His Struggle

His Struggle
• BAB 29 •



“Keisya nitip ya sus,” ucap Keisya sambil memberikan bunga tulipnya pada Suster Alice. “Jangan rusak, jangan kotor, jangan patah, pokoknya harus tetep sempurna sampai tujuan, ok.”


Suster Alice mengangguk menanggapi permintaan Keisya yang sangat menyayangi bunga pemberian Devan itu. “Udah? Ada lagi?”


Keisya menggeleng. “Gak ada, oh ya makasih ya sus tadi udah mau jadi wali Keisya.”


Suster Alice mengelus lembut pipi Keisya. “Iya, gak masalah kok Kei,” kemudian suara klakson angkot terdengar berhenti di belakang Suster Alice. "Ya udah, suster balik ya. Kamu jangan pulang malem-malem nanti."


Keisya mengangkat sebelah tangannya, memberi hormat seakan sedang mengikuti upacara bendera. "Siap laksanakan!"


Suster Alice dibuat tersenyum, sebelum masuk ke dalam angkot. Angkot itupun melaju cepat dan hilang dari pandangan Keisya.


Tidak jauh dari gerbang masuk sekolah, langkah Keisya mendadak terhenti begitu junior OSIS-nya datang bergerombol sambil menyodorkan sekotak kue rasa green tea bertuliskan 'Maaf' dengan frosting cokelat di bagian atasnya.


“Maaf Kak Kei, kemarin kami pulang duluan. Kami janji bakal jadi lebih baik lagi, ini inisiatif kami beliin kue buat kakak.”


“Semoga suka kak.”


Seketika mata Keisya sumringah, ia tidak menyangka jika junior-juniornya begitu perhatian padanya. “Makasih banyak dek, tapi kalian gak perlu sampai repot begini kok.”


“Gapapa kak, kami seneng kok.”


Keisya terkekeh kecil. “Sumpah terharu gue, ya udah kalau gitu kita makan bareng di kantin yuk. Bentar lagi jam istirahat,” usul Keisya.


“Ok kak,” jawab mereka serempak dan berjalan menuju kantin.


~•••~


Bunyi dentuman sendok yang bertabrakan dengan piring begitu mendominasi seisi kantin. Tidak terlihat banyak murid bandel seperti biasanya mungkin karena anggota The Evil Geng sedang di skors tapi, hal itu justru membuat jiwa Keisya lebih tenang.


Setelah memesan minum untuk masing-masing, Keisya memotong kue berbentuk lingkaran itu menjadi beberapa bagian lalu, satu persatu ia bagiakan pada juniornya sambil bercerita tentang kejadian yang menimpanya kemarin.


“Eh kak, emang kak Keisya beneran jadian ya sama kak Devan?” tanya Putri out of topic.


Keisya mengedikkan bahu. “Belom.”


“Lah emang yang di lapangan tadi gak jadi?” Seketika pertanyaan Putri mengundang decakan dari teman-temannya.


“Lo kepo banget sih Put,” senggol teman di sampingnya.


Keisya tersenyum tipis. “Ya, doain aja.”


“Gue sih setuju aja kak, kalian cocok gitu apalagi sama-sama dekat dengan Pak Frey udah kayak anaknya dah kalian,” gurau Putri.


Keisya terkekeh. “Masa sih, yakin kalian gak iri?”


“Yeee! Bisaan aja ngelesnya,” ucap Putri yang langsung disambut tertawaan oleh teman-temannya.


Mereka banyak berbincang hingga tak sadar sudah lama bel istirahat berbunyi, Daffa pun muncul dengan menepuk kedua bahu Keisya dari belakang. “Makan Kei?”


Manjat tebing.


“Ya makan lah, gak liat?” decak Keisya.


“Et, gak bagi-bagi gue nih. Boleh gabung gak?”


“Duduk aja kok kak, gak ada yang ngelarang,” kata Putri mempersilahkan Daffa untuk duduk, Daffa pun mendudukkan bokongnya di samping Keisya. Sebenarnya Keisya malas jika harus bertemu dengan Daffa.


“Potongin buat gue dong,” pinta Daffa menunjuk kue yang di piring Keisya.


“Jelas-jelas kue itu di depan lo, potong aja sendiri.”


Daffa merangkul leher Keisya sekadar menenangkan gadis itu namun, langsung ditepis olehnya. “Lo kenapa Kei? Marah sama gue? Janji gak bakal gitu lagi."


Keisya tidak menggubris, ia yakin janji Daffa hanyalah omong kosong. Kalau saja tidak sedang bersama juniornya ia pasti sudah pergi dari hadapan Daffa.


Daffa melahap kue hasil potongannya sendiri. “Jangan deket-deket sama Devan lagi Kei, lo udah kena bully gitu. Gak kapok apa?”


Keisya menaikkan sebelah alisnya, kesal. Bukannya meminta maaf Daffa malah menyuruhnya yang tidak-tidak. “Terserah gue lah daripada lo yang ninggalin gue.”


“Denger ya Kei, lo gak boleh sampai jatuh ke pelukan sampah itu. Liat dong kelakuan dia dari kelas sepuluh gimana? Main ke club, bolos, pasti mainin cewek juga. Lo tuh udah jadi targetnya.”


Sontak Keisya membanting sendoknya di atas meja, membuat semua yang mendengar tersentak kaget. “Gue gak suka lo ngejelek-jelekin Devan.”


