
Suara alunan lagu Syantik yang dinyanyikan oleh Siti Badriah menyambut Devan begitu keluar dari rumah dengan seragam yang dikeluarkan dan dua kancing dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus hitam yang dipakainya, tanpa dasi. “Emang lagi syantik … tapi bukan sok syantik … syantik-syantik gini hanya untuk dirimu,” suara nyaring Jeslyn berpadu dengan suara cicit burung yang bertengger di depan rumah.
Melihat sang mama sedang sibuk menyiram tanaman, Devan bermaksud mengagetkannya dari belakang dengan menepuk kedua bahunya.
“Hari ini aku syantik … syantik bagai—"
“Dor!”
“—bidadarong!” sontak selang air yang dipegang Jelsyn mengarah ke Devan, beruntung Devan cepat menyingkir walaupun rambutnya jadi setengah basah.
“Yah ma, rambut Devan jadi basah nih,” gerutu Devan sambil mengacak-acak rambutnya.
“Siapa suruh tadi ngagetin mama.”
Devan berdecak kesal. “Lagian mama ngapain pagi gini nyirem-nyirem. Biasa juga nyuruh Bi Nollie.”
Jeslyn tersenyum ceria. “Soalnya mama baru beli bunga baru tuh.” Jeslyn menunjuk bunga tulip di depannya. “Bagus kan, mama mau rawat pake cinta biar subur. Jadi makin banyak bunganya.”
Devan mengernyit bingung. “Perasaan bunga di rumah masih banyak.”
“Beda, bunga tulip itu menggambarkan cinta sejati. Kalau kamu kasih bunga ini ke seseorang, itu menunjukkan kalau kamu bener-bener suka sama dia.”
Devan mengangguk paham, entah kenapa setelah mendengar penjelasan mamanya ia teringat pada Keisya. “Devan boleh minta satu?”
Jeslyn menatap Devan heran. “Buat apa?”
“Buat calon Devan lah ma, katanya mau ketemu.”
Jeslyn terdiam sejenak, sedetik kemudian ia ber-oh ria. “Pegang dulu selangnya.” Devan menerima selang air yang dipegang Jeslyn. Jeslyn mengeluarkan gunting dari dalam saku celananya lalu memotong satu bunga tulip berwarna merah terbaik untuk Devan. “Nih, mama pilihin yang paling cantik.”
Devan meraih bunga yang dipegang Jelsyn lalu tersenyum. “Makasih ma,” ia mencium sebelah pipi Jelsyn, memasukkan bunga itu dalam tasnya, lalu naik ke atas motornya. “Ya udah Devan pergi ya ma, doain semoga berhasil.”
Jelsyn terkekeh kecil. “Ok hati-hati sayang, mama selalu doain.”
Devan mengacungkan jempol dan langsung tancap gas, tak sabar untuk segera sampai ke sekolah.
~•••~
Suara hiruk pikuk begitu menggema di telinga Devan saat sedang memarkirkan motornya di area parkir sekolah. Tapi Devan tak menggubris yang terpenting sekarang, ia harus mencari keberadaan Keisya.
“Hu ...! Kenapa gak dikeluarin aja semuanya?!”
“Kalian itu toxic, pembully, pysco, sampah!”
“Mati aja kalian para geng upil!”
Seluruh anggota The Evil Geng terpaksa menerima cacian dan makian sedap dari para murid lain begitu mereka keluar dari ruang kepala sekolah. Ada yang membuat spanduk dengan kata 'neraka', membuat meme menggunakan wajah mereka, bahkan sampai melempar tepung dan telur dari gedung kelas atas.
Tak terima dirinya dicela, Cika lantas melempar sebelah sepatunya pada dua gadis yang sedang melintas di depannya sambil menjulurkan lidah.
“Gak usah sok cantik lo pada!” pekik Cika.
Tapi keduanya hanya tertawa dan kabur sambil membawa sebelah sepatu Cika.
“Eh kurang ajar! Balikin sepatu gue,” teriak Cika sambil berlari menyusul mereka.
“Ambil aja sendiri!” tantang Mika.
Mika dan Nana langsung melepas tali sepatu Cika lalu membuangnya ke kotak sampah, merobek-robek bagian kulit sepatu Cika menggunakan cutter, sampai bagian alasnya jadi terbuka lebar. Setelah itu, mereka melemparnya kembali pada Cika.
“Tuh! Makan sepatu busuk lo!” ejek Nana kembali berlari menuju kantin bersama Mika.
Cika terdiam sejenak, perlahan ia berjongkok mengambil sebelah sepatunya. Air matanya mengalir begitu deras melihat sepatu Louis Vuitton terbaiknya sudah hancur dalam sekejap. “Papi, sepatu Cika ....” rengeknya.
Jika Cika menangisi sepatunya yang tak layak pakai lagi, lain halnya dengan Caca yang datang menemui pacarnya di kelas. “Bri!” panggil Caca begitu melihat Brian tengah bersender di balkon.
Sekilas Brian menoleh ke arah Caca, karena enggan bertemu gadis itu ia berniat pergi ke toilet tapi, tangannya berhasil digenggam Caca. “Mau apa lo?!” ketus Brian.
“Nge-date lo bilang?” Brian berdecih. “Mending gue pergi sama monyet dibanding pembully kayak lo. Ogah!”
Mata Caca mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Brian akan mengeluarkan kata-kata kasar itu padanya. “Bri, gue pacar lo! Maksud lo apa bilang gitu?”
“Kita putus,” jelas Brian.
