His Struggle

His Struggle
• BAB 24 •



Jika semua murid kelas dua belas harus fokus menghadapi berbagai ujian nanti, Devan berbeda. Ia harus mencari uang sendiri demi mengganti rugi kesalahannya yang sudah memecahkan pintu kaca laboratorium kimia sekaligus pengobatan Daffa.


Meskipun ayahnya seorang pemilik perusahaan terkenal yang memiliki restoran dengan cabang di mana-mana, tidak membuat Devan selalu bergantung pada ayahnya. Ia ingin membuktikan kalau dirinya mampu sekalipun dengan cara yang berbeda.


Sebelum aksinya dimulai, Devan menyempatkan diri menengok keadaan ibu Keisya di rumah sakit. Entahlah, ada rasa kangen tersendiri jika belum melihat wanita itu. Devan belum mengerti rasanya jadi Keisya tapi, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan hati gadis itu.


“Hey sus, apa kabar?” tanya Devan sembari masuk ke dalam ruangan.


Suster Alice tersenyum dan menjabat tangan Devan. “Baik kok, kamu kenapa dateng pagi-pagi ke sini? Gak sekolah?”


“Lagi di skors sus, ya biasa karena berantem,” ucap Devan santai lalu menyodorkan sekotak nasi goreng untuk Suster Alice. “Nih Devan bawain nasi buat suster, siapa tau belum makan.”


“Oh makasih ya,” kata Suster Alice sambil menerima pemberian Devan. Meskipun Devan sering membolos dan membuat onar tapi, sebenarnya dia memiliki sifat yang ramah dan sopan jadi tidak ada alasan untuk Suster Alice membencinya.


Devan mengangguk, ia menyeret kursi untuk duduk di samping ibu Keisya, dan mencium punggung tangan wanita itu. “Hey mom, ini Devan pasangan hidup Keisya.”


Suster Alice terkekeh kecil mendengar Devan.


“Heroik ganteng yang menemani mom dari samping, cie.” Devan tertawa tidak jelas sendiri. “Jangan cemberut mom ditinggal Keisya, dia lagi baca diktat di sekolah. Kalau dia balik lagi langsung omelin aja, atau gak Devan yang omelin, lo kebanyakan makan gula ya? Manis lo keterlaluan cie ... gitu gak mom?”


Suster Alice dibuat geleng-geleng kepala oleh Devan, ia mendekati cowok itu dan menepuk pundaknya. “Dev, mau suster anterin ke bawah gak? Ada ruang khusus perawatan gangguan mental loh di sana."


Bukannya sadar Devan justru semakin tertawa keras. “Suster gitu ngomongnya. Pasien koma harus sering diajak ngobrol.”


Suster Alice mengangguk. “Iya, ya udah lanjut.”


Akhirnya Devan melanjutkan lagi obrolannya. Setelah cukup puas, cowok itu bangkit berdiri dari kursi dan perlahan membolak-balik tubuh ibu Keisya untuk melancarkan sirkulasi darah serta mencegah ruam di punggung akibat terus berbaring.


“Udah mau jam satu. Devan pamit ya sus.”


“Oh iya, makasih udah mau ngejenguk. Keisya pasti seneng ada kamu di sini.”


Devan tersenyum. “Gue harap gitu.” Tanpa basa-basi lagi Devan langsung meraih jaketnya dari atas sofa dan berjalan keluar ruangan.


~•••~


Bunyi gerung motor saling bersahutan. Asap knalpot yang mengepul seakan tak mau ketinggalan. Bahkan, sorak-sorai para penonton terdengar menggema siang hari ini. Di sinilah Devan berada, duduk anteng di atas motornya berdua dengan lawannya di jalan yang sudah disulap menjadi sirkuit motor.


“Eh pan, gue ingetin lo sekali lagi. Lo gak harus ikut beginian ok, lo boleh pinjem uang gue kapanpun lo mau,” ucap Aldo sambil merangkul leher Devan.


