His Struggle

His Struggle
• BAB 2 •



“Si-siapa?”


“Lo, siapa lagi?" jelas Devan.


Keisya tersenyum kikuk, entah kenapa ia jadi salting sendiri. “Oh, haha. Mungkin muka gue keliatan kusut ya?”


Devan semakin menatap lekat Keisya, dilihat dari bola mata yang unik itu, membuat Keisya jadi ikut terbawa dalam pupil hijaunya. Ternyata Devan memiliki bola mata yang indah, cocok dengan hidung mancung, dan rahang tegasnya. Di tambah lagi alis tebalnya yang menambah kesan tajam di matanya.


“Udah puas mandangin gue?”


Keisya sontak memejamkan matanya sambil geleng-geleng kepala. “Siapa yang mandangin?"


“Jujur aja."


“Udah ah, gue cuma mau balikin itu. Bye!” Keisya langsung berlari menjauh dari Devan sambil merutuki dirinya sendiri karena terlalu lama memandang cowok itu. Namun, cowok itu tetap menatap punggung Keisya sampai tidak terlihat lagi.


“Ya, walaupun Keisya gak cantik tapi senyumnya manis juga. Coba kunci gue aja yang ilang,” kekeh Aldo.


"Aamiin."


"Kok lo jahat bro?”


“Kan lo yang minta.”


“Ya gak gitu juga, entar gue pulang pake apa? Odong-odong?”


Devan tersenyum sinis. “Sangking cerianya, dia jadi lupa diri.”


"Tau apa lo soal cewek? Keisya emang ceria, itulah daya tariknya. Gak usah sok peka lo, kalau masih aja ngehindarin cewek. Huuu!”


Ehem.


Suara dehaman pria paruh baya yang terdengar dari arah belakang, membuat keduanya sontak berbalik badan.


“Nak Devan, ayo ikut ke ruangan bapak,” kata kepala sekolah botak dengan perut buncit, siapa lagi kalau bukan Pak Frey.


Semangat bro. Bisik Aldo.


Mau tak mau Devan terpaksa menurut. Sialnya, sepanjang perjalanan menuju ruang Pak Frey para fans fanatik Devan langsung berteriak histeris melihat cowok itu, membuat cowok itu hanya bisa menutup kedua telinganya.


“*Calon imam gue!!!”


“Ganteng banget sih!!!”


“Follback dong kakak*!!!”


Selesai mendengar teriakan cempreng mereka, akhirnya Devan bisa duduk tenang di ruang kepala sekolah. Iya, tenang. Karena Devan sudah terbiasa bolak-balik ruang kepala sekolah seperti rumahnya sendiri.


“Devan Cal Nelson keturunan dari Nelson, kamu tidak sadar sudah keskian kalinya kamu membolos. Absenmu itu kotor sekali. Lihat itu!” Pak Frey menunjukkan absensi kelas XII IPS 1 yang penuh dengan tinta merah di bagian nama Devan. “Kamu itu hanya tiga kali masuk dalam seminggu,” celotehnya, tapi Devan hanya diam, ia tidak ingin membuat Pak Frey semakin mendidih.


“Jawab Devan!”


“Permisi.” Seorang gadis terlihat masuk ke ruangan Pak Frey, tentu saja dia adalah Keisya.


Hal biasa pun bagi Keisya keluar masuk ruang kepala sekolah seperti Devan, hanya saja kasusunya yang berbeda. Jika Keisya menjadi kebanggan guru-guru termasuk Pak Frey maka Devan hanyalah sampah masyarakat di sekolahnya.


Perlahan Keisya menaruh berkas-berkas yang dipegangnya ke meja Pak Frey. “Keisya taruh di sini ya pak.”


“Iya susun yang rapi ya.” Melihat Keisya datang, mood Pak Frey pun menjadi lebih baik. “Nah contoh Keisya ini, siswi teladan yang baik, disiplin waktu, dan rajin. Gak kayak kamu bisanya balapan motor saja.”


“Gak peduli,” gumam Devan.


“Apa katamu?!” Pak Frey kembali meninggikan suaranya, emosi karena Devan batu. “Berani ya, bapak telpon ayah kamu sekarang juga. Gak usah bawa pembantu kamu itu lagi, biar ayah kamu sendiri yang dateng, bapak tau yang mana orangnya.”


