
“Main ke sini lagi ya kak,” kata Leyna sambil melambaikan tangannya begitu Devan dan Laura berjalan menjauh.
“Pasti dong!” jawab Devan sambil memberi hormat dengan sebelah tangannya sampai hampir menabrak tubuh Laura yang berdiri seperti patung di depannya itu. "Liat apa lo?”
“Itu, film horror yang baru rilis, bonekanya kelihatan serem banget pasti seru,” kata Laura sambil menunjuk poster yang terpajang di jalan tidak jauh dari panti asuhan.
“Ya udah, ayo nonton.”
"Eh?"
Devan melanjutkan langkahnya lagi sampai naik ke atas motor lalu menyodorkan helm pada Laura. “Gue juga mau nonton tu film. Mumpung masih sore jadi, lo mau nonton bareng?”
Sungguh Laura berteriak senang dalam hati, ia tidak menyangka jika Devan akan mengajaknya pergi, berdua seperti sedang date. Laura segera mengambil helm yang dipegang Devan, naik ke atas motornya, dan melingkari kedua pinggang cowok itu. “Hey, lo pegangan motor aja, gue bau keringet,” kata Devan.
Baru saja Laura tertawa setinggi langit, Devan langsung menghempaskannya kembali ke dasar bumi. “Iya, maaf,” kata Laura sambil mengerucutkan bibirnya.
Devan pun langsung tancap gas menuju bioskop.
~•••~
Setelah membeli dua tiket untuk nonton film horror, Laura berjalan menghampiri Devan yang sekarang sedang duduk di salah satu sofa yang disediakan oleh bioskop itu sembari memainkan ponselnya.
Laura yang duduk di sebelah Devan memiringkan kepalanya, ia memperhatikan wajah serius Devan yang sedang bermain game. Devan memang cuek kepadanya, apalagi kalau sudah bermain game, ataupun bersama Keisya, ia seakan dianggap butiran debu tapi, Laura masih bersyukur karena Devan mau meluangkan waktu untuknya.
“Dev?”
Tatapan orang lain yang menatap mereka seperti lukisan saja tidak Devan gubris, apalagi panggilan Laura.
“Ya udahlah gue diem aja.”
Seketika Devan mendongakan kepala menghadap gadis itu. “What?”
“Lo beneran suka sama Keisya?”
Devan terdiam sejenak, ia mengeluarkan aplikasi game yang sedang dimainkannya itu lalu menyimpan ponselnya dalam saku celananya. “Kenapa lo tanya itu? Udah jelas kan kalau gue suka.”
Laura terdiam sejenak, benar dugaannya kalau Devan sudah tak bisa berpaling dari Keisya. “Gapapa, gue cuma berharap lo bisa lindungi dia.”
Devan menghela napas panjang bersiap memberikan penjelasan. “Tanpa lo suruh juga gue bakal lakuin. Gue emang gak akan banyak janji, karena gue takut akan khianat sama janji gue sendiri. Jadi, lebih baik gue berjuang langsung.”
Laura sedikit tertegun, Keisya memang beruntung bisa mendapatkan hati seorang cowok seperti Devan. “Baguslah, semoga lo berhasil.”
Devan mengangguk dan tersenyum. “Aamiin doain ya,” ia mengepalkan tangan mengajak Laura untuk tos yang langsung dibalas Laura dengan kepalan tangan juga.
Sayangnya Devan dan Laura tidak tau, kalau ada seseorang yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi, bahkan sampai memotret mereka menggunakan kamera ponsel.
“Mohon perhatian Anda. Pintu teater dua telah dibuka. Bagi Anda yang memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater dua.”
Mendengar pemberitahuan itu, Devan dan Laura langsung bangkit berdiri, bersiap untuk memasuki ruangan teater. Setelah masuk ke dalam ruangan, mereka duduk di tempat yang sudah ditentukan. Devan membeli dua popcorn caramel dan minuman soda dari penjual yang melintas di depan mereka.
Tak lama kemudian lampu teater dimatikan, film pun dimulai. Beberapa adegan menyeramkan diputar, bahkan jumpscare yang tak kalah mengagetkan membuat bulu kuduk Laura merinding, sampai-sampai ia berkeringat dingin, dan memeluk Devan di sampingnya.
“Serem banget dah!” teriak Laura membuat semua orang dalam bioskop jadi menoleh menatap mereka.
