His Struggle

His Struggle
• BAB 27 •



Keisya memicingkan matanya yang terasa berat. Perlahan kelopak matanya terbuka, ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya. Keisya melihat langit-langit yang berwarna putih dan Devan yang sedang menggenggam tangannya di sampingnya.


Tanpa diperintah sebelah tangan Keisya tergerak memegang pipi Devan sambil menyunggingkan senyum manis.


“Baby, take my hand


I want you to be my husband


'Cause you're my Iron Man


And I love you 3000,” gumam Keisya tidak jelas.


Devan terkekeh mendengar nyanyian Keisya. Baru kali ini Devan melihat Keisya berani menyentuhnya. Sedetik kemudian, Keisya membelalakkan mata, ia baru sadar kalau dirinya sedang tidak bermimpi dan tengah terbaring di ranjang rumah sakit tepatnya di UGD. Lantas Keisya menjatuhkan tangannya dan berpura-pura pingsan lagi.


Devan benar-benar tak bisa menahan tawanya karena kekonyolan Keisya. “Hey, bangun.” Devan menepuk pelan pipi Keisya. Gak usah pura-pura gitu gue tau.”


Keisya tidak menggubris.


“Kei?”


Tak ada jawaban dari Keisya.


“Ok, gue pergi nih,” usil Devan sambil bangkit berdiri tapi Keisya masih setia dengan posisinya.


Devan berjalan pelan sampai ke ambang pintu. “Gue tutup ya pintunya. Istirahat yang bener.”


Keisya sedikit membuka sebelah matanya untuk melihat keberadaan Devan. Ternyata benar, cowok itu akan pergi. Sontak Keisya mengubah posisinya menjadi duduk. “Jangan! Jangan tinggalin gue.”


Devan tersenyum tipis, sebelum menoleh ke belakang. “Kenapa?”


“Gue takut sendirian,” lirih Keisya.


Devan mengangguk pelan, ia kembali mendekati Keisya, duduk di sampingnya, dan perlahan menggenggam kedua tangan gadis itu. “Gak usah takut, ada gue di sini.”


Entah kenapa Keisya tidak lagi masalah jika digenggam Devan, rasanya terlalu berharga untuk dilepaskan. “Kok ketawa?” tanya Devan melihat Keisya terkekeh.


“Lo punya kekuatan holographic projectors ya?”


Devan menaikkan sebelah alisnya bingung. “Kekuatan apa?”


“Iya, lo juga pasti punya senjata M134 minigun buat nyerang geng cabe, repulsors yang bisa buat lo terbang jemput gue, tri-beam sampai lo kehabisan energi karena bawa gue ke sini, dan—”


Keisya langsung bungkam begitu Devan mengelus puncak kepalanya dengan lembut. “Gara-gara ditimpuk ya makanya lo jadi gini?”


Keisya tersenyum menutupi tawanya. “Bukan karena ditimpuk.”


“Terus?”


“Because you're my iron man.”


Devan terdiam sejenak, sedetik kemudian ia tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat detakan jantung Keisya berhenti sepersekian detik. “I'll do my best for you.”


Meskipun Keisya mengalami banyak masalah karena dekat dengan Devan, luka fisik bahkan mungkin trauma yang mengganggu, ia tetap tersenyum ceria seolah tidak ada beban berat yang mengusiknya.


~•••~


Setelah mengurus beberapa administrasi rumah sakit, Gwen, Isel, Anna, dan Laura langsung berlari menuju UGD. “Tuh Devan udah keluar belum dari UGD?” tanya Gwen mengingat Devan belum juga muncul.


“Kayaknya Keisya belum sadar deh,” pikir Isel.


Mereka lantas mempercepat langkah mereka. Begitu sampai di depan pintu UGD, Gwen mendadak mematung, membuat teman-temannya itu mengernyit bingung.


“Jangan masuk kalau kalian gak mau jadi obat nyamuk,” ucap Gwen masih terfokus pada Keisya dan Devan yang saling menatap dan berpegangan tangan dari balik kaca pintu UGD itu.


Laura terkekeh melihat keromantisan Keisya dan Devan. “Gwen, fotoin mereka dong,” pinta Laura sambil menunjuk kaca itu.


Gwen bergidik geli. “Dih, ngapain gue nge-foto orang lagi pacaran. Eh, gue gak sejomblo itu kali.”


Laura berdecak kesal, ia langsung merampas ponsel Gwen yang sedang dipegangnya lalu memotret Keisya dan Devan beberapa kali. Setelah puas, Laura mengembalikan lagi ponsel Gwen. “Nih, kirim ke gue ya.”


Gwen menganga heran, untuk apa Laura memotret keduanya? Hanya menambah virus di ponselnya saja, pikir Gwen.


Laura ingin menunjukkan kedekatan Keisya bersama Devan pada Daffa, karena sebelum kejadian itu terjadi, Daffa lebih dulu meninggalkan Keisya bersama tugasnya yang menumpuk di ruang OSIS. Selain itu, bisa Laura tebak kalau Daffa sengaja memprovokator ia dan Devan sedang menonton bareng waktu itu sampai membuat hubungannya dengan Keisya renggang.


Laura yang masih berdiri di depan pintu UGD tersentak kaget, begitu Devan keluar dari dalam. Sekarang giliran sahabat-sahabat Keisya yang masuk ke ruangan. Keisya langsung berpelukan dan tak henti-hentinya berterima kasih pada Laura dan teman-teman, ia sangat bersyukur memiliki teman setia seperti mereka.


