His Struggle

His Struggle
• BAB 26 •



“Hey bangun!” Cika menepuk pipi Keisya beberapa kali sampai matanya terbuka. “Gila ya lo senyum-senyum sendiri.”


Keisya ingin mengusap matanya namun tangannya seperti tertahan oleh sesuatu. Keisya menoleh kebelakang, ternyata dansa tadi cuma mimpi dan tangannya sudah diikat dengan tali tambang di tiang besi yang sekarang menjadi senderan duduknya.


Rumput yang dibiarkan meninggi, sampah berserakan di mana-mana, sampai bau tak sedap yang berasal dari dalam sumur tua dan angker, tepatnya di belakang gudang. Menambah suasana mencekam malam hari ini, apalagi melihat kedua kaki dan tangan Laura terikat dengan bangku dan lakban yang menutupi mulutnya dari jarak tiga meter di depannya.


“Lepasin,” pinta Keisya dengan mata yang masih mengantuk menatap Cika.


Cika berjongkok di hadapan Keisya, tangan yang penuh kebencian itu mengelus lembut dagu Keisya. “Apanya yang mau dilepas? BH lo?”


Sontak tujuh anggota The Evil Geng yang sedang mengelilingi Keisya itu tertawa keras. Ada yang terpingkal-pingkal, memegangi perutnya, sampai mengusap air matanya yang turun karena lucu.


Cika menjentikkan jari ke atas, menyuruh mereka untuk diam, ia mencabut satu alang-alang di sampingnya, memutar-mutar tangkai rumput itu, dan mengibaskannya ke area hidung Keisya. “Gara-gara sepatu busuk lo, rambut gue jadi bau. Gue kan harus keramas lagi, nge-conditioner, mesti dikasih serum dan vitamin. Lo malah seenak jidat ngelempar sepatu lo yang abis injek tai kucing itu!”


“Kenapa lo bisa tau kalau itu tai kucing? Pernah nyicip ya?”


Cika mencengkram dagu Keisya. “Apa lo bilang?!”


Bukannya takut, Keisya justru terkekeh geli sampai hidungnya terasa gatal karena bunga alang-alang yang menempel dihidungnya dan


“HACHIM!!!”


Semburan bersin sehabis tidur itu tepat menyirami wajah bening Cika. Cika yang kesal pun langsung menyebut nama hewan yang ada di dunia. Anggota The Evil Geng sendiri tertawa lepas melihat Cika bahkan, tak ketinggalan Laura yang menahan tawa dibalik lapisan lakban itu.


“Air! Cepet gue butuh air jangan ketawa kalian!”


“Gak ada! Cuman ada air comberan!” tekan Caca.


“Tisu deh tisu! Cepetan muka gue keburu jelek nih!!!”


Caca langsung mengeluarkan selembar tisu dalam tasnya dan memberikannya pada Cika. Cika mengusap wajahnya berkali-kali sampai tisu milik Caca pun habis terpakai tanpa tanpa sisa.


Cika menjambak rambut Keisya. “Kali ini lo mati ditangan gue!”


Cika memberi kode dengan sekali tepuk tangan pada gengnya untuk melakukan tugasnya masing-masing. Dimulai dari Caca yang mencoret seluruh bagian baju dan rok Keisya dengan cat pilox.


“Selamat lo lulus duluan!”


“Tolong!!!” teriak Keisya.


“Percuma lo teriak yang ada pita suara lo ilang!”


Sekarang giliran Cika dan antek-anteknya yang mengangkat tinggi-tinggi sebuah ember besar berisi campuran air comberan, kaos kaki busuk, dan pasir. “Gue gak cuma ngasih lo minuman isotonik tapi juga air comberan. Nih mandi lo!”


Keisya pasrah, ia hanya bisa memejamkan kedua matanya.


Byur!!!


Air yang super busuk itu akhirnya membasahi seluruh tubuh Keisya, butiran pasir sudah memenuhi rambutnya. Badan Keisya gemetar karena air dan udara dingin menjadi satu.


“Buka baju dia setelah itu foto,” suruh Cika.