Tanpa berlama-lama lagi, Devan melangkah masuk ke dalam sekolah. Begitu sampai di pinggir lapangan upacara, suasana yang awalnya berapi-api seketika menjadi tenang saat melihat kehadirannya. Lagi-lagi Devan tidak menggubrisnya, karena mata Devan hanya terfokus pada gadis pujaannya yang sedang berdiri di depan ruang kepala sekolah sambil menatapnya juga.
Devan kembali melanjutkan langkahnya sampai berhenti di tengah lapangan upacara, ia menggerakkan jari telunjuknya, menyuruh Keisya untuk mendekat.
“Gue?” tanya Keisya sambil menunjuk dirinya sendiri, bingung.
Devan mengangguk.
Keisya tersenyum kikuk, ia sedikit membungkukkan badannya, berjalan menghampiri Devan sambil menahan detak jantungnya yang berlarian, dan berdiri di hadapan cowok itu. “Kenapa?”
Meskipun tertutup bunga tulip, masih bisa Keisya lihat dengan jelas senyum tipis tapi manis milik Devan itu. “Sebenernya yang beruntung itu gue atau lo?”
Keisya mengernyit bingung, sepertinya ia tau arah pembicaraan ini. “Ma-maksud lo?”
Devan terdiam sejenak.
Jantung Keisya berdetak seribu kali lebih cepat begitu Devan bertekuk lutut di hadapannya. Sorak-sorai para murid yang menyaksikan tak kalah antausias, menambah suasana hangat di hati Keisya.
“Pikirin nasib kami yang jomblo dong!"
“Lo liat Daf?” tanya Laura pada Daffa yang ikut menyaksikan Devan dan Keisya dari balkon kelas. “Mereka terlalu romantis, lo mah gak ada apa-apanya, bisanya cuma ninggalin Keisya, akhirnya semua dibalas dengan karma. Lo belom liat pas di UGD, nih gue tunjukin fotonya—“
Tanpa melihat ponsel Laura, Daffa langsung menepis tangan Laura dari hadapannya. “Jangan senang dulu, gue yakin Keisya bakal balik dengan gue walaupun dia udah sama Devan. Liat aja.” Daffa tersenyum sinis, sebelum masuk ke dalam kelas.
Laura hanya menghela napas gusar.
“Jadi Kei, lo—“
Belum sempat Devan menuntaskan kalimatnya, Aldo dengan santainya melintas di hadapan Devan sambil menyenggol kepala Devan sampai rambutnya teracak lagi dan mengambil bunga tulip yang dipegang Devan. “Oh Bunga … engkau berdiri merunduk dan tersipu malu ... mengalahkan kemerlap dunia … tidak terkalah oleh cantik putri cinderella … aku sedang jatuh cinta,” ucap Aldo dengan nada bak puitis.
Devan berdecak kesal, benar-benar kesal karena rencana menembak Keisya-nya gagal total gara-gara Aldo. Bukan hanya Also saja, ada Brian, Arif, dan sahabat-sahabatnya yang lain datang menganggu.
“Oh, maukah kau jadi kekasihku supaya aku bisa menciummu dengan lembut ....” ucap Brian tanpa malu.
“Lo pada ...” Devan mengusap wajahnya frustasi dan merasa sangat malu sekarang. Tapi, Keisya hanya terkekeh dengan tingkah laku sahabat-sahabat Devan.
Devan bangkit berdiri dan langsung meraih kerah baju Aldo sampai Aldo bergidik takut menatap mata tajam Devan. “Lo gak liat gue lagi serius. Lo cari mati hah?!”
Aldo mengatupkan kedua telapak tangannya bermaksud meminta maaf, kemudian ia menunjuk belakang Devan dengan telunjuknya. “It-itu di be-belakang lo?”
Devan semakin mengeratkan genggamannya. “Ngomong apa lo? Ngomong tuh yang jelas! Gak usah gagu, gagu.”
Devan meringis begitu benda berbahan kulit memukul kepalanya, ia menoleh ke belakang dan tersentak kaget melihat Pak Frey tengah mengangkat jaket kulit miliknya dengan sebelah tangannya sambil menatap tajam Devan seakan siap menerkam.
“Balik ke kelas kalian! Balik!!!” Pak Frey memukul Devan dan sahabatnya itu beberapa kali. “Kalian ini jam belajar dipakai untuk pacaran! Bapak hukum kalian bersihin tai kucing di depan ya!”
Aldo memegangi kepalanya untuk berlindung. “Pak! Saya gak salah Devan yang salah pak!”
Pak Frey terus mengibas-ngibaskan jaketnya tapi apesnya, Devan yang selalu kena. “Oh, masih ngelawan kamu anak nakal ya! Sini kamu!”
“Ampun pak kenapa gue terus yang dipukul?!” kesal Devan.
Alhasil mereka semua berpencar kabur, takut dikejar-kejar oleh Pak Frey.
Keisya hanya terkekeh menatap kekonyolan mereka, walaupun ia gagal menjadi milik Devan tapi Keisya yakin Devan takkan menyerah secepat itu. Ya, ia harap begitu.
Keisya meraih bunga tulip yang tergeletak tak jauh dari hadapannya. Walaupun salah satu mahkotanya lepas tapi dengan senyuman, Keisya tetap mengambilnya.
Keisya mengusap dan meniup mahkota bunga tulip itu beberapa kali agar debu yang menempel di mahkotanya hilang, lalu memeluknya erat. Keisya janji akan menjaganya dengan baik, menanamnya di depan rumah, dan menyiramnya secara teratur. Bodo amat soal lebay yang penting bunga tulipnya bisa terus tumbuh seperti rasa cintanya pada Devan.