“Gak serem tuh,” kata Devan dengan ekspresi datar.
Laura semakin mengeratkan tangannya. “Gak liat tuh muka hantuya ancur gitu?”
Merasa risih dengan genggaman tangan Laura, Devan pun berpura-pura sedang menerima panggilan telepon. “Bentar, ada telfon penting,” ia melepas genggaman Laura dan pergi menuju toilet, membuat Laura jadi tidak enakan sendiri karena refleks memeluk Devan.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit di dalam toilet, Devan memutuskan untuk kembali masuk ke ruang teater dan duduk di tempatnya semula. “Sorry lama, gue ke toilet dulu tadi,” kata Devan kembali melahap popcornnya.
Laura mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi dahinya, bukan karena menonton filmnya, tapi takut jika hubungannya dengan Devan canggung seperti dulu, karena selain Keisya, Devan juga termasuk teman berharga baginya.
~•••~
Seusai menonton film, Devan memutuskan untuk mengantar Laura pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah yang terlihat sedikit lusuh dan tua, mata Laura menangkap seorang pria tidak asing sedang duduk dengan posisi tertunduk tidur di teras depan rumahnya.
“Itu siapa?” tanya Devan sambil menunjuk pria itu dengan dagunya.
“Papa gue ….”
Laura mencoba mendekati pria berumur lima puluh tahun itu, tangannya terangkat mengelus lembut pundak ayahnya. “Pa.”
Pria yang diketahui namanya Samudra itu membuka matanya perlahan dan langsung tersentak kaget sampai berdiri dari kursi reyot yang didudukinya begitu melihat Laura. “Syukurlah kamu di sini, papa kira kamu pergi entah ke mana, sampai papa nungguin kamu dari pagi.”
Tanpa diperintah air mata Laura sudah jatuh membasahi kedua pipinya, benar dia papanya. Laura pun langsung memeluk erat ayahnya untuk mengeluarkan semua kerinduannya. “Udah dua tahun Laura nungguin papa.”
“Maafin papa.” Samudra membalas pelukan Laura sambil mengelus-elus pundaknya, pria itu menyesal telah menelantarkan anaknya, bahkan tidak pernah tau tentang kondisinya. “Papa salah ninggalin kamu, papa emang gak bertanggung jawab, lebih baik sekarang papa cari kerja lain supaya papa bisa lebih jagain kamu.”
“Kenapa baru sekarang pa, Laura takut sendirian.”
“Enggak, sekarang kamu jangan takut sendirian ada papa di sini.”
Setelah cukup lega Laura melepas pelukannya. “Makasih pa, Laura seneng papa dateng,” katanya seakan merasa lahir kembali.
Samudra yang menatap Devan datang bersama Laura itu langsung terkejut seakan bertemu seorang penjahat. “Kamu pacar Laura ya?”
Laura menggeleng. “Bukan pa, dia temen Laura namanya Devan.”
Samudra menatap tajam Devan. “Papa gak setuju kalau kamu temenan sama anak nakal kayak dia.”
Alis Devan kontan terangkat, tidak heran lagi jika dia disebut nakal, tapi masalahnya penampilan ia terlihat rapi hari ini dibandingkan saat di sekolah. “Devan anak baik-baik kok om, buktinya nganterin Laura sampai ke rumah dengan selamat.”
“Kamu udah ngajak jalan anak saya dari pagi sampai sore begini, apanya yang baik-baik.” Tangan Samudra terkepal bersiap untuk memukul Devan.
“Eh, ampun om iya Devan pulang om!” Devan lari terbirit-birit menuju motornya sebelum Samudra siap menimpuk kepalanya.
“Hey! Balik sini kamu,” kata Samudra sambil berlari menyusul Devan.
Devan naik ke atas motornya. “Gue balik Ra!”
“Iya! Iya! Makasih ya Dev!” teriak Laura pada Devan yang berjalan semakin menjauh. Entah kenapa, tingkahnya justru membuat Laura terkekeh.
~•••~
Jika hari libur malam seperti ini digunakan untuk jalan bersama keluarga, quality time dengan pacar, atau sekedar bermalas-malasan di rumah, Keisya justru menghabiskan waktunya untuk bekerja. Menyajikan makanan satu per satu ke meja sampai matanya mengerjab beberapa kali melihat makanan-makanan lezat. Tapi, hal itu tidak membuat semangat Keisya luntur, justru ia semakin semangat karena merasa jauh lebih kuat.
