His Struggle

His Struggle
• BAB 7 •



Setelah memakan waktu dua puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah Keisya. Keisya melepas jaket serta helm, lalu menyodorkanya pada Devan. "Sekali lagi makasih ya Dev, entar bensinnya gue ganti.”


"Gak usah. Gue cuma mau lo selamat."


Keisya tersenyum namun, senyumnya langsung memudar saat melihat bibir Devan yang biru. Hujan memang reda tapi dingin yang mendekap di tubuh Devan semakin bertambah. “Dev, ayo masuk dulu.”


Devan tampak menimbang-nimbang karena akan masuk ke rumah cewek, tapi sedetik kemudian ia mengangguk.


Keisya segera menyiapkan secangkir teh hangat untuk Devan serta baju peninggalan ayahnya dahulu. “Maaf kalau bajunya kurang bagus.”


“Penting gue gak basah-basahan.” Devan yang tanpa malu pun langsung membuka bajunya di depan Keisya, membuat Keisya langsung menutup matanya.


“Bisa gak sih, gak usah ganti baju di depan gue?”


“Oh, sori.” Keisya pun harus menunggu Devan selama semenit, sebelum ia benar-benar membuka matanya.


“Udah nih.” Mendengar suara Devan yang cukup dekat, Keisya mengernyit bingung, perlahan ia membuka matanya.


“Astaga! Lo gila!” Keisya sontak menjauhkan cowok itu dari wajahnya karena dekat sekali.


“Kaget ya?”


“Ketawa.” Keisya mengerucutkan bibirnya, sudah kaget masih saja ditanya, tapi cowok itu hanya tertawa.


“Oh ya, nyokap, bokap lo mana?”


"Lagi pergi keluar kota.”


Devan memperhatikan gerakan bola mata Keisya yang mengarah ke samping. Gadis ini berbohong. “Gak usah bohong, ngomong aja.”


Astaga, umpat Keisya dalam hati. Manusia ini sungguh peka. “Gue gak bohong.”


“Cerita sama orang lain bisa ngurangin beban di hati lo. Jangan disembunyiin."


Keisya menghela napas singkat, mau tak mau dia harus mengalah dan jujur. Hitung-hitung karena Devan sudah mengantarnya. “Bokap gue udah ninggal karena penyakit paru obstruktif kronis yang menyerang dinding alveolus-nya jadi, mengalami kerusakan, itu juga karena kebanyakan menghirup asap tembakau dari rokok. Terus nyokap gue ….” Keisya berusaha setegar mungkin, namun air matanya sudah jatuh duluan. "Koma."


"Kalau boleh, gue mau liat kondisi nyokap lo.”


"Lo tunggu bentar ya." Keisya masuk ke kamarnya, mengambil sejumlah uang dari brankasnya untuk dibawa ke rumah sakit. “Gapapa Kei, cuma Devan yang tau.” Keisya menghitung dan menghitung lagi. Kini uangnya hanya tersisa untuk waktu tiga bulan, itu pun sudah di tambah dari pendapatan kerjanya. Keisya membereskan barang, memasukkan uangnya ke dalam tas, lalu keluar dari kamar.


Devan mengernyit bingung, melihat Keisya yang kembali menggendong tas. "Lo beneran pengen liat Dev?" Devan mengangguk yakin. "Kalau gitu, lo mau gak nganterin gue lagi? Gue mau kerja dulu."


Otak Devan mulai berputar, memikirkan gadis yang notabenenya seorang ketua OSIS yang sibuk dan pintar masih menyempatkan diri untuk bekerja. “Ok, apapun buat lo.”


Keisya mengangguk sambil memejamkan matanya, cowok ini benar-benar berjuang. Dari mana julukan bad boy itu muncul?


~•••~


Meskipun hujan membawa bencana, petir membuatnya takut dan merasa terkutuk, Devan tetap mengantar Keisya kemana pun dia mau. Sesampainya di tempat kerja, Keisya sigap memasang celemeknya, dan membuat Kopi untuk pelanggan.


Sedangkan Devan membantu menyiapkan pesanan, merapikan kursi lalu membersihkan meja-meja kafe, dan sesekali melirik kearah Keisya sambil menyunggingkan senyum.


“Sejak kapan ada cogan di sini.”


“Gue rela nungguin sampe tutup.”


“Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan.”


Begitulah bisik-bisik para pelanggan yang terpesona akan ketampanan seorang Devan. Besok-besok para pelanggan pasti ramai berdatangan untuk melihat pemuda yang sedang mengantarkan pesanan itu.


Sebagai pengantar ucapan terima kasih, Keisya pun menyiapkan secangkir Cozy Herbal Latte alias kopi herbal untuk Devan, meletakkannya di atas meja, lalu menghampiri Devan. “Dev, kalau capek istirahat aja. Tuh gue siapin kopi.”


