
Seusai menyelesaikan semua pekerjaan di kafe, Keisya dan Devan langsung masuk ke ruang rumah sakit di mana ibu Keisya terbaring lemah.
Keisya tersentak kaget mendapati seorang suster tengah berdiri di samping ibunya. "Maaf, suster siapa ya?"
Perlahan suster tersebut menghampiri Keisya dan berjabat tangan dengannya. "Saya Suster Alice, di bayar untuk merawat dan menjaga ibu ananda."
"Di-dibayar? Saya gak bayar siapa-siapa tuh."
"Begini, saya sudah di bayar oleh seorang pemuda di samping anda ini, Devan Cal Nelson.” Kedua tangan Keisya mulai terkepal, kesal. “Saya memberikan jasa menjaga dan merawat, serta memberikan informasi yang sekiranya terjadi sesuatu pada ibu ananda. Saya akan berjaga di sini selama 24 jam untuk beberapa bulan kedepan. Kamu juga gak perlu khawatir, karena saya termasuk perawat yang sudah bersertifikasi," jelas perawat itu panjang kali lebar, namun tetap dicerna Keisya dengan baik.
“Jadi, lo bilang ibu gue gak sendiri karena udah nyewa suster gitu Dev?”
Devan terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ya, seperti yang lo liat.”
“Dev, lo kira nyewa suster itu murah? Lo dapet uang dari mana Dev?!”
Devan meraih kedua bahu Keisya namun, langsung ditepis oleh gadis itu. “Lo gak usah mikirin duit gue Kei, gue cuma mau nyenengin lo.”
Jika saja tidak ada peraturan yang mengatur tentang Hak Asasi Manusia, Keisya pasti sudah memukul kepala cowok di sampingnya ini, kalau perlu mencakar-cakar wajahnya untuk melampiaskan semua kekesalannya karena sudah seenaknya menyewa perawat tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
Suster Alice hanya terdiam bisu menatap mereka, ia bahkan tidak tau harus melakukan apa?
Mau bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur. “Bisa keluar bentar Dev? Gue mau ngomong sama Suster Alice.”
Devan terdiam sejenak karena merasa diusir, tapi ia tetap mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan.
Keisya langsung menyeret kursi dan duduk di samping ibunya, ia mengecup punggung tangan ibunya penuh kasih sayang bersamaan dengan mata berkaca-kaca seperti hendak menangis. Suster Alice mencoba mendekati Keisya, ia berdiri di sampingnya dan mengelus bahu gadis itu supaya lebih tegar.
"Sus."
"Ya, Keisya?"
“Suster bisa jadi tempat curhat gak?”
"Tentu, suster bakalan seneng denger cerita kamu.”
"Suster tau gak kenapa takdir tu kejam?”
"Tuhan gak ada yang kejam Kei."
Keisya menghapus kasar air matanya yang sempat turun. Suster Alice setia mendengarkan Keisya sampai dia mengeluarkan semua uneknya. “Tapi kenapa Tuhan kasih semua cobaan ini ke Keisya, narik semuanya dari Keisya? Ibu, ayah. Keisya gak punya siapa-siapa lagi selain mereka sus. Kenapa gak Keisya aja sus yang gantiin mereka?”
Sontak setetes air mata tanpa diperintah, jatuh mengenai pipi Suster Alice. "Karena kamu kuat Keisya. Tuhan gak akan beri cobaan di luar batas kemampuan manusia. Kamu hanya perlu sabar, ikhlas, dan bersyukur dengan apa yang masih kamu punya sekarang."
“Kamu gak boleh gitu Kei, sekarang coba kamu lihat disekitaran kamu, kemurahan hati orang lain yang rela melakukan kebaikan demi kamu dibanding dirinya sendiri. Apa kamu yakin mau bikin mereka kecewa?”
“Tapi, itu bukannya rasa kasihan?”
“Suster harap kamu bisa bedain mana rasa kasihan dan mana rasa peduli dari seseorang Kei.”
Setelah cukup mendengar dan meresapi penuturan Suster Alice, sekarang Keisya jadi lebih mampu membenah diri. “Makasih ya sus. Kayaknya, Keisya jadi lebih semangat sekarang.”
Suster Alice memeluk Keisya erat, entah kenapa air matanya justru mengalir semakin deras, tapi Suster Alice segera menepisnya. “Sama-sama.”
“Em, Keisya mau jalan hari ini. Titip ibu boleh kan?”
Suster Alice terkekeh mendengar Keisya yang tidak enakan sendiri. "Keisya gak perlu khawatir, percayakan semua pada suster. Suster bakal jaga ibu kamu seperti ibu suster sendiri, biarlah hari ini kamu merasakan kembali indahnya masa remaja."
Wajah rembulan gelap gadis itupun berganti menjadi mentari yang siap untuk menerangkan. Akhirnya, Keisya bisa tersenyum cerah, bukan palsu, bukan juga terpaksa, benar-benar tanpa beban. "Kalau gitu, janji ya sus bakal jagain ibu."
"Iya," kata Suster Alice.
"Janji ya gak ngapa-ngapain ibu."
"Janji."
"Janji ya kalau ada apa-apa sama ibu, Keisya langsung dikabarin."
"Siap."
"Beneran 24 jam kan."
"I—itu," kali ini suara Suster Alice terdengar ragu.
"Bercanda kok sus. Kalo capek istirahat aja, jangan berdiri terus, emangnya tiang."
Perawat yang mengenakan pakaian biru itu pun hanya tertawa paksa, hampir saja ia dibuat kesal. Padahal suster juga manusia.
“Keisya pamit ya.”
“Iya hati-hati Kei.” Keisya berjalan keluar ruangan dan menutup pintunya rapat. “Kita jadi kan pergi ke pasar malam?” tanya Keisya dengan senyum mengembang di hadapan Devan.
Devan tersenyum lega, ia kira akan ditimpuk Keisya karena sudah bersikap seenaknya. “Iya, ayo mumpung masih jam sembilan.”