His Struggle

His Struggle
• Bab 12 •



Dahi Keisya mulai mengucurkan keringat dingin, khawatir melihat Devan yang terlelap. Dia sudah menunggu, orang tuanya juga pasti sedang mencarinya sekarang. "Dev bangun!"


Devan tidak bergeming.


"Dev, ayo pulang." Keisya mengangkat sebelah tangan Devan memintanya untuk bangkit, ia menggerakkan jari telunjuknya berkali-kali menyentuh pipi Devan, namun hasilnya nihil.


"Devan Cal Nelson?!"


Kedua mata Devan membelalak, mendengar pekikan Keisya dan jarak wajah yang hanya sejengkal dengan gadis itu. Devan lalu mengusap wajah kantuknya. “Jam berapa sekarang?”


“Jam sepuluh Dev!”


“Oh.” Devan kembali ke posisi semula. “Masih sore.”


“Ini udah hampir tengah malem, lo bilang masih sore?” Keisya menggaruk kepalanya kesal. “Pulang Dev, entar ibu lo nyariin.”


Bukannya bangkit berdiri, Devan malah menguap besar-besar dan merenggangkan badannya. “Gak liat ibu gue di sini?”


“Maksudnya?”


“Ibu mertua.”


Keisya menoleh ke arah yang di tunjuk Devan alias ibunya sendiri, membuat pikiran Keisya terbang entah kemana. "Yeee! Elo mah."


“Ya udah, gue pulang ya.”


Devan segera mengambil jaket beserta tas yang ada di sofa, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik besar dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Keisya. "Nih, gue tadi beli roti banyak buat lo, cokelat, sama susu, nih.”


Gadis itu mendengus kesal, ia merasa seperti dikasihani sekarang. "Dev, lo gak perlu repot-repot gini. Gue bisa urus diri gue sendiri." Ia merogoh saku bajunya, kemudian mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu pada Devan. "Mungkin gue belum bisa buat gantiin semua itu, tapi tolong terima."


Tidak mendapat respon dari Devan, Keisya pun menggapai tangan Devan dan meletakkan uang itu di telapak tangannya. “Makasih Dev.”


"Ok, kalau ini mau lo.”


"Dev.” Mendengar Keisya memanggilnya, Devan berbalik badan. "Hati-hati di jalan, jangan sampai ngantuk ya."


Devan tersenyum manis, setelah itu menghilang dari balik pintu.


~•••~


"Nah sekarang kerjakan soal di halaman 76 sampai 80. Ibu sama guru yang lain ada rapat di aula. Jangan ada yang keluar kalau belum mengerjakan semuanya!” ucap Bu El sembari meninggalkan seisi kelas yang bersorak gembira.


“Siap ibu negara!” celetuk murid di kelasnya.


Anna segera menarik tangan Isel untuk duduk di belakang Keisya yang sedang kosong, lalu diikuti Gwen yang menyeret kursinya di samping Keisya.


"Kei, ini rumusnya gimana? Gak ngerti gue,” tanya Anna sambil menunjuk buku paketnya, sepertinya moodnya sudah lebih baik sekarang.


"Gue nyontek aja ya Kei," ucap Isel dengan santainya.


“Daripada ngerjain ginian, mending kita makan di kantin,” celetuk Gwen yang justru menimbulkan tatapan tajam dari mereka semua. “What?”


Keisya menggeleng. "Enggak Gwen, kita mau belajar.”


"Ah! Kalian pada gak seru, kerjaannya belajar mulu. Banyakin kenangan dong."


"Bentar lagi kita mau lulus Gwen. Belajar lah yang bener. Gue mau ke perpus nyari buku bareng Laura sama ajak Daffa, ada materi yang gue gak ngerti,” ucap Keisya sambil membawa beberapa buku dan alat tulis yang perlu dibawa ke perpustakaan. “Ayo kalau mau ikut.”


“Ya udah, gue ikut,” kata Gwen sembari beranjak dari tempat duduk dengan rasa malas.


~•••~


Selain menjadi tempat belajar, perpustakaan SMA Galaksi juga digunakan oleh murid-murid untuk beristirahat dengan membaringkan diri di karpet, sambil menikmati dinginnya AC. Ditambah lagi, fasilitas wifi yang kencang membuat Gwen cekikikan menonton drama Korea di ponselnya.


