
Hubungan Keisya dan Laura memang renggang akhir-akhir ini. Walaupun duduk sebangku tapi, salah satu dari mereka tak berniat untuk memulai pembicaraan, seakan menolak berkomunikasi.
Keisya yang kesal dengan Laura karena berbohong dan Laura yang dongkol karena Keisya membicarakannya di depan Daffa. Ego memang sering menguasai, tapi Laura tak akan membiarkan ego itu menyakiti, apalagi sampai menjauhkan dua hati yang sudah saling menyayangi.
Siang ini kelas sepi, banyak teman kelasnya istirahat ke kantin, mengurus sesuatu, ataupun berjalan-jalan di sekitaran sekolah sambil melirik cogan dan cecan. Sisanya hanya bermain ponsel, tidur, dan berkumpul, makanya di kelas sekarang Laura meminta tolong pada Gwen, Isel, dan Anna agar Keisya tidak dibully oleh The Evil Geng.
“Gue tau, salah gue banyak apalagi udah kasar sama Keisya waktu itu dan jarang negor kalian, terutama Anna karena udah ngusir lo dari bangku.”
Anna menggebrak meja kesal. “Gak usah bahas lagi, entar gue kesel lagi!”
“Intinya gue minta maaf sama kalian," ujar Laura tulus.
Gwen mengangguk pelan. “Ya udah, kami udah maafin, asal jangan lo ulangi lagi aja. Sekarang lo mau minta tolong apa nih?”
Laura mendekatkan wajah pada mereka, agar orang lain selain mereka tidak ada yang mendengar. “Gue minta kalian percaya kalau Keisya hari ini mau dibully Cika sama temennya.”
Isel yang sedang minum sontak tersedak mendengar Laura. Beruntung Gwen menepuk belakang pundaknya, mencegah agar air tidak masuk ke dalam paru-parunya. “Gila ya mereka mau ngelawan ketos kita! Mereka pikir siapa?!”
Anna meringis mendengar pekikan Isel karena semua anak kelas jadi menatap ke arah mereka. “Suara lo tuh bisa dikecilin gak atau mau gue sumpel pake nih kaos kaki.” Anna mengangkat sebelah kaos kakinya yang belum dipasang.
“Ya udah sumpel aja!”
“Oh nantang nih, inget ya kaos kaki ini belom dicuci tiga hari!”
“Cie pantes aja bau terasi dari tadi ternyata dari kaos kaki lo.”
Anna langsung bangkit berdiri, membuat Isel tersentak kaget dan menelan salivanya susah payah. Isel mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri, sebelum Anna mengejarnya. Masih dengan memegang botol minum, Isel menjauh dari Anna yang mengejarnya sambil mengangkat sebelah kaos kakinya layaknya singa yang siap menerkam mangsanya sampai tak sadar mereka sudah berada di lapangan upacara.
“Dasar bocah.” Gwen hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku sahabatnya yang terbilang absurd itu. “Gini deh gue punya rencana. Lo, harus ikutin Keisya ke mana pun dia pergi, jangan sampai tuh anak ilang. Gue sama yang lain bakal awasi The Evil alias upil geng. Terus, kita buat grup chat biar bisa saling kabaran. Setuju?”
Tanpa pikir panjang, Laura langsung menyetujui rencana Gwen, ia menjabat tangan Gwen dengan baik dan langsung memulai aksinya dengan membuat grup chat terlebih dulu sekaligus berdoa, agar Keisya tetap baik-baik saja.
~•••~
Semua murid sudah pulang ke rumah masing-masing, senja yang berwarna jingga keemasan mulai sedikit tertutup oleh awan kelabu. Menunjukkan sebentar lagi akan masuk malam. Tapi, Keisya tetap masuk ke dalam ruang OSIS untuk menyelesaikan tugasnya yang kian menumpuk seperti program kerja, sprom, dan lain-lain.
Begitu duduk di tempatnya, mata Keisya menangkap sebotol minuman isotonik di sampingnya. Karena tenggorokannya terasa kering seakan dehidrasi, Keisya lantas meraih botol minum itu lalu menegaknya sampai habis.
“Makasih minumnya Daf,” ucap Keisya pada Daffa yang baru masuk ke ruang OSIS.
Daffa yang menemani Keisya seorang itupun mengernyit bingung. “Minum? Gue gak ngasih apapun.”
“Gak usah sok nutupin.” Keisya mengambil pulpen dari dalam saku bajunya dan mulai menulis di atas kertas.
Daffa hanya mengedikkan bahu karena tak paham dengan ucapan Keisya.
Mata Keisya mengerjap beberapa kali, sampai pandangannya terfokus pada berkas-berkas di depannya, ia menoleh ke belakang melihat Daffa sedang mengurus administrasi lainnya.
“Daf, gue udah tidur berapa lama?”
“Dua jam," jelas Daffa.
