His Struggle

His Struggle
• BAB 22 •



“Iya bu, maaf hari ini Keisya gak bisa kerja soalnya mau mengurus masalah di sekolah.”


"Ya sudah gapapa, semoga cepat selesai ya masalahnya."


“Iya, makasih banyak bu.”


Setelah diberikan izin oleh bosnya, Keisya kembali duduk di samping Daffa yang tengah menahan luka-luka di sekujur tubuhnya sambil terbaring di ranjang rumah sakit tepatnya di UGD.


“Kei, tolong ambilin gue minum,” kata Daffa yang meringis memegangi kepalanya.


“Oh iya iya minum!” Keisya dengan sigap menuangkan air minum ke dalam gelas lalu memberikannya pada Daffa.


“Gue susah, bantuinlah.”


Keisya segera menopang tengkuk Daffa dengan tangan kirinya dan tangan tangan kanannya memegang gelas. Setelah Daffa minum, dia kembali ke posisinya semula.


“Makasih.”


Keisya mengangguk lalu menoleh ke belakang. Dari balik jendela ruangan, terlihat Devan dan ayah Devan alias Nelson tengah berseteru dengan ibu Daffa dan Pak David. Napas Pak David naik-turun begitu juga dengan ibu Daffa yang tak henti-hentinya memarahi Devan walaupun dia sudah tertunduk bersalah.


Tiba-tiba bola mata Devan bergeser menatap Keisya, membuat Keisya langsung mengalihkan pandangannya ke lantai. Gadis itu enggan melihat cowok yang sukanya berantem, apalagi kasar karena sudah mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.


“Udah gue bilang Kei, jauhin Devan kalau lo gak mau kena masalah,” tegur Daffa.


Keisya mendongak menatap Daffa. “Emang kenapa Devan sampai marah segitunya sama lo? Lo ngomong apa sama dia Daf?”


Daffa tersenyum sinis dengan tanggapan Keisya yang seakan membela Devan. Meskipun gadis itu kecewa dengan sikap buruk Devan tapi hatinya masih saja untuk Devan. Rasanya Daffa ingin menjatuhkan Keisya ke dalam sumur yang terdalam.


Tak lama kemudian, Devan dan Nelson berbalik untuk pulang ke rumah. Sedangkan, ibu Daffa dan Pak David masuk ke ruangan Daffa, membuat Keisya tersentak kaget akibat suara pintu yang terbanting cukup kuat, sepertinya ibu Daffa sangat marah padanya.


Keisya berdiri dan berniat menyalami tangan ibu Daffa namun, langsung ditepis kasar oleh wanita berambut keriting dengan syal di lehernya itu. “Gara-gara kamu kan Daffa juga jadi begini.”


Keisya menyatukan kedua telapak tangannya sambil tertunduk dalam. “Maafin Keisya bu.”


“Bu Ani tenang, Keisya gak salah dia gak tau kalau kejadiannya bakal begini,” sela Pak David.


Bu Ani melepas syal yang melingkar di lehernya, menghempaskannya ke lantai dan menunjuk Keisya dengan telunjuknya. “Pokoknya kamu jangan deket-deket Daffa lagi, kalau masih berani mendekati anak saya, saya gorok kamu!” ancam Bu Ani seraya memperagakan gaya memotong leher dengan telunjuknya. “Saya gak main-main ya!”


Keisya mengangguk takut sambil mengangkat sebelah tangannya. “Iya bu Keisya janji.”


“Ya sudah kalau gitu pulanglah ke rumah kamu, hari sudah malam,” perintah pak David.


Keisya mengangguk pelan sambil melirik mereka satu persatu. “Kalau gitu, Keisya pamit ya. Permisi,” ia langsung berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan.


Sebenarnya Keisya tidak sedang berjalan pulang ke rumah, ia hanya pergi ke ruangan atas tempat ibunya terbaring koma karena satu-satunya rumah sakit yang terdekat dengan sekolahnya hanya rumah sakit ini.


Setelah masuk ke ruangan ibunya, Keisya langsung meletakkan tasnya di atas sofa, duduk di samping ibunya, dan menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangannya di ranjang rumah sakit.


Suster Alice memijat kedua bahu Keisya agar rileks tapi tangannya langsung ditepis Keisya. “Gapapa sus, Keisya cuma mau begini. Sebentar ... aja.”


Suster Alice mengangguk, sepertinya pekerjaan Keisya sedang banyak-banyaknya apalagi mengingat dia sudah kelas dua belas. Lantas Suster Alice membereskan barang-barang milik Keisya agar tersusun rapi.