Devan mengumpat dalam hati, ia benar-benar frustasi jika sudah menyangkut pautkan dengan ayahnya. Melihat Keisya yang kini menatapnya, Devan mencoba mengirim sinyal agar dia membantu menghentikan tindakan Pak Frey.


Meskipun Devan terlihat mengancam, Keisya tetap menggeleng. Ia takut jika menolong Devan akan berdampak buruk pada sekolahnya nanti atau yang lebih parah pada dirinya sendiri.


“Halo dengan Pak Nelson? Ini kepala sekolah SMA Galaksi.”


Tiba-tiba rasa ketidak-tegaan muncul di hati Keisya saat menatap Devan hanya tertunduk pasrah, entah mengapa ia ingin menolongnya. Segelas kopi di samping telepon yang masih berjenis kabel itu mencuri perhatian Keisya, dengan cepat Keisya mengulurkan tangannya dan menumpahkan kopi itu hingga teleponnya konslet dan membasahi baju Pak Frey.


Tuut. Suara telepon terputus.


“Astaga! Ini kenapa baju bapak jadi pait semua ini,” kesal Pak Frey sembari mengusap-usap bajunya yang kotor.


“Maaf pak Keisya gak sengaja, tadi mau taruh berkasnya gak liat ada kopi. Keisya bersihin aja ya.”


“Sudah! Sudah! Gak perlu, bapak mau ganti baju. Pokoknya bersihin meja dan lantai ini sampai bersih,” kata Pak Frey langsung keluar ruangan.


“Gue cabut ya.” Devan pun ikut keluar dari ruangan dengan tergesa, tanpa berniat basa-basi pada Keisya.


“Udah gak makasih, main nyelonong juga. Mana gue lagi yang bersihin. Tolong gue ibu peri.”


~•••~


Sepulang sekolah, Keisya langsung membereskan barang-barangnya masuk ke dalam tasnya dan bergegas pamit pada teman-temannya lalu pergi meninggalkan kelas.


“Kenapa sih Keisya selalu buru-buru kalau pulang? Kayak dikejar Gwen," tanya Isel penasaran.


Gwen berdecih. "Lo pikir gue hantu apa? Makanya abis pulang sekolah tuh belajar bukannya nonton drakor.”


“Tumben lo bener Gwen?” timpal Anna.


“Kaliannya aja baru sadar."


Suara motor ninja yang membawa seorang cowok berhenti di depan Keisya.


Cowok itu membuka helm full face-nya dan setelah dilihat ternyata dia Devan. Tangan Devan pun menyodorkan helm lain di hadapan Keisya. “Naik.”


“Eh … kenapa? Gue mah naik angkot aja." Keisya menggeleng.


“Woy yang di depan! Bisa minggir gak? Gue mau lewat!” teriak seorang murid sekolahnya yang sedang mengendari mobil di belakang Devan dengan raut wajah ngajak berantem.


“Dev, minggir yang di belakang mau lewat.”


Bukannya minggir dari tengah gerbang sekolahnya, Devan malah mematikan mesin motornya dan duduk santai menunggu Keisya sampai naik. “Gue tunggu.”


“Woy! Denger gak sih mau gue tabrak apa?!”


Karena Keisya tidak mau membuat masalah semakin runyam, akhirnya ia mengambil helm dari tangan Devan lalu naik ke atas motornya. “Udah cepetan.”


Sebelum pergi, Devan melepas jaket navy yang dikenakannya lalu memberikannya pada Keisya. “Jaketnya buat nutupin paha lo, biar gak bagi-bagi rezeky.”


Diperlakukan seperti ini membuat jantung Keisya menjadi tak karuan. Untuk menutupi rasa malu, Keisya langsung mengambil jaket itu dari tangan Devan dan meletakkannya di atas pahanya.


~•••~


Untuk pertama kalinya Keisya diantar seorang most wanted ke Branch Cafe. Keisya merasa canggung, karena sepanjang perjalanan hanya keheningan jalan yang menerpa mereka. Keisya pun mencoba memberanikan diri untuk buka suara.