Setelah menghilangkan dahaganya, Devan memberikan botol minumnya pada Aldo. “Slow, gue udah lama gak beginian.”


“Ok, awas ya kalau lo gak menang gue embat Keisya lo,” ucap Aldo sambil menepuk pundak Devan supaya Devan lebih semangat.


Devan terkekeh. “Nyawa lo di tangan gue.”


Kini Devan sudah siap untuk melaju di arena balapan dengan menggas motor ninjanya yang berwarna merah itu beberapa kali dan menurunkan kaca helm full facenya agar aman. Jika ia bisa memenangkan balap kali ini, maka motor lawan di sampingnya akan menjadi miliknya sepenuhnya.


“For you information, gue udah juara di formula J. Jadi setelah finish, tutup tangis lo.”


Devan menatap lawan di sampingnya, cowok itu mengacungkan jempol ke atas lalu menurunkannya ke bawah dengan tersenyum smirk. Tapi Devan membuang wajah menghadap ke depan dan memfokuskan tatapannya ke jalanan begitu juga lawannya, sebelum dia menutup helm.


“Ready! Set! Go!”


Devan membawa motornya dengan kecepatan tinggi tanpa rasa takut akan kecelakaan. Balapan berlangsung sangat sengit, cukup jauh motor Devan memimpin namun, motor lawannya dengan cepat menyalip. Begitu tiba di persimpangan depan, Devan berhasil meraih posisinya kembali, ia lantas menambah kecepatannya hingga penuh sampai retinanya menangkap garis finish dan


Brum!!!


“Congratulation for Devan Cal Nelson!”


Sorak para penonton menggema mengisi atmosfer di tempat itu, Devan membuka helmnya dan langsung disambut oleh Aldo serta teman-temannya yang lain. Mereka pun ber-highfive ria merayakan kemenangannya.


“Yah, gue gajadi ambil Keisya,” keluh Aldo sambil merangkul Devan yang masih duduk di atas motornya.


“Rayain dah. Kita ke club malam tempat biasa!” ucap Brian antusias.


Devan terkekeh sambil melirik Aldo. “Kafe ajalah.”


“Gila lo emang!” Robert, lawan Devan yang tak terima kekalahannya mendesah kesal dan langsung menghempaskan helmnya ke jalan. Sekarang giliran Devan yang tersenyum smirk karena motor dan uang Robert harus ludes kalah taruhan.


“Nangis dong beb!!!” teriak Aldo membuat teman-temannya tertawa lepas sekaligus mewakili kekesalan Devan. Sampai-sampai Aldo menyikut perut Devan hingga Devan meringis.


“Sialan!” umpat Devan.


“Hebat kamu bisa ngalahin pembalap legend itu. Sebagai bonus, malam ini kita main yuk,” ucap Sherina dengan nada menggoda.


Devan hanya tersenyum menanggapi Sherina justru Aldo, Brian, dan yang lain tampak antusias menanggapinya. “Sekarang aja sayang, gak usah nunggu malem,” kata Aldo sambil menggeser tubuh Brian yang menghalangi di depannya.


“Jangan Sher dia buas, mending sama abang tetep aman!” ucap Brian tak mau kalah.


Devan geleng-geleng kepala dengan tingkah temannya, ia kembali menurunkan kaca helm full facenya dan tancap gas ke depan. Membuat asap knalpot motornya menutupi wajah teman-temannya.


~•••~


Devan menghembuskan napas berat, melihat waktu pada arloji sudah menunjukkan waktu setengah empat sore. Itu berarti kegiatan belajar mengajar akan segera berakhir dan para murid beranjak untuk pulang. Dengan memakai hoodie, Devan berjalan cepat masuk ke dalam sekolah, agar tidak ada yang bisa mengenalinya karena dirinya sedang di skors.


Setelah sampai di depan ruang kepala sekolah, Devan langsung masuk ke ruangan. Beruntung Pak Frey sedang berada di tempat, sehingga Devan bisa langsung mengganti rugi pintu kaca laboratorium kimia dengan uang hasil menjual motor lawannya siang tadi.