~•••~


Brak!


Nelson membanting gelas ke atas meja. Emosinya kalut menghadapi sikap anaknya yang semakin hari semakin buruk. Meskipun di sekolah, Devan di cap sebagai bad boy yang ditakuti tapi, kalau sudah berhadapan dengan ayahnya, nyali Devan ciut bagaikan semut dan gajah, terduduk takut di ruang tamu bersama Jeslyn yang mencoba menenangkan Nelson dengan mengelus kedua bahu suaminya.


“Kamu itu ya! Kerjaannya cuma pukul-pukul orang! Apa manfaatnya hah?! Apalagi soal cewek. Malu-maluin papa kamu!”


“Sudah pa sudah, Devan ngelakuin itu pasti ada alasan.”


Bukannya membantu kakaknya, Robi yang sedang berdiri di tengah undakan tangga malah cekikikan senang karena dipuji.


“Devan minta maaf pa,” lirih Devan tapi, tatapannya menajam menatap Nelson.


Nelson semakin dibuat kesal. “Minta maaf katamu? Untuk apa kalau masih melakukan hal yang sama hah?!”


Devan terdiam, ia tidak bisa berjanji untuk tidak melakukannya lagi.


“Papa sudah telepon temen papa dan dia setuju dengan perjodohan kamu.”


Devan mendadak bangkit berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. “Devan gak setuju pa!”


“Kenapa? Daripada mengharapkan gadis yang cuma bisa buat kamu jadi begini. Kenapa tidak dengan gadis yang baik, pintar masak, dan kaya. Papa tau kamu bakal mau kamu juga pasti bisa berubah.”


Urat-urat di leher Devan mulai menonjol, ia meraih jaket navy-nya di atas sofa dan berlalu ke kamar.


“Devan! Kartu kredit kamu papa potong sampai nol jadi kamu bayar ganti rugi kaca sama pengobatan Daffa pake uang kamu sendiri.”


Langkah Devan mendadak berhenti di tengah undakan tangga, ia menoleh menatap Nelson dengan tatapan yang semakin menajam. Sedetik kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.


Kedua bahu Nelson terangkat naik karena tak bisa menahan emosi, ia mencoba mengatur napasnya yang seakan terkena penyakit asma.


“Papa tenang ya, nanti mama yang coba bicara sama Devan,” tutur Jeslyn masih dengan mengelus kedua bahu Nelson.


“Ya sudah kamu kasih tau sana,” suruh Nelson sambil mengibaskan tangannya.


Jeslyn mengangguk dan segera menyusul Devan ke lantai atas. Beruntung pintu kamar Devan tidak tertutup jadi, Jeslyn bisa langsung masuk dan duduk di samping tempat tidur, di mana Devan sedang membaringkan diri sambil merentangkan kedua tangannya.


“Kamu gak perlu maksain diri, pake aja uang mama.”


Devan mengusap wajahnya kasar. “Gak usah ma Devan bisa cari sendiri.”


“Kamu yakin?”


“Seratus persen!”


Jeslyn menghela napas panjang. “Kalau dijodohin kamu setuju?”


Kali ini Devan mengubah posisinya menjadi duduk. “Devan udah suka sama dia ma, gak bisa diganggu gugat.”


Jeslyn mengelus sebelah bahu Devan. “Kalau gitu, kamu harus bawa dia ke rumah. Yakini papa kamu kalau pilihan kamu itu udah benar.”


Devan menatap pupil mata indah milik ibunya. “Boleh?”


Jeslyn mengangguk penuh setuju. “Mama selalu dukung semua keputusan kamu.”


Devan berusaha untuk menahan senyumnya. "Bener nih?"


Lagi-lagi Jeslyn mengangguk. "Iya, kamu gak percaya?"


Devan terkekeh dan langsung memeluk erat ibunya. “Percaya. Makasih mama cantik."


Jeselyn terkekeh kecil. “Ya sudah besok kamu harus ke ruang kepala sekolah dan nguli cari uang. Ok?”


Mendadak Devan melompat naik ke atas tempat tidurnya dan berteriak sekuat tenaga. “Yeah!!!”


Jeslyn yang mendengar teriakan nyaring Devan lantas menutup kedua telinganya. “Hey! Sudah-sudah nanti papa kamu marah lagi.”


Setelah puas berteriak, Devan kembali duduk seperti semula, menatap wajah ibunya, dan mengangguk. Secepat mungkin Devan akan membawa Keisya ke kehidupan keluarganya.