~•••~


Keisya berada di dalam ruang kepala sekolah. Duduk di sofa bersama Suster Alice yang mewakilinya. Sedangkan, orang tua dari anggota The Evil Geng duduk di sebelahnya. Setelah pembullyan kemarin, orang tua dan walimurid itu langsung dipanggil ke sekolah untuk membicarakan kesalahan yang telah diperbuat anak-anak mereka.


Kepala sekolah menyuruh pelaku untuk menempati bangku deretan paling depan yang sudah di sediakan. Cika tertunduk sambil memilin jarinya, mencari ketenangan untuk dirinya. Sejujurnya gadis itu sedang cemas, dia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah. Walaupun kepala sekolah itu adalah ayahnya sendiri.


Caca tak kalah dihantui rasa bersalah karena sudah ikut dalam aksi pembullyan yang dilakukan teman-temannya. Jika waktu bisa berputar ke masa lalu, ia ingin menjadi anak baik saja.


Pak Frey menatap tajam siswinya satu persatu. Bahkan, tanpa basa-basi ia langsung bicara ke inti permasalahan. "Annastasya Shopia dinyatakan keluar dari sekolah karena tindak memukul siswi kita yang bernama Keisya Aira Denaya dengan tongkat bisbol di kepalanya hingga jatuh pingsan. Kepada ibunda Shopia, silahkan diambil suratnya." Pak Frey menaruh surat keterangan yang menunjukkan bahwa Shopia sudah dikeluarkan dari sekolah di atas mejanya.


Tak terima anaknya dikeluarkan, ibu Shopia alias Eva lantas berdiri dan mendekat ke meja Pak Frey. "Pak! Anak saya gak sendirian di sana. Mereka ada tujuh orang tapi kenapa cuma anak saya yang dikeluarkan?!"


Pak Frey menghela napas panjang. Mencoba bersikap tenang menghadapinya. "Ibu ini sudah keputusan yang terbaik. Kalau ibu mau yang lebih parah kami bisa laporkan masalah ini ke polisi dan anak ibu kami penjarakan."


Eva langsung bungkam, sekarang ia tak dapat berkata sepatah kata pun. "Pak, apa anak saya tidak bisa dikasih keringanan? Dia anak yang pintar apalagi mau lulus—"


"Silahkan keluar dari sini bu. Kami masih harus mengurus yang lain," lanjut Pak Frey, yang sukses membuat Eva mematung.


"Biar masalah ini cepat clear. Silahkan para pelaku meminta maaf dengan yang bersangkutan," lanjut Pak Frey.


Dengan tulus Keiya menjabat tangan mereka satu persatu. Ekspresinya terlihat penuh penyesalan. Syukurlah jika mereka sadar, ia berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali.


Namun, Shopia menolak berjabat tangan dengan Keisya, air matanya berjatuhan bersamaan dengan tatapan tajam untuk Keisya. “Lo ingkar janji, lo bilang bakal ngajarin gue matematika sampai nabrak gue dan berkas gue jatuh waktu pulang. Harusnya, kalau lo ajarin gue, mungkin waktu itu gue bakal menang olimpiade.”


Keisya tau betul siapa Shopia, teman sekelasnya yang selalu datang membantunya piket, mengerjakan tugas sekolah, bahkan sering mentraktirnya makan siang. Bisa dikatakan cukup dekat.


“Gue bener-bener minta maaf,” lirih Keisya.


“Minta maaf gak bakal balikin apapun!” pekik Shopia membuat semua yang ada di ruangan menoleh ke arah mereka.


“Lo segitunya marah cuma karena gak menang olimpiade?”


Shopia berdecih. “Oh iya lo kan udah menang olimpiade, susah emang ngomong sama yang pelit dan sombong!”


Keisya menghela napas panjang. “Gue gak maksud ngelupain janji gue, waktu itu gue pulang karena tau ibu gue kritis. Dia koma Shopia.” Shopia terdiam sejenak. “Gue menang olimpiade, iya gue tau. Rasanya pas pulang ke rumah mau ngasih tau orang tua 'bu, ayah, Keisya juara satu kalian pasti bangga kan' tapi gue gak bisa. Gue cuma bisa ngomong sendiri, sampai gue mikir mungkin gue bakal gila waktu itu.”


Shopia tertegun, benar jika mereka sering bersama. Sayangnya, Shopia tidak tau apapun tentang kehidupan Keisya. Sikap egoisnya memang sudah keterlaluan.


“Maafin gue,” pinta Keisya sambil mengulurkan tangan. Setetes air mata mulai lolos dari kelopak mata Keisya, hal yang paling Keisya benci akhirnya terjadi lagi. Ya, ia benci menangis karena seperti menjadi lemah kembali.


Shopia mengangguk dan menjabat tangan Keisya, sudah terlambat untuknya kembali berteman karena ia takkan bisa bertemu Keisya lagi.


“Ayo cepet! Mama harus cari kamu sekolah lain.” Eva mencengkram kuat bahu Shopia sampai membuatnya meringis, sebelum keluar dari ruangan.


Pak Frey meraih catatannya yang sempat terjatuh di lantai dan melanjutkannya kembali. "Untuk yang lain, kalian akan diskors selama satu minggu. Bukan di rumah tapi ikut bimbingan konseling. Surat dikeluarkan dari sekolah akan diberikan pada kalian apabila melakukan tindak kekerasan lagi."


Pada akhirnya para orang tua tetap pasrah menerima hukuman untuk anak-anaknya. Tidak dikeluarkan dari sekolah saja, sudah cukup membuat mereka lega.


Sebenarnya Pak Frey ingin mengeluarkan para pelaku dari sekolah sekarang. Namun mengingat reputasi dan nama baik sekolah, ia terpaksa masih menerima mereka.