His Struggle

His Struggle
• BAB 19 •



“Waw! Gue baru tau ada tempat bagus di sini.”


Mata Laura memperhatikan matahari yang sedang bertengger manis di langit biru, berselimut awan putih dengan angin yang menyentuh lembut pori-porinya. Tak ketinggalan daun bertebaran dan beberapa bunga yang sedang mekarnya di sekitaran bukit.


“Duduk sini,” kata Devan sambil menepuk tanah berlapis rumput. Laura segera mendekati Devan dan duduk tepat di sampingnya. “Gimana? Merasa lebih baik?”


"Mendingan.”


"Sekarang lo boleh cerita apapun ke gue.”


"Semua yang gue ceritain kemarin udah cukup jelas.”


Devan meraih bunga di sampingnya, lalu memberikannya pada Laura. “Ini bukan soal apa yang lo alami, tapi juga apa yang lo rasain.”


Laura memutar-mutar tangkai bunga itu, lalu mengehela napas panjang. “Perasaan? Ya gue juga gak tau. Rasanya gue kayak kehilangan diri gue sendiri, gak tau harus ngapain, hidup gue tu bener-bener gak berguna. Untuk berharap papa gue bakal dateng aja rasanya gak mungkin.”


Devan belum mau melepas kontak matanya dengan Laura karena ia tau, di saat mengalami fase sulit seperti itu Laura hanya perlu didengarkan, tidak harus dinasehati, apalagi untuk di-judge.


“Terus apa yang lo mau?”


“Entahlah, gue juga belum bisa move on dari Rey, biasanya cuma dia yang nanyain kabar gue dibanding papa gue sendiri. Tapi, pas tau tangan gue luka dia langsung mutusin gue itu bener-bener nunjukin kalau dia gak cinta gue apa adanya ….”


Mendengar banyak cerita Laura, benar-benar membuat Devan mengantuk sampai-sampai ia sudah beberapa kali menguap. Berhubung Laura masih berceloteh sambil menghadap ke depan, Devan pun memutuskan untuk membaringkan diri ke tanah, lalu menjadikan lengannya sebagai sandaran kepalanya.


“Apalagi—"


Mendengar kicauan burung yang lebih mendominasi, membuat Laura berhenti bersuara. Ia menoleh ke samping, ternyata Devan sudah tertidur lelap di sampingnya.


“Lah gue ditinggal tidur.” Laura berdecak kesal sambil mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah dua puluh menit lebih dia bercerita. Pantas, saja Devan bosan mendengarnya.


Entah kenapa, rasa kesalnya hilang begitu saja saat menatap wajah teduh Devan. Ia ingin menyentuh wajah itu, tapi tangannya malah tergerak mengambil buku gambar di dalam tasnya yang selalu dibawa ke manapun ia pergi. Laura mulai menari-narikan pensilnya di atas kertas dan menggambar setiap sudut wajah Devan.


Banyaknya nyamuk yang mengiggit wajah Devan, membuat cowok itu terpaksa merubah posisinya menjadi duduk. Laura yang tersentak kaget melihat Devan tiba-tiba bangun langung menyembunyikan gambarnya di belakang punggungnya.


“Lo ngapain?” tanya Devan sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Gak ada.”


Devan berhasil meraih gambar Laura dari belakang punggungnya, sedetik kemudian ia tersenyum sinis. “Ganteng juga gue di sini, ternyata lo jago gambar ya.”


Laura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Cuma hobi.”


“Gambaran lo mesti ditunjukin ke dunia.” Mendadak Devan bangkit berdiri dan langsung kabur membawa buku itu.


“Eh, gambaran gue mau dibawa ke mana?”


“Ke tempat yang harus lo kunjungi,” kata Devan yang sudah naik ke atas motornya.


Laura terkekeh kecil dengan tingkah Devan lalu berlari menyusulnya.


~•••~


“Kak Devan!”


Anak kecil yang berteriak itu langsung melompat ke hadapan Devan dan memeluknya erat. Ia muncul dari rumah dengan gaya atap dan jendela yang sudah berumur cukup tua tapi terasa teduh karena dikelilingi banyak pohon besar di halaman depannya. Ternyata, Panti Asuhan Kunci Bahagia ini adalah tempat yang Devan tunjukan untuk Laura kunjungi.


“Apa kabar cantik?” tanya Devan pada anak kecil itu.


“Leyna baik kok kak, apalagi ngeliat kak Devan, Leyna jadi tambah baik deh!” jawab Leyna dengan wajah berseri-seri. “Eh, ini siapa kak?” tanyanya setelah melihat Laura berdiri di belakang Devan.


“Oh, ini temen kakak namanya Laura.”


