His Struggle

His Struggle
• BAB 16 •



Para musuh yang tidak terima SMA Galaksi memenangkan perlombaan basket beberapa hari yang lalu, menyebabkan Devan dan geng bad boy-nya harus menyusun siasat perang alias tawuran kali ini. Meskipun, Devan menjadi sampah masyarakat di sekolahnya tapi, kalau sekolahnya akan dihancurkan siapapun takkan tinggal diam.


“Tambah orang lagi,” suruh Devan menatap satu persatu anggota.


“Udah banyak bos yang pulang gak seberapa,” ucap Aldo sambil menghembuskan asap rokoknya.


“Bakal menang gak?” tanya salah satu anggota gengnya.


“Lo takut? Mending pulang, minum susu, cuci kaki, tidur."


Setelah jam sudah menunjukkan pukul enam sore mereka memutuskan untuk pergi ke area depan sekolah SMA Galaksi. Tak lupa kedua sisi jalan sengaja ditutup mereka agar tak ada kendaraan yang lewat.


Tak butuh waktu lama para musuh pun datang mengendarai motor sambil membawa berbagai macam benda keras yang digunakan untuk tawuran, sebut saja geng vascal.


“Wah, yakin lo pada mau melawan?" ucap ketua geng bernama Josh itu yang sekarang berhadapan dengan Devan beserta deretannya.


“Sampah emang bisanya keroyokan,” ucap Aldo yang sudah memegang kayu besar ditangannya.


“Lo pada banci!" Devan menyeringai.


"Bacot, serang!” Josh langsung maju menyerang, tawuran pun terjadi.


Bermodal kepalan tangan, Devan langsung menenggelamkan wajah anggota geng vascal itu satu persatu tanpa ampun. Tatapannya menajam dengan urat leher yang menonjol tanpa takut. Teman-temannya tak kalah memberikan bogeman, timpukan, bahkan tendangan bertubi-tubi sekuat tenaga mereka.


Laura dan Keisya yang menyaksikan kejadian itu dari batas pagar mulai berkeringat dingin, seluruh badan mereka bergetar, tak tau harus bagaimana?


“Gimana nih Ra? Apa gue bolos kerja aja hari ini?” tanya Keisya mengigit bibirnya takut.


“Lo sih lama di ruang OSIS semua orang pada balik, lah kita doang.” Laura menunjuk wajah Keisya.


“Gimana, proposal gue masih banyak Ra.”


Mana mobil gue diparkir di depan. Batin Laura.


“Kita tunggu beberapa menit aja, abis itu langsung keluar. Lo gak mau kan gaji lo dikurangi?”


Keisya mengangguk ragu.


Setelah beberapa menit menunggu, mereka pun menemukan ruang untuk jalan melewati aksi tawuran itu. “Eh Kei, itu pada pingsan mereka. Kalau kita diem-diem lewat gak bakal ketauan.” Laura segera menggenggam tangan Keisya, menggeser gerbang sekolah perlahan, dan berjalan mengendap-endap.


"Ya udah, ayok."


"Cepetan Kei!” Laura menarik tangan Keisya sekuat tenaga, karena dia bergerak lambat.


“Jangan kuat-kuat Ra, tangan gue sakit."


"Lo lama sih."


Baru akan sampai ke tempat aman, genggaman Laura terlepas karena Keisya jatuh tersandung trotoar. “Aduh, kaki gue sakit, Ra!” Semua buku yang dipegang Keisya pun berjatuhan.


"Lo juga gimana sih!"


“Oi kalian!” Josh yang menangkap keberadaan Keisya dan Laura sontak mendekati mereka sambil membawa pisau.


Devan yang mendengar teriakan itu refleks menoleh, ia memicingkan mata dan mendapati Keisya, langsung saja Devan mengejar Josh. “Woi Josh, diem di tempat lo!”


“Ayo berdiri Kei!”


"Bentar, Ra. Buku gue jatuh semua."


“Astaga Kei tu buku gak penting!” Setelah buku Keisya terambil semua, ia dan Laura pun berlari kencang.


Devan menarik tubuh Josh yang hampir dekat dengan Keisya. Tapi, Josh melakukan perlawanan hebat. Beberapa kali ia memukul perut Devan sampai Devan terbatuk-batuk.


“Devan!” Keisya yang melihat wajah Devan di belakangnya sontak berhenti berlari.


“Kei, please jangan khawatirin Devan kalau lo gak mau mati!” teriak Laura.


Keisya melepas genggaman Laura. “Gue mau nolong Devan.”


Laura menghentakkan kakinya di jalan, kesal. Daripada mempedulikan Keisya, ia memilih berlari menjauh.


Keisya mendekat ke arah Devan. Gadis itu mengangkat tinggi-tinggi bukunya termasuk catatannya dari SD sampai saat ini setebal 1000 halaman, lalu ia timpuk buku itu ke kepala Josh yang sedang melingkari pinggang Devan.


“Makan nih buku!” Keisya tidak peduli jika buku catatan kesayangannya hancur yang penting Devan bisa selamat.


“Berhenti!” Josh menarik rambut Keisya.


"Aaa! Lepasin gue!"


"Beraninya sama cewek lo!" Devan berhasil meraih kedua bahu cowok itu, lalu memukulinya beberapa kali sampai dia meringkuk.


“Dev, biar gue hadang,” ucap Aldo masih memegang balok kayu.


