His Struggle

His Struggle
• BAB 6 •



Kembali ke rutinitas kini Keisya dan temannya yang lain sedang belajar pelajaran Bahasa Indonesia. Hampir seisi kelas mengantuk bahkan, ada yang sudah tertidur lelap, tapi Keisya tidak. Ia sangat senang mendengar kata demi kata dari mulut gurunya dan dicatat tanpa tertinggal sedikit pun.


Tak lama kemudian bel tanda istirahat berbunyi, sebagian murid berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin, sibuk sendiri, bahkan untuk sekadar menghirup udara segar.


Brak. Gwen menggebrak meja Keisya.


"Lo masih punya utang cerita sama gue, sejak kapan lo bisa makan bareng Devan di kantin kemarin?" Keisya mengernyit bingung dengan sahabat satunya ini, sangat update kalau sudah membahas tentang Devan. "Gue juga liat lo dianternya pulang. Pantes aja kemarin cepet-cepet mau pulang."


"Gak gitu loh, Gwen imut."


"Ya, terus kenapa dong?" Gwen memasang puppy eyes-nya, jurus andalan yang mampu membuat hati Keisya luluh.


Keisya mulai bercerita panjang lebar tentang kegiatannya bersama Devan kemarin, dengan sedikit bumbu yang disembunyikan olehnya. Misalnya, saat Devan tau ia habis menangis. Gwen memperhatikan Keisya dengan seksama layaknya sebuah patung. "Lo gak tau sih kalo dia jago gombal. Tapi, diem-diem aja ya, ini cuma lo yang tau."


"Devan bisa gom--" Keisya langsung menutup mulut Gwen begitu semua yang ada di dalam kelas menatap ke arahnya.


"Lo bisa diem gak sih Gwen?"


Untung saja Isel sedang menari dengan alunan musik yang mengiringi dari earphonenya, meliuk-liukan badan sesuai instingnya dan Anna yang sedang menyempatkan diri dengan kegiatan membersihkan kelas. Kalau saja, mereka rusuh seperti Gwen pasti Keisya bakal terkena masalah.


"Oh jadi gitu. Coba kuncinya gue aja yang balikin."


"Makanya kerjain pr tuh di rumah, biar gak nyesel."


"Panggilan kepada Keisya Aira Denaya kelas dua belas MIPA empat harap segera ke ruangan OSIS sekarang terima kasih."


"Itu pasti suaranya Daffa Adrian."


Keisya mengangguk dan menyusun bukunya masuk ke kolong meja. "Ya udah gue ke sana ya." Keisya beranjak dari tempat duduk, melambaikan tangan kepada tiga sahabatnya, lalu berjalan ke lapangan menuju ruang OSIS yang membutuhkan waktu tiga menit untuk sampai ke sana.


"Hu ... ! Norak lo." Terdengar suara ejekan dari mulut seorang gadis.


Bugh!


Sebuah bola voli menghantam kuat pelipis Keisya, membuatnya meringis menahan sakit yang bergejolak. Mungkin itu ulah gadis tadi, walaupun begitu Keisya yang berbaik hati tetap mau mengembalikan bola itu untuknya.


Plak!


Gadis tersebut alias Cika menampar pipi kirinya Keisya. Apakah ini yang disebut dengan air susu dibalas air tuba?


"Makasih ya, bau." Mendengar kata yang keluar dari mulut cabe itu, harus membuat Keisya bersabar. Di saat seperti ini tidak boleh terpancing emosi. Daripada meladeni gadis ini lebih baik Keisya menjauh dari hadapannya, lalu pergi menuju ruang OSIS.


"Keisya!" Daffa memanggil Keisya yang berada di ambang pintu masuk lalu menghampirinya. "Ini uang olimpi--" ia terdiam melihat ekspresi wajah Keisya yang tidak biasanya. "Lo kenapa Kei?"


Keisya menggeleng seolah tidak terjadi apa-apa. "Kenapa manggil gue?"


"Ini uang olimpiadenya udah cair. Sori ya gue manggil dari mic, mager ke kelas sih hehe."


"Ternyata Daffa bisa mager juga ya."


"Ya udah gue ke kantin ya. Mau nitip gak?"


"Jangan pedes ya," ucap Keisya sambil memberikan uang lima ribuan ke Daffa.


