di rambutnya segera hilang. “Ibu peri, kenapa harus terjadi sama gue sih."


Sebetulnya, Keisya ingin memberikan balasan yang setimpal pada pelaku, tapi ia urungkan niatnya itu, karena menurutnya tidak ada gunanya. Keisya juga boleh saja memotong rambutnya tapi, mengingat ibunya senang melihat rambutnya yang panjang, ia jadi tidak tega memotongnya.


The Evil Geng memang famous, seenaknya membully orang lain yang dianggap mengesalkan, semua pun dilawan. Bukan tanpa alasan Keisya menjadi sasaran. Mereka para kaum iri terutama Cika yang merupakan anak dari kepala sekolah, berkeinginan menjadi ketua OSIS.


Sayangnya, Pak Frey sendiri tak percaya pada anaknya. Murid dan guru lain pun berasumsi bahwa Cika akan memanfaatkan kekuasaan lebih hanya untuk bersenang-senang, tanpa memikirkan tanggung jawab. Apalagi melihat Keisya semakin dekat dengan Devan, bertambahlah beban Keisya nanti.


Setelah rambutnya dirasa bersih, Keisya langsung merebahkan diri di sofa. Seluruh badannya terasa pegal-pegal karena seharian bekerja. Walau bukan di kasur, ia tetap merasa nyaman. Keisya menoleh ke samping, tersenyum tipis menatap bibir putih ibunya.


Rindu, hanya itu yang terjuntai. Keisya mengecek ponsel untuk sekadar mencari hiburan, menemaninya dalam sepi pun jika ada berita penting.


Laura


Kei, besok gue nyusul lo di sekolah ya. Murid baru nih.


Keisya sedikit kaget membaca pesan Laura yang akan menjadi murid baru di sekolahnya. Mungkin Laura lebih nyaman tinggal di Indonesia, mengingat pacarnya lebih perhatian dari ayahnya sendiri.


Ok, Ra. Semangat ya! Gue siap bantuin lo.


~•••~


Suasana di kelas tampak berbeda hari ini. Keisya yang tengah duduk damai tersentak kaget mendengar suara ribut nan heboh dari kelas sebelah. Semua teman sekelasnya mendongakkan kepala, menatap jendela koridor kelas. Bayang murid di belakang guru yang sedang berjalan masuk itu mencuri perhatian. Mereka saling melemparkan pandangan membicarakan murid tersebut. Murid itu kemudian masuk ke dalam kelas, membuat suasana menjadi kian ramai.


"Ayo, kenalkan diri kamu," ucap wali kelas.


"Hi," sapanya ramah kepada teman sekelas yang juga disapa dengan 'hi'.


"Kenalin nama gue Laura Navarette dari Prancis. Gue pindah karena ada beberapa urusan, jadi gue tinggal di sini untuk sementara waktu."


"Laura blesteran ya?"


"Em ... ya, ayah gue Prancis, ibu gue Indonesia."


"Laura udah punya pacar?"


Laura diam. Hening tak bergeming alias enggan membuka mulut, ia mengalihkan pandangannya ke Keisya dan menyunggingkan senyum.


“Wih, dia senyum ke gue," kata teman di belakang Keisya.


“Pede lu, ke gue tuh," sahut teman sebangkunya.


"Emang senyum ke semua kali," ketus Anna, membungkam mulut mereka seketika.


"Kalau gitu kamu duduk di sebelah ... sana ya," guru tersebut menunjuk ke bangku paling ujung sebelah barat dengan tumpukan sapu dan kain pel di sekitarannya, tanpa teman sebangku.


Laura menghembuskan napas berat, tak suka tempatnya namun, hanya itu yang tersisa. Laura berjalan mendekati bangku kosong tersebut dan mendaratkan bokongnya.


~•••~


Pelajaran pertama selesai, guru yang mengajarnya pun keluar dari kelas. Laura merangkul tasnya pergi ke bangku Keisya yang berada di urutan kedua dari depan papan tulis lebih tepatnya di samping jendela.


"Kei, gue mau duduk samping lo," ucap Laura datang menggebrak meja, membuat Keisya teranjat kaget. "Misi," Laura mengibaskan tangannya mengusir Anna.


"Oi Anna, pergi sana," ketus seorang cowok di belakangnya sambil menggeser bahu Anna, membuat Anna mendengus.