Pak Frey dengan setuju menerima uang itu lalu menyuruh Devan untuk segera pergi. Setelah keluar dari ruangan dan melewati gerbang sekolah, Devan duduk di atas motornya sembari menunggu Daffa datang untuk membayar pengobatan dia.


Begitu bel berbunyi seluruh siswa-siswa dengan cepat berhamburan keluar kelas, tak sabar untuk sampai ke rumah masing-masing. Meskipun cahaya matahari begitu menyilaukan, Devan mengabaikannya dan tetap menunggu sampai Daffa muncul.


Tak lama kemudian Daffa menghampiri Devan dengan mengendarai motornya, membuka helmnya dan tak lupa memberikan tatapan tajam untuk Devan. “Mau apa?!”


“Ginjal lo biar gue jual.”


Daffa menelan salivanya susah payah, niat ingin terlihat sangar malah jadi gemetar. “Bisa cepet gak?”


Devan mengeluarkan amplop dari dalam saku hoodienya dan menempelkannya ke dada Daffa. “Biaya obat lo biar sehat mental.”


Daffa memegang amplop itu dengan ragu. “Berapa nih?”


“Dua puluh juta.”


Daffa lantas melempar amplop itu dengan kasar pada Devan. “Gue gak mau terima duit haram.”


Devan membuang wajahnya ke samping, jujur hatinya sakit seakan ditusuk ribuan jarum, mengingat perjuangan yang dia lakukan sudah dengan susah payah. “Manusia sombong kayak lo harusnya mati aja,” komentar Devan kembali menatap Daffa dengan tajam.


“Tapi gue bener kan?”


Devan kalap, langsung menggenggam kerah baju Daffa, tangannya sudah terkepal, dan bersiap untuk meninjunya. Namun, melihat tatapan sinis dari siswa-siswa yang melintas, membuat Devan terpaksa menenangkan diri.


“Ayo pukul!”


Devan berdecih, daripada menambah masalah lebih baik ia mengambil amplop di bawah kakinya. Melihat Keisya baru keluar dari gerbang sekolah, Devan langsung melempar amplop itu pada Daffa, mendekati Keisya, dan menarik tangan gadis itu menuju tempat sepi.


Keisya menepis tangan Devan. “Kenapa lagi Dev?” ia menatap Devan dengan ekspresi kesal sekaligus takut.


“Gue mau ajak lo ke rumah gue.”


“Mau ngapain?”


“Ngenalin lo ke orang tua gue.”


Keisya berdeham. “Lo mau ngelamar gue gitu apa gimana sih?”


“Kalau itu yang lo mau, gue siap ngelamar lo.”


Keisya memegang dahinya yang mulai pusing. “Setelah kejadian kemarin, lo mau bawa gue ketemu sama orang tua lo?” Keisya menggeleng tak setuju. “Lo nakutin gue Dev.”


Devan kembali memegang tangan Keisya. ”Gue serius Kei.”


Keisya memejamkan kedua matanya sambil menarik napas panjang agar rileks. “Gak mau, pokoknya gue gak mau ok,” ia menepis lagi tangan Devan.


Lagi-lagi Devan meraih tangan Keisya, ia belum mau menyerah, dan bersikukuh mengajak Keisya ke rumahnya. “Gue jemput lo abis dari kafe.”


“Gue sibuk!”


“Gak ada penolakan.”


Keisya berusaha menepis tangan Devan namun gagal karena genggamannya cukup kuat. “Lepasin gue atau gue teriak!”


Keisya menatap lama kedua mata Devan yang terdiam sejenak, mau tak mau Devan melepas genggamannya. Keisya langsung berbalik badan dan segera menghampiri Daffa. Dengan cepat Keisya memakai helm yang dipegang Daffa, naik ke atas motornya, dan berlalu hingga ke ujung jalan.