“Jangan lihat dari nasib mereka tapi, coba lihat dari senyum yang mereka tunjukan,” bisik Devan.


Laura mengangguk pelan.


Dari luar memang terlihat kecil, tapi jika sudah masuk ke dalam, terdapat banyak ruangan yang cukup luas. Ada ruang untuk tempat tidur, belajar, bahkan ruang doa. Banyak anak kecil yang sedang menggambar, main boneka, bahkan kejar-kejaran sampai-sampai tidak sengaja menabrak tubuh Laura di sana.


“Eh, maaf kakak ….”


Laura mengelus puncak kepala anak kecil itu. “Gapapa dek, mainnya hati-hati ya nanti jatuh,” kata Laura lembut, anak kecil itupun mengacungkan jempol.


“Nih, kakak bawain hadiah buat kalian,” ucap Devan sambil membuka bungkus pakaian baru dan makanan-makanan lezat.


“Asik …!” jawab mereka serempak.


“Makasih banyak nak Devan udah nyempetin waktu datang ke sini,” kata ibu pengurus panti asuhan.


“Sama-sama bu, memang ada kekurangan sendiri kalau belum lihat adek-adek di sini,” kata Devan yang mendapat anggukan senang dari ibu itu.


“Dev, kenapa punya adek Leyna bungkus hadiahnya paling bagus? Mereka pada iri tu,” kata Laura sambil menyenggol Devan dengan sikutnya.


“Karena yang pertama kali gue temuin itu Leyna, sebelum panti asuhan ini belum sebagus sekarang. Dulu masih lusuh dan hampir digusur oleh perusahaan industri milik papa gue,” kata Devan apa adanya, Laura hanya mengangguk paham.


Setelah Leyna membuka bungkus hadiahnya, ia kembali meminta Devan untuk digendong. Tanpa keberatan, Devan langsung mengangkat tubuh kecil Leyna dan melingkari kakinya di leher Devan. Memang Leyna yang paling manja kalau sudah bertemu cowok itu.


“Sebenernya juga karena muka dia mirip Keisya,” lanjut Devan.


Medengar nama Keisya, Laura jadi tertegun. Walaupun begitu, ia masih tidak menyangka jika Devan memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan julukan bad boy-nya. Dibalik sosok berantemnya ternyata cowok itu bisa berlaku lemah lembut dan penyayang.


“Ayo kak! Kita main komedi putar!” ajak Leyna antusias.


“Siap, yok!” Devan memegang kedua tangan Leyna menuju halaman belakang seolah akan terbang, membuat Laura terkekeh.


Suasana yang ramai di sana benar-benar mampu membuat beban pikiran Laura menjadi berkurang dan terasa lebih rileks. “Liat nih gambaran kak Laura,” kata Devan sambil menunjukkan hasil karya Laura.


“Wah! Bagus kak, Leyna pengen juga deh di gambar gitu.”


Laura tersenyum. “Boleh kok, tapi kakak harus lepas perban dulu ya.”


Mendadak Laura melepas perban di tangannya yang menunjukkan bekas jahitan di tangannya, padahal seharusnya dilepas lusa nanti. “Kalian gak jijik?”


Leyna menggeleng santai. “Enggak kak, Leyna kagum sama kak Laura walaupun tangannya sakit tapi masih bisa gambar.” Leyna mendekati Laura dan menyentuh tangan Laura. “Satu, dua, wah ada tiga jahitan. Pasti sakit ya kak.”


Laura mengelus pelan puncak kepala Leyna. “Gak sakit sama sekali kalau kakak gambarin muka cantik kamu, syaratnya harus happy aja.”


Leyna melompat girang. “Ye …! Makasih ya kak, Leyna selalu happy kok,” tapi ia berlari pergi, melanjutkan permainan komedi putarnya lagi.


Devan tersenyum menatap Leyna. “Bener-bener mirip Keisya, semangatnya, ketawanya juga manis, jangan-jangan Keisya emang jodoh gue, lewat gambaran dari Leyna.”


Laura terdiam.


“Harus gue foto nih biar Keisya bisa lihat.”


Baru saja Devan mengeluarkan ponselnya, Laura sudah menahan tangannya. “Gak usah, biar gue gambar aja. Hitung-hitung lo udah dengerin curhatan gue.” Akhirnya Devan mengangguk setuju.


Sekarang Laura tidak ingin menuntut apapun lagi pada Devan. Daripada menghilangkan nyawa, lebih baik perasaannya saja yang dihilangkan. Laura tidak ingin merusak kebahagiaan Devan meskipun cowok itu malah teringat pada Keisya.


Devan yang sudah merasa akrab dengan Laura juga tidak akan mengubah sedikitpun perasaannya pada Keisya. Hanya dan selalu untuk gadis itu.