Devan menoleh ke belakang, teman-temannya semakin minim, situasi semakin mencekam. “Ayo.” Devan berjalan cepat sambil memeluk Keisya untuk melindunginya.


Bug. Bug.


Batu-batu mulai terlempar mengenai kepala Devan, menyebabkan darah cowok itu keluar bercucuran.


“Jangan liat.”


Keisya dan Devan pun masuk ke gang yang cukup sempit dan ramang-remang. “Laura!” Keisya shok bukan main melihat Laura sudah tergeletak tak sadarkan diri di sana, lengannya terluka hebat. Wajah Keisya memucat, ketakutan.


Tanpa babibu Devan langsung menggendong Laura.


~•••~


Seluruh badan Keisya gemetar, ia khawatir karena melihat darah di lengan Laura cukup banyak sebelum masuk ruang UGD, bagaimanapun ini salahnya karena telah meninggalkan sahabatnya tadi.


Keisya juga tidak boleh membiarkan Devan duduk menahan lukanya. “Sus, tolong ambilin kotak P3K, Devan luka!” pinta Keisya begitu Suster Alice datang.


Suster Alice menatap Devan sekilas. “Tunggu sebentar."


Setidaknya keberuntungan Keisya, ia bisa mengawasi Laura sekaligus ibunya dalam satu rumah sakit.


Tak lama kemudian Suster Alice kembali dengan membawa kotak P3K. “Sini suster—“


“Biar Keisya aja sus.” Suster Alice terdiam saat Keisya langsung meraih kotak itu dari tangannya.


Keisya duduk di samping Devan dengan menghadap ke arahnya, lalu membersihkan luka di kepala Devan dengan telaten. “Sakit gak?” tanya Keisya melihat ekspresi Devan yang datar-datar saja.


“Udah biasa.”


Keisya memejamkan matanya, lebam biru dengan darah bertumpuk seperti itu udah biasa katanya?


"Makasih banyak udah nolongin gue.”


"Lo juga. Buku lo jadi ancur gitu.”


"Daripada muka ganteng lo yang ancur.”


Devan terdiam sesaat. “Lo ngejek apa muji nih?"


"Dua-duanya."


"Jadi udah ngakui gue ganteng?”


Keisya tertawa kecil. “Cuma hari ini doang.”


“Gue mau luka-luka terus, biar dapet pujian lo," kata Devan tapi Keisya hanya tertawa dalam hati.


Sekarang Keisya hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Laura, begitu juga Devan karena aksi tawuran ini melibatkannya.


“Kalian kenapa bisa sampai begini?” tanya Suster Alice memecahkan keheningan yang sempat tercipta.


“Tawuran sus,” ucap Keisya santai.


Sustes Alice membelalakkan mata tapi, ia mencoba bersikap tenang.


Pintu UGD terbuka, seorang dokter keluar bersama beberapa perawatnya. Ketiganya langsung menghampiri mereka dengan perasaan berkecamuk di wajahnya, terutama Keisya.


“Laura gimana dok?”


“Luka sayatan di lengannya cukup lebar dan dalam jadi, harus di perban selama seminggu. Sekarang dia sudah sadar dan perlu di bantu karena lengannya sulit digerakkan.”


“Baik, makasih banyak dok.” Keisya segera membuka pintu UGD dan berjalan menemui sahabatnya yang kini sedang terduduk sambil meratapi lengan kirinya.


Keisya duduk di samping tempat tidur. “Lo gapapa Ra?”


Laura menatap tajam Keisya. “Lo udah ninggalin gue dan masih nanya gue gapapa?!”


Keisya tertegun, jantungnya seakan berhenti saat melihat Laura marah untuk pertama kalinya. “Ma-maaf Ra, gue cuma mau nolongin—“


“Devan. Lo tu bucin tau gak sih!” Hati Keisya tak kalah teriris mendengar ucapan ketus Laura.


“Laura kamu gak boleh marah gitu, Keisya sama Devan udah bawa kamu sampai ke sini,” tutur Suster Alice mengelus pundak Laura mencoba menenangkannya.


“Suster siapa? Emang tadi suster liat? Gak usah sok tau deh.” Laura membuang muka dan menepis tangan Suster Alice dengan kasar.


Devan mendekati Laura sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya. “Lo bisa tenang gak sih? Ini rumah sakit bukan rumah lo.”


"Lo nyuruh gue tenang? Ok gue bakal tenang kalau lo kuncir rambut gue. Gerah!"


Keisya tersentak kaget.


Devan menoleh ke arah Suster Alice. “Sus, kuncir rambut dia,” ia menunjuk Laura dengan dagunya.


“Gue maunya elo Dev. Lo jahat banget sih gak mau bantuin orang kesusahan. Gue aduin lo ke guru abis tawuran.”


“Ya udah, diem lo.” Devan menarik kuncir Laura yang hampir terjatuh dari rambutnya. Jemari Devan mulai menyisir rambut Laura, lalu menguncir rambut coklat itu menjadi satu ke belakang secara asal-asalan.


Laura mendengus. “Lo bisa ikhlas dikit gak sih, masih berantakan ini!”


Lagi-lagi Devan harus menyisir rambut itu, tapi kali ini lebih perlahan, dan rapi agar gadis itu berhenti mengoceh. Sedangkan, Keisya hanya mengalihkan pandangannya ke samping karena terlalu perih untuk dilihat.