His Struggle

His Struggle
• BAB 21 •



Pagi ini Keisya datang ke sekolah setelah bel masuk berbunyi, tidak seperti biasanya saat gerbang sekolah sepuluh menit dibuka. Sebenarnya Keisya semalaman begadang menyusun jawaban untuk pernyataan Daffa kemarin, jika dia kembali bertanya. Tapi Keisya masih takut, jika jawabannya akan membuat Daffa kecewa. Jadi, Keisya memilih menghindar dari Daffa.


"Permisi," ucap Keisya di ambang pintu masuk kelas.


"Tumben kamu datang telat?" tanya guru yang mengajar pelajaran pagi ini.


Keisya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menyalami tangan guru itu. "Maaf pak tadi macet di jalan."


"Ya sudah duduklah," kata Pak David kemudian lanjut membacakan absen kelas mereka. Beruntung Keisya menjadi anak kesayangan guru-guru di sekolahnya jadi, ia tidak masalah jika datang terlambat.


Keisya berjalan menuju bangkunya sambil memberanikan diri melirik Daffa yang ternyata juga menatapnya. Seketika Keisya mengalihkan pandangannya ke lantai, ia benar-benar tak bisa menghilangkan rasa canggungnya sejak kejadian di kafe kemarin.


"Kei, entar istirahat kita makan di taman bawah ya, gue ada oleh-oleh buat lo, gue gak enakan kalau di sini," kata Laura setelah Keisya duduk dibangkunya.


"Ok, Ra." Keisya mengeluarkan alat tulisnya dan bersiap untuk belajar.


Setelah bel istirahat berbunyi Keisya langsung merapikan barang-barangnya di atas meja.


Melihat Daffa yang berjalan menghampiri, Keisya langsung menggenggam tangan Laura. "Ra, ayo cepet ke taman!"


Laura berdecak kesal. "Iya sabar, gue ambil dulu makanannya."


"Cepat Ra! Gue gak ada waktu!" tekan Keisya melihat Daffa yang berjalan semakin dekat seakan bertemu hantu.


"Iya iya ayo," kata Laura sambil bangkit berdiri kemudian tangannya langsung ditarik Keisya berlari menuju taman.


~•••~


Sekarang Keisya duduk bersama Laura di kursi kayu dengan meja payung yang menyerupai bentuk jamur di ujung kelas sambil berdoa supaya Daffa tidak mengejar Keisya sampai ke tempat itu.


"Lo kenapa Ca lari-lari gitu kayak dikejar setan?" tanya Laura sambil mengeluarkan bekalnya dari kantong plastik.


"Gapapa kok," kata Keisya sambil mengibaskan wajahnya karena napasnya ngos-ngosan.


"Papa gue kemarin dateng loh Ca ke rumah, jadi dia bawain ratatouille dari Prancis, nih lo ambil bekal gue," kata Laura menyodorkan kotak bekal lain pada Keisya yang langsung diterima Keisya.


"Wah, makasih Ra." Seketika mata Keisya berbinar seakan mendapatkan harta karun. "Tapi serius papa lo kemarin pulang nemuin lo?"


Laura mengangguk sambil bertepuk tangan riang. "Iya Ca, makanya gue seneng banget hari ini."


Keisya menghela napas lega. "Syukurlah lo jadi ada temen di rumah, sekarang gimana keadaannya?"


"Baik kok, oh ya gue juga sempet ke panti asuhan terus gue nemuin anak kecil namanya Leyna yang mirip banget sama lo. Jadi gue gambar deh mukanya." Laura menggeser buku gambarnya di atas meja.


Keisya menarik buku gambar Laura dan langsung terkesima dengan hasil karyanya, apalagi menatap setiap goresan pensil di lembar selanjutnya. Wajah Devan yang terlihat detail dengan tahi lalat di dekat alisnya, membuat pikiran Keisya semakin melayang memikirkan Devan. "Lo sama siapa ke panti asuhan?"


"Sama Devan."


"Cuma ke panti?"


"Iya,"


Keisya mengepalkan kedua tangannya, ia paling tidak suka dengan manusia yang berbohong. "Ra, lo boleh minta apapun ke gue. Kalau gue bisa bantu lo, gue bakal bantu semampu gue tapi, gue harap lo gak manfaatin Devan."


Laura terdiam sejenak lalu meletakkan garpunya di atas meja. "Maksud lo apa, Kei?" kata Laura dengan suara parau seperti hendak menangis. "Jujur gue emang sempet kepikiran buat manfaatin uang Devan karena waktu itu gue bodoh. Tapi sekarang gue sadar kalau itu salah. Gue gak mau manfaatin siapapun lagi Kei, gue udah berubah."


"Lo beneran cuma ke panti doang sama Devan?" tanya Keisya lagi berharap agar Laura mau bersikap jujur.


Laura mengangguk.


"Lo bohong Ra, lo juga nonton bareng kan sama Devan!" kata Keisya dengan nada meninggi, ia tak bisa lagi menahan emosinya.


"Kei? Lo tau dari mana ...?"


Keisya tersenyum sinis. "Gak perlu tau dari mana Ra, lo itu sahabat gue tapi buat jujur aja lo gak bisa."


Laura menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Kei, gue sama Devan kemarin nonton kayak temen. Itu cuma hal sepele."


"Ya terus kenapa harus lo tutupin kalau emang sepele, tinggal bilang aja gak susah kan?"


Kali ini air mata Laura berhasil lolos. "Gue gak mau lo jadi marah dan ninggalin gue Kei."