Keisya menghela napas singkat, ia mengambil ponsel dalam saku bajunya, mencari kontak bosnya, dan dengan sabar menunggu panggilan teleponnya terjawab.
[Halo?]
[Kamu ini sudah berapa kali gak masuk kerja. Izin terus. Kalau sampai besok-besok kamu izin lagi gak cuma gaji kamu yang ibu kurangi tapi kamu juga ibu berhentikan.]
“Maaf bu Keisya bakal—“
Tanpa mendengar kelanjutannya, bosnya langsung menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Keisya menghela napas lagi, dan menatap botol isotonik di sampingnya, bagaimana bisa minuman itu malah membuatnya tertidur selama dua jam?
“Daf kenapa lo gak bangunin gue? Kan gue banyak tugas.”
Daffa tidak menggubris Keisya, ia membereskan barang-barangnya masuk ke dalam tas dan dengan cepat keluar dari ruang OSIS.
Keisya tersentak kaget dengan Daffa yang pergi begitu saja tanpa pamit, ia lantas bangkit berdiri dan menyusul cowok itu di luar. “Daf, lo mau ke mana? Jangan tinggalin gue lo tega banget sih.”
Daffa yang sudah naik di atas motornya pun berdecak kesal. “Pekerjaan gue udah selesai Kei, gue juga udah nemenin lo. Maaf, tapi gue ngantuk banget, udah malem juga. Jadi sorry ya gue pulang dulu. Entar gue jemput lo,” ucap Daffa lalu menaikkan standar motornya.
Keisya terdiam sejenak, ia tidak punya hak untuk memaksa Daffa terus menemaninya. “Ya udah kalau gitu hati-hati ya.” Daffa mengangguk dan melambaikan tangan pada Keisya, sebelum menjauh dari ruang OSIS.
Daffa tersentak kaget melihat Gwen, Isel, dan Anna masih berada di sekolah tepatnya di ruang satpam penjaga gerbang sekolah sambil mengobrol dan tertawa tidak jelas. “Kalian ngapain masih di sini?”
“Jagain Keisya, lo kenapa pulang sendirian? Jangan ngomong lo ninggalin dia.”
“Gue capek, mau istirahat.” Tanpa banyak mengoceh lagi, Daffa langsung tancap gas menuju jalan raya.
“Dasar cowok gak bertanggung jawab,” cela Gwen.
~•••~
“Ca, belum selesai juga? Mau gue bantu?”
Keisya tersentak kaget melihat Laura tiba-tiba muncul di belakangnya. “Lo ngapain di sini belum pulang? Ngagetin gue aja.”
“Gue mau nemenin lo, gue gak mau lo sendirian.”
Keisya menghela napas singkat, ia tak paham kenapa Laura begitu niat menunggunya sedari tadi. “Ya udah masuk aja, diluar dingin.”
Laura mengangguk dan ikut masuk ke ruang OSIS bersama Keisya. Mata Laura langsung menyapu sekeliling, menatap satu-persatu piala yang terpajang dari balik lemari kaca terutama yang berukuran satu meter dan tertulis nama Keisya. “Lo pernah ikut olimpiade?”
Keisya tersenyum menatap Laura. “Iya, sebelum lo jadi murid baru.”
Seketika kedua mata Laura berbinar seakan mendapat hadiah istimewa. “Lo hebat banget ya. Gue bangga punya lo, jadi pengen juga ikut beginian. Bisa dapet piala foto juga terpajang. Tapi gue sadar diri sih gue gak mampu.” Keisya jadi terkekeh kecil, mungkin Laura sedang berusaha jujur. “Wajar aja Devan jadi tergila-gila sama lo. Ya, gak cuma karena pinter tapi lo juga baik. Saling ngelengkapin gitu.”
Keisya mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Mendengar penuturan Laura justru membuatnya semakin mengantuk sampai tak berhenti menguap. Apalagi membicarakan tentang Devan, membuat pikiran Keisya melayang tak berarah.
“Dev gue gak bisa dansa.”
"Kalau gue maju ke depan, lo melangkah mundur, gitu sebaliknya."
Tangan kiri Devan mulai merengkuh pinggang Keisya sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Keisya. Keisya menyimpan tangan kanannya di pundak Devan. Jantungnya berdegup kencang saat menatap mata elang Devan yang begitu intens.
Devan mulai melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan sembari menatap Keisya dengan senyuman.
"Tetep ikutin dansanya, sampai musiknya berhenti."
Seakan terhipnotis, Keisya menurut saja perkataan Devan. Entah sejauh mana kedekatan mereka, Keisya tak mau tau yang jelas sekarang ia bisa merasakan hembusan napas Devan semakin dekat dan hangat dikulit wajahnya. Kedua tangan Devan terangkat memegang lembut pipinya dan sebentar lagi bibir itu bertemu.