
Datang lebih awal ke sekolah, sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi seorang Keisya Aira Denaya. Entahlah, berada di tempat kosong yang tak berpenghuni membuat sang ketua OSIS itu benci berada di rumah. Bahkan untuk sekadar menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman, ia tak pernah memikirkannya.
Gadis itu sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya di lantai dua sembari menguncir rambut hitam panjangnya dengan style ekor kuda, dan tak ketinggalan senyum merekah yang selalu terlukis di wajahnya.
Begitu sampai di depan kelas, Keisya mengetuk pintu kaca itu tapi, tidak terdengar sahutan seorang pun di dalam, hanya ada hembusan angin yang menerpa anak rambutnya. Keisya berjalan masuk dan duduk di bangkunya, menatap awan kelabu yang masih setia menghiasi langit dari jendela, sampai tak sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Ibu, kapan bangun.
Cklek.
Keisya langsung menghapus air matanya begitu ketiga sahabatnya masuk ke dalam kelas. Dari pintu Gwen, Isel, dan Anna tampak memperebutkan posisi pertama mendekati Keisya, seakan mengikuti lomba lari.
“Kei! Liat pr.” Gwen menadahkan tangan setelah menjadi yang pertama berdiri di depan Keisya.
“Kalian ini, pr itu di kerjain di rumah bukan buat di salin. Udah kelas dua belas juga, kapan mau tobatnya coba?” Keisya geleng-geleng kepala, pantas saja sahabatnya pada datang pagi.
“Ya, gimana Kei. Kita semua lemah nih sama matematika,” kata Isel sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
“Tau sendiri bu El Kei, ntar kami di kutuk lagi,” kata Anna dengan raut wajah disedih-sedih kan.
“Ya udah. Nih, bedain dikit ya.”
“Siap bos!” jawab mereka serempak dengan tangan memberi hormat.
"Kok lo bisa yakin kalau ini kunci motornya Devan?”
“Jangankan kunci, nama kakeknya aja gue tau. Giordano.”
“Wah, tau semua ya lo.” Keisya menggeleng-gelengkan kepala, ia akui kemampuan kepo-nya Gwen memang hebat. “Ya udah, gak nyesel kan?”
“Nyesel sih cuman nih pr lebih penting."
Keisya mengangguk, ia berharap tidak terkena masalah jika bertemu dengan Devan, mengingat para gadis di sekolahnya pada mengincar cowok itu. Untung saja Devan sedang bersender di balkon depan kelasnya. Jadi, Keisya tidak perlu susah-susah mencari most wanted itu.
“Ketemu bro?” tanya Aldo sahabat Devan.
“Slow. Gue beli yang baru."
“Hem … sultan mah bebas!”
Keisya segera menghampiri Devan. “Dev, ini kunci motor lo kan?”
Devan terdiam, menatap Keisya cukup lama sampai gadis itu mengernyit bingung. “Lo abis nangis ya?”
Pertanyaan yang tidak terbayangkan Keisya. Bukan tentang kenapa kunci motornya ada di Keisya? Atau lebih tepatnya kenapa Keisya bisa tau itu kunci miliknya? Dari sekian banyak orang baru kali ini ada seseorang yang menyadari bahwa Keisya habis menangis.