Keisya menatap lama Laura. "Justru karena lo gak mau terbuka yang buat gue jadi marah sama lo Ra."


Keisya menggeleng. "Gue ke ruang OSIS dulu Ra, makasih makannya," ia bangkit berdiri dan meninggalkan Laura yang menangis sendirian di taman.


~•••~


"Kei?!"


Keisya langsung tersentak kaget dan mengubah posisinya dari menenggelamkan wajah di lipatan tangan menjadi duduk tegap sambil mengusap matanya berkali-kali. Setelah dilihat ternyata pelakunya adalah Daffa.


"Eh Daffa. Gue ke toilet dulu ya." Keisya membawa beberapa berkas di meja ruang OSIS dan bangkit berdiri berniat keluar ruangan namun, tangannya ditahan oleh Daffa.


"Jangan menghindar."


Keisya menepis tangan Daffa. "Siapa yang menghindar?" Ia meraih gagang pintu ruang OSIS dan berjalan keluar.


Baru beberapa langkah Keisya berjalan, Daffa kembali menggenggam tangannya tepat di koridor depan laboratorium kimia. "Kenapa lagi Daf?"


"Lo belum jawab pertanyaan gue kemarin."


Keisya menghela napas singkat, ia menatap langit-langit senja sudah menutupi mentari, bahkan suasana sekolah mulai sepi karena banyak murid pulang ke rumah masing-masing, hanya tersisa ia dan Daffa serta anak-anak basket termasuk Devan yang sedang memasukkan bola ke ring.


"Gue ketiduran sampai bolos?"


Daffa mengangguk. "Jadi, lo mau jadi pacar gue?"


Keisya memeluk erat berkas yang dipegangnnya lalu mendekatkan wajahnya pada Daffa untuk berbisik. "Makasih karena udah suka sama gue Daf, gue seneng tapi maaf gue udah suka sama yang lain."


Daffa tersenyum tipis.


Keisya menjauhkan kembali wajahnya. "Please tetep jadi temen gue Daf," ia mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Daffa.


Daffa meraih tangan Keisya dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi menyentuh pipi Keisya, membuat mata Keisya membelalak karena jarak mereka terlalu dekat.


Bugh!


Daffa memegangi kepalanya yang meringis karena dilempar bola basket oleh seseorang. "Siapa yang ngelempar?"


"Gue," jawab Devan sambil berjalan menghampiri Daffa.


"Oh, si tikus."


Devan menatap tajam Daffa dan meraih kerah baju partner OSIS Keisya itu. "Lo berani juga ya nyentuh Keisya."


Daffa tersenyum sinis. "Lo siapa? Pacarnya? Eh, lo itu cuma cowok modus ngerti gak?!"


Mendengar ucapan Daffa membuat Devan mendidih dan semakin mengeratkan kerah baju Daffa. "Lo lagi promosiin diri lo sendiri hah?!"


Keisya ingin memisahkan Devan dan Daffa namun kedua bahunya ditahan oleh Aldo dari belakang. "Lepasin Do!"


"Jangan sok berani Kei, lo bisa abis kalo deket sama mereka!" tekan Aldo tapi Keisya malah menepis tangan Aldo dan menghampiri keduanya.


Daffa memegangi kepalanya yang berdenyut. "Sakit juga ya lemparan lo," ia mengepalkan sebelah tangannya dan langsung memukul rahang Devan sampai dia jatuh tersungkur. Keisya pun ikut tersungkur karena saat itu Devan mendorong tubuhnya untuk menghindari pukulan Daffa.


Sekarang giliran Daffa yang menarik kerah baju Devan sampai duduk melingkari pinggannya. "Lo tu sama kayak cowok berengsek di luar sana, cuma ngelihat cewek dari luarnya doang dan pasti body-nya kan. Iyalah, Keisya emang enak buat di grepe-"


Tanpa mendengar kelanjutan Daffa, Devan kalap menghantam tulang hidung Daffa sampai bunyi gemertak tulang dan membuatnya berdiri tidak seimbang. Daffa memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan darah.


Devan seperti orang yang kesurupan, ia kembali meninju wajah Daffa sampai memecahkan kaca pintu laboratorium kimia akibat dorongan tubuh Daffa. Napas Devan tersengal seperti habis lari maraton.


Menyaksikan situasi yang membahayakan di depannya, membuat badan Keisya gemetaran seperti sedang mengalami penyakit parkinson.


"Kacau Dev! Gila lo mecahin kaca!" Aldo mendorong tubuh Devan agar menjauh dari Daffa yang meringkuk di lantai penuh pecahan kaca.


"Hey! Ada apa ini?!" Satu-satunya guru yang tersisa di sekolah itu hanya Pak David yang langsung datang mendekat ke tempat kejadian. Pak David terkejut bukan main melihat kondisi Daffa yang sudah berdarah-darah. "Cepet bawa dia ke mobil bapak, antarkan dia ke rumah sakit! Ya ampun ini kondisinya!"


Aldo dan teman-teman yang sempat mematung akhirnya menggotong Daffa untuk dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil Pak David yang terparkir tidak jauh dari lapangan.


"Kamu ya Devan! Bapak tidak mau tau pokoknya besok kamu masuk ruang kepala sekolah!" Pak David segera menyusul Aldo dan teman-teman yang menggotong Daffa.


Keisya bangkit berdiri dan hendak menyusul Daffa namun, tangannya ditahan Devan. Devan menatap mata Keisya yang sudah berkaca-kaca namun, Keisya yang kesal dengan sikap Devan langsung menepis kasar tangan cowok itu dan kembali melanjutkan langkahnya.