
Meskipun sudah berjalan di pinggir lapangan upacara dan di bawah pohon rindang, sinar matahari masih dengan kejamnya menyinari Keisya saat jam istirahat sekarang.
Keisya masih fokus membaca proposalnya dengan teliti, sampai-sampai menabrak bahu seseorang yang sedang melintas dan membuat berkasnya berjatuhan ke bawah. Ternyata seseorang itu adalah Cika yang sekarang berdiri di sampingnya sambil mengemut lolipop, kalau sudah begini bertambah panaslah diri Keisya.
“Maaf gak sengaja,” ucap Keisya lalu berjongkok mengambil kembali berkas-berkasnya yang jatuh.
“Udah jalan gak pake mata, ngehancurin sekolah lagi.”
Keisya terdiam sejenak. Sebaiknya, ia sigap meraih berkas-berkasnya, sebelum mendapat masalah dengan geng cabe. Namun, baru akan mengambil selembar kertas di sampingnya, kaki Cika justru menginjak tangannya.
Keisya mendongak menatap Cika. “Eh lo, ini tangan orang bukan semut.”
Cika tersenyum sinis. “Oh, sorry ya gue kira sampah."
Cika masih saja menginjak tangan Keisya, membuat Keisya geram ingin menerkamnya. Sontak Keisya menepis kasar kaki Cika sampai gadis itu berdecak kesal.
“Eh, sentuh kaki gue mahal. Lo harus bayar.”
Kini Keisya berdiri tepat menghadap Cika. “Semurah itu harga diri lo?”
Merasa emosi dan berapi-api mendengar ucapan Keisya, Cika lantas menekan lolipopnya ke pipi Keisya. “Lo jangan ngomong seenaknya ya. Lo tau gak, lo itu udah buat pekerjaan papi gue tambah banyak karena kasus lo kemarin. Udah ngehancurin sekolah, ngerepotin orang, harusnya ketua OSIS itu ngebagusin eh ini malah ngerusak. Gila gak sih?” cibir Cika sambil memutar bola matanya malas dan mengemut kembali lolipopnya.
Keisya hanya tersenyum sinis, entah kenapa kenapa rasanya ia ingin menonjok muka Cika di depannya itu.
“Gara-gara lo Devan jadi di skors selama tiga hari. Kan gue jadi gak bisa lihat yang seger-seger di sini and by the way lo pake pelet apa sih sampai Devan bisa ngejer-ngejer lo gitu?”
Kedua tangan Keisya yang sedang memegang berkas itu mendadak terkepal, ia benar-benar kesal dituduh memakai pelet.
“Udahlah Ci, ngapain ngomong sama orang gila. Gak guna!” Caca memegang sebelah bahu Cika di sampingnya, membuat Cika kembali melanjutkan langkahnya sambil menatap tajam Keisya di belakangnya.
Mata Keisya menangkap pot bunga besar di sampingnya, ia memegang pot bunga itu dan berniat menimpuknya ke kepala Cika. Tapi, ia tahan karena itu termasuk tindak kekerasan. Jadi, Keisya lebih memilih membuka sebelah sepatunya dan melemparnya tepat mengenai kepala Cika.
“Ban*sat!” dengus Cika.
Keisya tersentak kaget, ia sama sekali tidak paham kalau lemparannya mengenai sasaran. “Maaf gue gak sengaja!”
“Berani lo ya, maju lo!” Cika mulai mengejar Keisya namun, sekuat tenaga Keisya berlari dengan hanya memakai sebelah sepatunya menuju kantin.
“Eh! Pengecut jangan lari!” Jarak Cika semakin dekat dengan Keisya.
Melihat Daffa sedang memakan bakso di pojok kantin, Keisya langsung bersembunyi di belakang tubuh cowok itu sambil memegangi sebelah bahunya. “Daf tolongin itu Cika ngejar gue.”
Cika sontak menghentikan langkahnya begitu mendapat tatapan tajam dari Daffa seakan dia mau menusuk tubuhnya. Seketika Cika langsung berbalik badan dan pergi ke ujung jalan.
“Gila hebat Daf, lo ngeliatin aja langsung ciut dia,” kekeh Keisya sambil mengacungkan jempolnya.
Daffa menatap datar Keisya. “Tapi gak gratis.”