“Dev, kenapa lo nganterin gue?”


“Gue belum makasih."


“Gu--gue ikhlas kok."


Tak ada satu kata lagi yang keluar dari mulut Devan, suasana menjadi hening kembali. Keisya merasa mungkin sepuluh menit lagi mereka sampai.


“Keisya kan?”


“Iya, kenapa?”


“Namanya bagus, sama kayak orangnya. Bidadari yang datang menolong gue.” Mendengar Devan berkata seperti itu, Keisya hanya bisa tersenyum. “Dari sekian banyak cewek yang gue tau nama lengkapnya cuma lo. Keisya Aira Denaya.”


"Tau dari mana?"


"Aldo yang ngasih tau gue." Keisya mengangguk, ia pikir Devan mencari tau sendiri. “Kenapa harus gue?”


"Kan lo yang bakal ngelengkapin hidup gue.”


“Se yakin itu?” Devan jawab mengangguk. Sekarang Keisya benar-benar tidak bisa mengontrol ekspresinya, pasti pipinya sudah terlihat seperti tomat ranum.


Sayangnya, Devan tidak bertanya pada Keisya bagaimana Keisya bisa tau namanya? Kenapa juga Keisya ingin ditanya seperti itu. Toh tidak ada satu pun orang yang tidak tau Devan.


“Oh ya Dev, lo takut kena marah ayah lo ya kalau ketauan bolos?”


“Bukan."


“Terus kenapa?” tanya Keisya lagi.


“Gue males kalau kartu kredit gue di potong sampai nol. Lagian gue bolos karena proses cita-cita gue buat jadi pembalap nanti. Tapi, tenang aja lo aman kok sama gue. Mana mungkin gue mencelakakan si pemilik senyum manis.”


Mendengar jawaban Devan, Keisya benar-benar tidak bisa menahan senyumnya. Menurut Keisya, Devan tak seburuk yang dikatakan orang lain. Keisya tidak menyangka Devan bisa gombal, ternyata informasi Gwen belum sepenuhnya lengkap.


“Lo sering gombalin cewek ya Dev?”


“Iya, sampai dia ketawa sendiri gak karuan. Mungkin udah bosen juga dia dengernya.”


“Siapa?”


“Ibu gue.”


Keisya hanya mengangguk, pasti modus minta uang jajan lebih.


“Dan lo. Doain aja sampai ke masa depan,” kata Devan. Keisya memilih diam tapi dalam hati ia bekata ‘aamiin’.


~•••~


Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Keisya turun dari motor Devan lalu mengucapkan terima kasih padanya. “Makasih Dev, makasih juga buat gombalan recehnya.”


Devan balas tersenyum dan sedikit mengacak rambut Keisya. Meskipun hanya diperlakukan seperti itu, tapi perlakuannya sukses membuat jantung Keisya berlarian. “Lo ngapain pulang sekolah ke kafe?”


“Gue, ada janji sama temen. Udah lama gak ketemuan,” bohong Keisya, ia tidak ingin seorang pun tau kalau dirinya sedang bekerja part time, termasuk Devan.


“Ok, jangan malem-malem pulangnya, gak baik bagi cewek. Tapi, lo bisa hubungi gue kalau mau dijemput.”


Keisya mengangguk dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Mereka berdua pun bertukar nomor ponsel, siapa pun pasti akan iri pada Keisya karena mendapatkan nomor seorang most wanted di sekolahnya.


“Gue pulang ya, jangan sedih terus. Air mata lo berharga.”


“Iya, lo juga hati-hati di jalan.” Keisya tersenyum dan mengangguk, lalu melambaikan tangan begitu Devan pergi menjauh.


Sebenarnya Keisya masih malu jika ada orang yang melihatnya sedih, ia selalu ingin menjadi kuat, meskipun sulit. Karena kata lemah tidak pernah ada dalam kamusnya. Semoga saja Devan tidak mencari tau tentang dirinya lebih jauh.


“Kei! Cepat masuk antarkan pesanan!”


“Siap kak.” Keisya segera masuk ke dalam kafe begitu seniornya memanggil, lalu dengan sigap ia memasang celemek di pinggannya.