"Keisya! Bawa pesanan ini ke meja nomor tiga!"
Teriakan itu memecahkan lamuan Keisya dan membuatnya berlari tergesa-gesa untuk segera mengantarkan pesanan pelanggan.
“Siap kak!” jawab Keisya.
Baru akan tiba di meja nomor tiga, Keisya sudah dikejutkan dengan Daffa sendiri yang menjadi pelanggannya seakan sedang melihat maling, tapi ia mencoba menguasai diri.
"Permisi." Perlahan Keisya menaruh pesanan Daffa di atas meja.
Mata Daffa menyipit melihat gadis yang mengantarkan pesanan di sampingnya. Bahkan, ia tak kalah terkejut mengetahui bahwa gadis itu adalah Keisya.
"Kei! Lo beneran Keisya kan?" Daffa menunjuk Keisya dengan telunjuknya bersamaan dengan mulut yang menganga.
"Oh, hi Daf gue balik dulu ya.” Keisya ingin berlalu, namun tangannya berhasil ditahan Daffa.
“Lo sejak kapan kerja di sini?”
“Nanti aja Daf, gue lagi sibuk nih,” ucap Keisya berharap setelah ini Daffa tidak akan menunggunya.
“Gue tunggu, ada yang perlu kita obrolin.”
Keisya menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Tentang apa? Masalah stoikiometri? Statistika? Cita-cita?”
Daffa berdecak kesal. “Pokoknya gue tunggu sampai lo selesai.”
Keisya mulai meringis, sikap Daffa memang keras kepala. “Iya deh, terserah lo.”
Setelah memakan waktu dua puluh menit akhirnya selesai semua perkejaan Ksisya, kini ia dan Daffa tengah duduk berdua sambil ditemani secangkir kopi untuk masing-masing.
"Kenapa lo gak cerita ke gue Kei?" tanya Daffa setelah mendengar semua cerita yang dialami Keisya.
“Karena gak semuanya itu perlu diceritain Daf. Walaupun diceritain, cukup buat lo tau aja."
Daffa menyeruput secangkir Cappuccino-nya. "Sebenarnya gue juga punya cerita buat lo." Daffa mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya lalu menunjukkan hasil fotonya lewat layar ponsel itu. “Gue ragu kalau Devan suka sama lo, kalau buktinya dia bisa sedeket ini sama Laura.”
Hasil foto tadi sore itu menunjukkan Laura yang sedang melakukan tos kepalan tangan bersama Devan, sama seperti yang Devan lakukan bersama Keisya waktu itu.
Keisya tidak marah, ia justru senang melihat Laura bisa tertawa lagi. “Gue malah seneng liat mereka, udah mulai akrab apalagi, Laura kelihatannya bahagia banget.”
“Bukan itu poinnya Kei, Devan itu modus ke segala cewek, gue gak mau lo nanti malah dimainin sama Devan.”
Keisya menggeleng, ia yakin Devan bukan orang yang seperti itu. “Dia emang peduli orangnya Daf, mungkin dia mau kasih semangat buat Laura.”
Daffa tersenyum sinis. “Semangat sampai nonton berdua bareng gitu, gak ada cara yang lain apa?”
Seketika Keisya tertegun karena yang dikatakan Daffa cukup benar. “Iya, tapi lo gak harus repot ngurusin mereka Daf.”
“Gue bukan ngurusin mereka, tapi lebih khawatir sama lo Kei. Gue takut kalau lo udah nyaman sama Devan, lo malah jatuh cinta sendirian.”
Keisya terdiam sejenak, jujur hatinya memang perih melihat Devan dan Laura yang semakin hari semakin dekat.
“Daripada mikirin cowok yang kayak tikus itu, mending lo pikirin perasaan gue ke lo Kei.”
Sontak Keisya mendogak menatap Daffa. “Lo su-suka sama gue?”
Daffa mengangguk lalu tersenyum tipis. “Gue gak mau liat lo terluka.”
Keisya terdiam sejenak sedetik kemudian ia tertawa canggung sambil mengalihkan wajahnya. Secara tidak langsung itu adalah pernyataan cinta dari Daffa, tapi masalahnya Keisya tidak tau bagaimana menanggapinya?
“Gue tunggu jawaban lo di sekolah nanti.”