Seketika senyum Keisya memudar. “Maksud lo?”
Sepanjang istirahat Laura hanya berjalan menghabiskan waktu mencari keberadaan Keisya, di ruang OSIS, di perpustakaan, di toilet, bahkan di laboratorium kimia. Tapi, Keisya seakan hilang ditelan bumi. Mau tak mau Laura kembali mencarinya di kantin dan benar saja, Keisya sedang menyuapi Daffa dengan lembut di sana. Laura berniat mendekati Keisya untuk meminta maaf padanya.
“Lo tu udah sama kayak Laura tau gak. Manja maunya disuapin, gak diturutin malah ngambek.”
“Biar,” tukas Daffa.
Laura mengurungkan niatnya mendekati Keisya, hatinya kembali perih seakan ditusuk ribuan pisau mendengar kalimat itu. Lantas Laura berjalan putar balik, menjauh dari Keisya.
Niatnya masuk ke dalam kelas tapi, tiba-tiba saja Laura kebelet ingin pipis di tengah jalan.
Akhirnya, Laura terpaksa menggunakan toilet terdekat, tepatnya di belakang gudang yang terkenal cukup angker karena kabarnya ada siswi yang mati bunuh diri masuk ke dalam sumur. Keburu terjadi hal yang memalukan lebih baik Laura segera menggunakan toilet itu.
Setelah menyelesaikan panggilan alamnya, Laura tidak sengaja mendengar percakapan Cika bersama The Evil Geng-nya di gudang. Laura berjalan mengendap-endap dan mengintip dari cela pintu gudang.
“Udahlah langsung tusuk aja dia pake samurai,” ucap Shopia yang termasuk dalam kategori teman sekelasnya.
“Jangan lo terlalu sadis,” jawab Caca.
“Pokoknya lusa kita langsung habisin si Keisya! Kalian jangan ada yang cepu. Kalau ketauan cepu kita bully juga kayak Keisya! Setuju?” usul Cika sembari mengulurkan tangan.
Tujuh orang dari The Evil Geng itupun tampak mengulurkan sebelah tangan mereka sampai membentuk lingkaran.
“Setuju!” kata mereka serempak.
Laura langsung berbalik badan, menyender pada tembok sebelah pintu gudang, ia menghela napas gusar pikirannya mulai kalut memikirkan nasib Keisya. Sebaiknya ia segera pergi dari tempat itu sebelum mereka semua keluar namun, baru beberapa Laura berjalan kakinya tidak sengaja menendang kaleng kosong di depannya.
“Hey siapa itu!”
Tanpa pikir panjang, Laura langsung mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya, dan berpura-pura sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang sambil menendang-nendang benda yang berada di dekat kakinya, bersikap biasa saja.
“Eh, lo ngapain di sini?” Cika menepuk sebelah bahu Laura.
Tanpa menimbulkan gerakan yang mencurigakan, Laura menoleh ke belakang dengan ekspresi biasa saja. “Kenapa ya? Ada masalah?”
“Gue tanya lo ngapain di sini?!”
Laura tersenyum sinis. “Gue abis dari toilet.” Laura menunjuk toilet belakang gudang dengan dagunya. Untung saja ia sudah dekat dengan tempat itu. “Harusnya gue yang tanya ngapain kalian di sini? Kayak panik gitu mukanya.”
Cika terdiam sejenak, tubuhnya mendadak kaku seperti kenebo kering. “Oh, kita abis nyusun-nyusun barang di gudang ya gak Ca?” senggol Cika dengan sikutnya.
“Oh iya bener, ya udah ayo lanjut Ci. Entar waktu istirahatnya abis,” jawab Caca tak kalah kikuk. Cika mengangguk dan pergi menjauh dari Laura.
Laura kembali melanjutkan langkahnya dengan santai sampai menuju balkon depan kelasnya dan langsung bingung. “Anjir. Gimana tu Keisya. Bisa-bisa mati dibunuh sama mereka,” gumam Laura sambil berjalan bolak-balik.
Laura menggigit rambutnya yang digerai. “Bodoh banget, harusnya gue rekam omongan mereka supaya ada bukti. Aduh Laura! Laura!” gerutunya sambil beberapa kali menghentakkan kaki di lantai.
“Gue perlu pertolongan.”