Keisya mengecek uang yang ada di amplopnya memastikan apakah jumlahnya sesuai atau tidak. Keisya mendadak diam, matanya menatap lurus kedepan dengan pikiran kosong. Keisya memikirkan Cika, mengapa dia sampai menamparnya?


Brak. Daffa masuk membanting pintu, membuat Keisya teranjat kaget.


"Ini Kei batagornya." Terlalu lama berpikir membuat Keisya tidak sadar kalau Daffa sudah kembali dengan pesanannya. Keisya lanjut berkonsentrasi menghitung uang di amplopnya. Lembar demi lembar.


Daffa yang sedang melahap batagornya, sadar akan raut wajah Keisya, merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu. Keisya terlihat pucat seperti orang yang ketakutan. "Kei?" Daffa memanggil, mata gadis itupun melirik ke arah si pemanggil. "Lo kenapa?" Kemudian Daffa mengarahkan kelima jemarinya menyentuh pipi halus Keisya yang langsung ditepis oleh Keisya.


"Gapapa Daf!"


Daffa berpikir, mungkin Keisya takut jika pulang sendirian membawa uang sebanyak itu. "Pulang nanti mau gue anter? Bahaya sih bawa pulang uang segitu," tapi Keisya hanya menggeleng menandakan penolakan.


"Cika nampar gue tadi."


"Hah?!" ekspresi Daffa berubah terkejut. "Wah, pasti gara-gara deket sama tuh tikus. Udah gue bilang kan jangan deket sama Devan. Bahaya. Ya udah gak usah dipikirin, entar gue lindungin lo dari Cika dan The Evil Geng-nya."


Keisya mengangguk, membuka bungkus makanan yang ada di hadapannya, lalu melahapnya. Keisya harap ucapan Daffa bukan sekadar kalimat penenang.


~•••~


16.00


Mendung. Itu yang menimpa Keisya sekarang, padahal langit biru terlihat cerah siang tadi. Jika hari ini tidak mendung pasti angkot yang ia tunggu sudah datang, begitu pun ponselnya yang sekarang mati. Entah kenapa Keisya terus menyalahkan langit, sampai tubuhnya terasa dingin karena diterpa angin.


Terdengar suara motor ninja dimatikan di sebelahnya, Keisya pun menoleh dan mendapati motor yang sama saat ia diantar kemarin.


"Lagi nunggu siapa neng?" tanya Devan tapi tidak ditanggapi Keisya. "Mau bareng? Bentar lagi hujan."


Menunggu dan berdoa agar angkot datang, hanya itu yang bisa Keisya lakukan. Pulang bareng bersama Devan hanya akan menimbulkan masalah. Tapi, cowok itu malah tidak tinggal diam. Devan turun dari motor, melepas jaket yang dikenakannya dan melingkari jaket itu ke tubuh Keisya.


"Biar hangat."


Jantung Keisya kembali bekerja tidak normal bukannya hangat, Keisya justru semakin dingin karena menahan gugup. "Lo emang gak kedinginan?"


"Dingin, kalau lo gak ada di samping gue."


Boleh gak sih gue pukul nih cowok, bikin baper mulu.


Sekarang Devan ikut-ikutan menunggu Keisya, sialnya hujan sudah turun dan semakin deras. Dua puluh menit berlalu, tak ada pergerakan dari mereka. Keisya harus segera pergi ke tempatnya bekerja jika tidak ingin gajinya dikurangi. Tak ada pilihan selain menembus hujan dan meminta Devan mengantarnya. "Dev, boleh minta tolong anterin gue--"


"Ok, ayo naik." Belum sempat Keisya menuntaskan perkataannya, Devan sudah lebih dulu memotong. Devan memanaskan motornya dan memberikan helm pada Keisya, sebelum Keisya naik ke atas motor. "Lo yakin mau nembus hujan?"


"Harusnya gue yang nanya itu ke lo."


"Ya elah, hujan gini sih kecil. Gue takutnya lo jadi sakit."


"Udah gue gapapa."


Devan mengangguk, ia langsung mengendari motornya dengan kecepatan tinggi, membuat kedua tangan Keisya memeluk erat pinggang Devan dan memejamkan mata karena takut.


"Pegangan yang kuat, biar gak jatuh."