“Iya! Kak Daffa sok tau nih,” timpal Putri mewakili perasaan Keisya.


“Eh, ja-jangan kak.” Seketika Putri bergidik takut, siapapun tidak akan mau melakukan sit-up 100 kali. “Kayaknya kami harus ke ruang OSIS deh kak, ada urusan yang belum selesai.”


“Eh, tapi kuenya belom abis,” sergah Keisya.


“Gapapa kak, takutnya kerjaan kami nanti gak selesai.”


Keisya mengangguk. “Oh ya udah kalau gitu. Makasih ya buat kuenya.”


Putri mengangguk pelan, ia segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ruang OSIS, diikuti oleh teman-temannya yang lain.


“Mereka jadi takut kan gara-gara lo,” ketus Keisya.


Daffa tak menghiraukan. “Gue nasehatin lo sekali lagi Kei, Devan itu hobi berantem, kalau dia udah kesel sama lo, lo bakal kena pukul.”


Keisya menghela napas singkat. “Gak usah peduliin gue.”


“Itu buat masa depan lo sendiri—“ Daffa hampir tersedak begitu Aldo datang sambil merangkul lehernya.


"Yow! What's up man! Kenapa lo nyebut-nyebut nama sohib gue hah? Ada masalah?!” teriak Aldo di telinga Daffa, membuat Daffa meringis.


Aldo tak datang sendiri. Ada banyak temannya yang lain menyusul dan merusuh, termasuk Devan yang sekarang duduk di sebelah Keisya.


“Dikasih siapa?” tanya Devan santai.


“Dari junior gue, permintaan maaf karena udah ninggalin gue,” jawab Keisya sambil menyodorkan sepotong kue ke mulut Devan.


Devan melahap dan mengunyah kue pemberian Keisya. “Harusnya yang di sebelah itu yang minta maaf,” tunjuk Devan menunjuk Daffa yang kini sedang menatapnya tajam.


“Gak usah bacot lo!” teriak Daffa tapi lehernya langsung dicekik oleh Aldo.


“Eh, banci diem. Belom aja gue potong pisang lo,” ancam Aldo yang semakin mempererat genggamannya, membuat Daffa sesak napas.


Sayangnya Keisya tidak menggubris, karena ia sudah terlampau kesal dengan Daffa.


“Jadi, lo sukanya green tea ya?”


Keisya mengangguk antusias. “Ya dong, gue suka ... banget sama green tea. Mau itu selai, es krim, pudding.”


“Berarti lo juga suka sama gue. Kan mata gue green.”


Keisya terkekeh kecil. "Mungkin," ia menyodorkan potongan kue terakhir untuk Devan sambil menatap manik mata indah milik cowok itu. Tanpa perlu dijelaskan pun Keisya sudah tahu kalau Devan memiliki kedua bola mata yang berwarna hijau sejak pertama kali bertemu, benar-benar menjadi warna favoritnya dan tak sadar pandangan mereka sudah terkunci dalam diam.


“Uhuk! Uhuk!” lamunan Keisya kontan terbuai begitu mendengar suara batuk Daffa.


Ternyata Brian dan Aldo tengah merokok di hadapan orang yang mengidap penyakit asma itu. “Lo gak bisa ngerokok ya? Cemen, cemen.” Aldo menggeleng sambil menyembulkan asap rokoknya ke udara.


“Sorry, gue gak goblok, ngebubuh diri gue sendiri.”


“Ya udah nih gue kasih susu. Kalau gak mau juga mati aja lo!” sentak Aldo sembari menyodorkan segelas susu di hadapan Daffa.


“Ok, gue minum dalam seteguk. Liat lo!” Tanpa ragu Daffa meraih gelas itu dan menegaknya sampai habis, membuat Keisya tersentak kaget. Setelah itu ia tersenyum sinis. “Jangan ngeremehin lo!”


Aldo dan Brian tertawa berbarengan. “Waw! Hebat! Hebat! Anak mama emang sukanya minum susu," kata Aldo.


Tiba-tiba napas Daffa tersengal-sengal membuat wajah Aldo dan Brian langsung panik. “Eh, kenapa nih bocah?”


Cemas, melihat napas Daffa naik-turun, Keisya langsung mengambil inhaler di dalam tasnya dan memberikannya pada Daffa sambil mengelus pundak cowok itu sampai membaik.


Aldo dan Brian tampak bertepuk tangan dengan pertolongan pertama Keisya. “Gila! Calon dokter nih bro!”


Keisya berdecak kesal. “Ini bukan lagi bercanda Do, matiin rokok kalian Daffa kena asma.”


“Iya! Iya!” keluh Aldo lalu menginjak rokoknya ke lantai.


Devan tak mau kalah, ia lantas bangkit berdiri dan memijat kedua bahu Daffa dengan kuat. “Nah sembuh lo!”


Keisya sedikit terkekeh dengan tingah Devan, sebenarnya ia ingin membiarkan Devan menangani Daffa tapi, langsung ia tepis jauh-jauh pikiran tidak manusiawi itu.“ Udah Dev, ini anak orang bisa mati gara-gara lo,” ia menepis tangan Devan. “Ayo balik ke kelas Daf, udah bel.”


Beberapa kali Daffa menghirup inhaler itu, sebelum dia bangkit berdiri. Keisya segera melingkari tangannya di pinggang Daffa, menaruh tangan Daffa ke pundaknya, dan berjalan menuju kelasnya.


“Sabar ya ***,” ucap Aldo.