Caca mengangguk, ia melangkah dengan hati-hati agar air comberan yang membasahi tanah itu tidak mengenai kaki mulusnya. Setelah mendekati Keisya, Caca berjongkok di depannya, dengan rasa jijik ia membuka kancing baju Keisya mulai dari bagian atas.


“Gwen!!! Tolong!”


~•••~


Gwen memicingkan matanya agar lebih fokus mendengar pekikan itu, ia mengenali suara itu. Suara Keisya yang berteriak memanggilnya dari arah jam tiga, sontak Gwen langsung bangkit berdiri. “Di belakang gudang!!! Suaranya dari belakang gudang. Cepet!”


Tanpa aba-aba lagi, mereka semua langsung berlari menuju sumber suara dengan perasaan cemas, khawatir, sekaligus takut terjadi sesuatu yang buruk pada Keisya.


Begitu sampai di tempat, Gwen langsung mencekik leher Cika yang bersiap untuk memotret Keisya, dari belakang. “Mati lo!!!”


“Uhuk! Sakit!!!” erang Cika.


Melihat antek-antek Cika yang mencoba kabur, Isel kontan mengejar mereka. “Eh jangan lari kalian!”


Setelah ikatan tali di tangan, kaki, serta lakban yang menutupi mulut Laura dilepas oleh Anna, mereka berdua segera mendekati Keisya.


“Ra, tolongin gue,” pinta Keisya yang sudah menangis histeris.


Baru dua langkah mereka berjalan, Shopia yang sembunyi dari belakang sumur tiba-tiba menghampiri Keisya dan menimpuk kepalanya dengan tongkat bisbol sampai Keisya tertunduk kaku di sana.


“KEISYA!!!” teriak mereka bertiga serempak.


Anna langsung berlarian menyusul Shopia yang lari ke ujung jalan. Begitupun Gwen yang menghempaskan tubuh Cika ke tanah untuk mendekati Keisya yang sudah pingsan. Karena mendapat kesempatan, Cika pun berlari kabur.


“Pesen taksi sekarang cepet!” suruh Gwen.


“Ponsel gue diambil Caca, Cacanya kabur!”


Gwen mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya lalu menyerahkannya pada Laura. “Abis telpon taksi lo telepon Daffa apa Devan biar gak lama nunggunya!”


Laura mengangguk dan melakukan semua yang diperintah Gwen, tangannya gemetaran memegang ponsel karena terlalu cemas dengan keadaan Keisya.


“Posisi taksinya jauh, Daffa gak diangkat teleponnya. Ini kontak Devan yang mana?”


“Nama kontaknya Kang Mas!”


Laura terdiam sejenak, ia paham kalau Gwen hanyalah terobsesi pada Devan. “Cepet tunggu apa lagi!” murka Gwen.


Begitu tersadar dari lamunannya, Laura langsung mencari kontak 'Kang Mas', dan menunggu panggilan terjawab sambil berharap agar Devan cepat menjawab teleponnya.


~•••~


Devan yang tengah duduk anteng di tempat tidur sambil bermain game favoritnya itu mengernyit bingung karena mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


Tanpa pikir panjang lagi, Devan menekan tombol hijau di layar dan menempelkannya ke telinga. “Siapa?”


Setelah mendengar penjelasan Laura, Devan langsung menghempas ponselnya ke atas tempat tidur. Devan mengacak rambutnya kasar dan tak henti-hentinya menyalahkan Daffa.


Secepat kilat Devan meraih jaketnya di atas meja, keluar dari rumah tanpa menggubris panggilan ibunya, masuk ke dalam mobil, dan melaju dengan kecepatan penuh menuju sekolah.


Tak butuh waktu lama, ternyata Devan lebih dulu sampai ke sekolah. Begitu berada di tempat, Devan langsung melingkari jaketnya untuk menutupi tubuh Keisya.


“Jangan cancel drivernya, kalian tanggung jawab. Biar gue bawa Keisya sendiri,” kata Devan.


Gwen dan Laura mengangguk pasrah ditinggal Devan yang langsung menggendong Keisya masuk ke dalam mobil, dan secepatnya pergi ke rumah sakit.