Keisya mulai membaca buku dan mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku tersebut, sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Soal nomor tujuh gimama Daf? Gue gak ngerti.”


Daffa tersenyum lalu mengambil buku yang ditunjuk Keisya. “Oh, ini gugus karbon dari gula lepas karena asam sulfatnya bersifat reaktif. Gitu juga cowok, kalau gak mampu tanggung jawab maka C alias cintanya si cewek akan lepas."


Keisya terkekeh. "Bisa aja lo Daf," lalu meraih kembali bukunya. “Ok, gue ngerti.”


Meskipun Keisya mendapat gelar pemenang olimpiade, tidak menutup kemungkinan ia meminta tolong Daffa mengajarinya. Mengingat pekerjaannya semakin hari semakin padat, melayani para pelanggan yang ramai berdatangan mencari Devan, membuat Keisya tak punya banyak waktu untuk belajar.


“Kalau yang ini gimana Daf?” tanya Laura yang langsung dijelaskan Daffa dengan rinci.


Bukannya memperhatikan, Laura justru terfokus pada lekuk wajah Daffa. Kening yang lebar, hidung mancung, alis yang sewarna dengan helaian rambutnya, dan bulu mata yang tebal. “Lo ganteng juga ya."


“Gu-gue?” Daffa terkekeh malu. “Ya, lo juga cantik sih.”


Keisya mengerjapkan mata beberapa kali mendengar penuturan Laura, benar-benar terlampau jujur.


“Sayangnya, Keisya lebih cantik,” lanjut Daffa menatap Keisya dengan tersenyum aneh.


“Daf lo ngatain apa gimana sih?” tanya Keisya, mengingatkan Daffa agar ucapannya tidak menyinggung Laura.


Laura justru terkekeh. “Iya, kalian cocok kok jadi couple, sama-sama pinter. Kalau gue sih kayakanya cocokan sama Devan.”


Entah kenapa, suasana yang dingin berubah menjadi panas bagi Keisya. “Gue ke WC dulu ya.” Keisya beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari perpustakaan.


Keisya menghela napas panjang lalu membuangnya pelan. Memikirkan, sejak kapan Laura menginginkan Devan? Keisya merasa bodoh, dari kejadian di kantin waktu itu sudah menjelaskan kalau Laura menyukai Devan. Tapi, dia bilang itu kebiasaannya, apalagi dia sudah punya pacar. Ah, Keisya pusing.


Dari lantai tiga yang dibatasi balkon, matanya dapat menangkap Devan yang tengah bermain basket bersama Aldo di lapangan. Sialnya, cowok itu melihat keberadaan Keisya, membuat jantung Keisya berdetak tak kauran. Devan menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke arahnya.


Rambut acak-acakan, keringat yang masih terlihat, menambah kadar kegantengannya, dan jangan lupa seragam yang terlihat kusut karena sempat dibuka itu kini berdiri di hadapannya.


“Hey, lo gapapa?” Devan menjentikkan jari membuat mata Keisya mengerjap.


“Eh, gu-gue gapapa,” ucap Keisya, merutuki dirinya sendiri karena sudah gugup. Apalagi, semua mata yang ada di lapangan tampak mendongak menatapnya.


“Gue mau ajak lo ke pasar malam, hari ini.”


Seketika, degub jantung Keisya menjadi semakin berirama. "Kok ngajak gue?"


"Lo gak mau?"


“Ya ... lo tau sendiri Dev, gue masih ada pekerjaan, lagian gue gak mau ninggalin ibu gue sendirian terus.”


“Gue jamin ibu lo gak bakal sendirian kalau kita pergi,” ucap Devan mengibaskan rambutnya ke samping, terlihat keren.


Astaga, sadar Kei.


“Gak bisa Dev.”


“Gue bakal bantu lo kerja, abis itu kita pergi. Gak ada penolakan.” Devan berbalik badan dan berjalan kembali ke lapangan.


Lagi-lagi Keisya menghela napas berat, harusnya ia tidak keluar saja dari perpustakaan tadi.