"Temen lo di sana nungguin, si sapu sama si pengki. Lo kan gila bersih." Kedua cowok itu tertawa terbahak-bahak membuat Anna marah dan memukul meja keras.


"Gak usah disuruh gue juga mau pergi!" Anna membuang muka dan beranjak dari tempat duduknya.


"Kei, ntar makan siang bareng ya," ajak Laura.


"Ajak kita juga dong," ucap kedua cowok itu serempak.


"I--iya," kata Keisya ragu. Entah kenapa suasana hari ini terasa kurang baik.


~•••~


Waktu menunjukkan jam istirahat. Keisya merapikan barang-barangnya ke dalam tasnya, sedangkan Laura berbincang dengan teman barunya. "Lo, kok deket sama Kei?"


"Temen kecil," jawab Laura.


"Oh gitu, yuk ke kantin bareng," ajaknya pada Laura dan Keisya.


Keisya diam sejenak menatap sahabatnya di belakang, ia ingin mengajak ketiga sahabatnya terutama Anna.


"Kita ajak mereka juga ya." Keisya beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke meja paling belakang.


"Guys kita makan yuk."


"El temenin gue ke WC yuk." Anna langsung menggenggam tangan Isel dan menariknya hingga keluar dari kelas.


Keisya tertunduk pasrah, sudah pasti Anna marah.


Gwen menepuk pundak Keisya, sekadar memberinya semangat. "Gue ikut ke kantin.”


~•••~


Keisya, Gwen, dan Laura turun dari kelasnya, berjalan beriringan menuju kantin. Diam, tidak ada obrolan di antara ketiganya. Hanya terdengar suara bising dari murid lain yang berlalu lalang.


"Sekolah di sini bagus ya." Mata Laura menyapu sekeliling.


"Emang sekolah lo dulu gimana? Bukannya lebih bagus ya?" tanya Gwen yang sukses membuat Laura tertawa. Gwen mengernyit bingung, apanya yang lucu?


"Bagus dong sampe bikin gue jungkir balik sangking bagusnya.” Gwen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, humornya tidak bekerja hari ini karena ia sama sekali tidak menemukan hal yang lucu. Sedangkan Keisya terus tersenyum menatap Laura. Gadis itu senang melihat teman kecilnya hadir di sekolah. “Tapi muridnya pada nakal. Untungnya sih, gue gak ikut-ikutan, soalnya gue gak cantik," kata Laura melipat kedua tangan di depan dada.


Gwen mengagakan mulut, tersentak mendengar ucapan Laura. "Terus kita apa Kei? Upil gajah?."


Gwen merasa Laura itu terlalu merendahkan diri, seakan dirinya seperti tidak layak. Di saat bersamaan juga, seperti sedang merendahkan orang lain. Mungkin mendengar cerita dia yang tidak di perhatian ayahnya, membuat sikap Laura seperti ini. Entahlah Gwen tak mengerti.


Seperti biasa, suasana di kantin terlihat sangat ramai. Banyak murid yang perutnya diisi cacing-cacing berdemo unjuk rasa. Melihat pesona kecantikan Laura, semua murid pun mendadak menepi, seakan memberikan akses jalan untuknya. Ini kesempatan Gwen untuk memesan makanan, Keisya memesan minuman, dan Laura mencari tempat duduk yang kosong. Mata Laura menangkap Aldo dan Devan tengah menyantap bakso di pojok kantin, Laura segera berjalan menghampiri mereka sambil membalas senyum yang diberikan untuknya.


"Gue boleh duduk di sini?"


"Cantiknya ciptaan Tuhan," gumam Aldo, terfokus pada gadis berambut sebahu warna coklat dan berkukit putih di depannya itu.


"Bo-boleh dong. Duduk aja," kata Aldo, sepertinya Laura akan masuk dalam list Aldo sebagai cewek tercantik di sekolahnya.


"Makasih." Laura duduk berhadapan dengan Aldo sambil tersenyum lebar.


Aldo mengusap tangannya yang kotor lalu mengulurkannya pada Laura. "Gue Aldo, ketua basket."


Laura membalas uluran tangannya. "Laura Navarette.”


"Lo murid baru kan? Kalau butuh bantuan panggil gue aja. Gue siap kok bantu," cengir Aldo. "Oh ya, ini kenalin temen gue namanya—"


"Devan."