Devan terkekeh. "Thanks, sayang.”


“Ih! Udah punya pacar tau.”


“Yah ... kecewa penonton.”


Seketika wajah para pelanggan yang tadinya berseri-seri menjadi gelap dan suram. "Dev, makasi doang gak usah pake sayang!"


"Emang kenapa?"


"Oh, berarti kalau di luar boleh?”


Keisya berdecak kesal. "Iyain Dev."


~•••~


Setelah semua selesai Keisya dan Devan pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Keisya langsung menuju ke bagian resepsionis. Beruntung pekerja di sana telah mengenal baik dirinya sehingga ia tidak perlu lagi menjelaskan keperluannya.


"Uangnya tujuh juta rupiah ya Kei." Resepsionis itu mulai mengetik rincian biaya yang telah disetor Keisya.


"Iya mbak makasih ya.” Keisya lalu pergi ke ruangan bersama Devan. Kini Keisya terfokus pada Laura yang sekarang sedang duduk di samping ranjang ibunya.


"Eh, Laura. Udah lama?"


"Enggak kok, baru juga dateng."


"Dev, kenalin ini laura temen kecil gue dan Ra ini Devan yang waktu itu gue ceritain." Keisya tersenyum sambil melirik pada mata keduanya secara bergantian, untuk memperkenalkan diri masing-masing.


"Kenalin gue Laura Navarrete, dari Prancis." Laura mengulurkan tangannya pada Devan.


Devan menjabat baik tangan Laura. "Devan Cal Nelson.”


"Kalian dari mana?"


"Kepo banget," ketus Devan. Keisya langsung menatap tajam Devan karena sikapnya yang tidak sopan.


“Abis dari kafe Ra, Devan bantuin gue kerja tadi."


"Oh, baik juga ya. Lo anak dari pemilik perusahaan makanan terkenal itu kan Dev? Yang suka bolos?"


"Astaga Ra!" teriak Keisya untuk menghentikan perkataan Laura yang tidak penting. Devan hanya menggerakkan bibirnya membentuk senyuman miring.


"Kenapa lo gak coba sekolah di luar negeri gitu?" Laura memicingkan mata. "Pasti seru kalau satu sekolah sama gue."


"Ngapain gue sekolah bareng lo?”


Devan langsung membuat Laura bungkam, sampai-sampai dia tertunduk lesu. "Sekolah gue emang jelek sih."


Brak!


Tanpa sengaja Keisya menjatuhkan infus milik ibunya. Pandangan Devan pun langsung teralih ke Keisya dan membantunya membenarkan infus. "Hati-hati, bahaya kalau kena kepala lo," kata Devan yang dibalas Keisya dengan anggukan.


Suasana pun menjadi sangat hening, hanya terdengar suara dari alat cardiograph yang berbunyi teratur.


Laura merasa sedikit canggung ia pun memutuskan untuk pulang. "Kei, gue pamit ya udah malem."


"Oh! Ya udah gue anter ya." Sayangnya, Laura langsung pergi begitu saja dari ruangan, meninggalkan Keisya bersama Devan beserta ibunya di ruangan, padahal Keisya berniat untuk mengantarnya keluar.


"Dev, lo gak boleh ngomong kasar gitu, Laura baru pindah ke sini."


“Omongan gue bener kok." Keisya hanya menggeleng, ia lelah berdebat dengan Devan di depan ibunya.


Devan pun menggenggam tangan lemah ibu Keisya yang pucat dan dingin, serta mencium punggung tangannya. “Cepet sembuh bu, biar bisa senyum manis kayak anaknya.”


Keisya tersenyum tipis, kini ia harus menceritakan lagi kejadian yang menimpa ibunya. Bosan dengan cerita yang sama dan tak berujung namun, jika cerita bisa menguatkan dirinya dan jika cerita bisa membangunkan ibu dari mimpi indahnya maka ia rela menceritakan semua kejadiannya bahkan setiap detik sekalipun.


~•••~


Kesunyian terasa bagai tangan-tangan tak kasat mata yang mencekik Laura dalam kehampaan. Seperti yang sekarang terjadi. Berada sendiri di rumah membuat hatinya kosong dan rindu akan kehangatan keluarga.


"Apa kabar Pa?" Hanya lewat teleponlah Laura bisa berkomunikasi dengan seseorang yang katanya mencari nafkah itu.


"Ada apa?"


Laura mulai menangis sesenggukan, "Pa, Laura pengen pindah sekolah ke Indonesia. Laura gak suka sekolah lama, gak bisa main ponsel, temen Laura pada nakal, suka seenaknya lagi. Laura capek pa." Ia mengeluarkan segala keluh kesah yang tertanam lama di lubuk hatinya.


"Memangnya uang yang papa kasih gak cukup?" Lagi-lagi uang yang dipertanyakan seakan uang dapat menyelesaikan segala masalah Laura.