His Struggle

His Struggle
• BAB 17 •



“Oh tangan lo diperban ya?” Caca melirik sinis ke arah tangan Laura yang diperban.


“Lo gak diterima di cheers. Mending cari organisasi yang lain deh,” kata Cika sambil mengibaskan sebelah tangannya.


Mata Laura mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika Cika dan Caca yang sebelumnya terasa sedekat nadi berubah sejauh matahari. “Lo bilang gue udah masuk di team inti. Tapi sekarang lo malah ngusir gue?”


“Eh yang namanya kesayat, kegorok, atau apapun itu sudah pasti harus keluar. Lo gak ngerti ya?” ucap Cika dengan nada meninggi, kepalanya terasa seperti berapi-api karena Laura batu.


"Tangan gue bakal sembuh kok.”


“Iya sembuh, tapi bekas jaitannya bakal ilang? Kaga kan.”


Bukan hanya aksi dance mereka yang ditampilkan, keindahan kulit juga perlu. Mengingat seragam cheers milik SMA Galaksi cukup sexy dengan atasan berbentuk V-Neck dan sebatas bahu, serta bawahan minim di atas lutut dan berbelah membuat mereka harus berpakaian sedikit terbuka.


Laura mengepalkan kedua tangannya, Cika benar-benar tidak mau memberinya kesempatan. “Kalau gitu, gue mau jadi penyemangat kalian.”


Cika tersenyum sinis. “Boleh, setiap hari lo harus kasih kami minum, sama makanan biar semangat.”


Laura bungkam.


“Kenapa? Lo gak mau ya?” Caca mendorong sebelah bahu Laura cukup kuat, membuat Laura meringis. “Ayo Ci kantin, ngabisin waktu doang ngeladenin dia.” Caca menunjuk Laura dengan telunjuknya, setelah itu merangkul lengan Cika dan pergi dari hadapan Laura.


“Aw!” Keisya meringis saat Cika menabrak sebelah bahunya dari belakang. Bisa ia simpulkan kalau Cika sengaja melakukannya.


Keisya menoleh ke samping, matanya menangkap Laura sedang tertunduk dalam dan menepis kasar air matanya di koridor sekolah, tepatnya di depan kelas Cika.


“Ayo Kei, keburu abis jam istirahatnya!” kata Gwen sambil menarik tangan Keisya yang berhenti melangkah di atas undakan tangga.


“Duluan aja Gwen gue mau nemuin Laura.” Keisya melepas genggaman Gwen.


“Aduh! Ngapain lagi sih temenan sama dia?!” ketus Gwen, tidak suka dengan sikap Keisya yang kerap tidak tega dengan orang lain.


Keisya langsung menghampiri Laura, tanpa menggubris ucapan Gwen. “Ra? Lo gapapa?” tanyanya setelah sampai di hadapan Laura. Tapi, Laura hanya menggeleng. “Mau makan di kantin?”


Laura mengangguk.


“Ya udah, yuk makan bareng gue,” kata Keisya menggandeng tangan Laura.


“Tapi, nanti ketemu Cika sama Caca lagi."


“Ya udah kita makan di kantin belakang sekolah. Banyakan cowok sih, tapi lo mau gak?”


Laura mengangguk pelan.


Keisya langsung menyunggingkan senyum dan berjalan bersama Laura pergi ke kantin belakang sekolah.


~•••~


Suasana di kantin belakang SMA Galaksi terasa tidak aman bagi Keisya dan Laura, semua tempat duduk sudah terisi penuh oleh murid yang merokok dan bermain musik keras-keras, ditambah lagi para penjualnya ketus-ketus, bahkan anak perempuan hampir tidak ada di sana. Membuat Keisya dan Laura terpaksa membungkus makanan mereka untuk dibawa ke tempat yang lebih nyaman.


Setelah makanan dibungkus, Laura dan Keisya memutuskan untuk kembali ke sekolah, tapi langkah Laura terhenti begitu melihat Devan tengah tertawa bersama temannya yang berjarak enam meter dari samping Laura.


“Cepet juga luka kepala lo sembuh,” kata Brian sambil menepuk pundak Devan.


“Iyalah, diobatin cewek manis. Ketua OSIS bro,” timpal Aldo.


“Boleh dong bagi nomor WA dia,” kata Brian sambil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Cari mati lo Bri?”


"Canda Pan, gak bakal gue ambil kok,” kata Brian.


Sekarang tatapan Laura beralih pada Keisya. “Ca, lo mau suapin gue gak nanti? Tangan gue masih sakit nih,” pinta Laura dengan wajah memelas.


"Ya ampun Ra, lo kayak anak kecil deh.”


“Oh jadi lo gak mau?!”


"Mau kok ... tadi gue cuma bercanda kali Ra.”


“Lo bohong. Gue mau minta suapin Devan aja,” kata Laura sambil menunjuk tempat yang bertuliskan Muscari.


Masuk Cari Mati.


Nama bunga dompolan mirip anggur itu disulap menjadi tempat yang terasa mencekam, terlihat dari dindingnya yang dipenuhi oleh graffiti dan mural, tertutupi oleh tanaman ivy yang berjejer. Hanya ada dua drum kecil dan kursi yang dicat merah tua serta satu lampu yang bergoyang ditiup angin. Jelas tempat itu adalah basecamp milik Devan dan teman-temannya.


"Gak, gue maunya Devan. Lo di sini jangan tinggalin gue,” teguh Laura pada pendiriannya lalu berjalan menghampiri Devan.


Keisya mendengus kesal. Mau tak mau ia harus mengalah.


Suasana yang tadinya penuh tawa, seketika berganti hening melihat kedatangan Laura. “Wih, ada cewek cantik nih,” kata Brian. “Buat abang ya?” tanyanya melirik makanan yang dipegang Laura.


Laura tidak menggubris, ia berlalu dan mendekati Devan. “Dev, suapin gue dong,” kata Laura mengulurkan makananya pada Devan.


“Asik, menang banyak lo bro!” seru Brian.


Devan kaget bukan main dengan Laura yang tiba-tiba minta disuapi, ia pun menggebrak drum, kesal. “Eh, lo siapa."


“Tolong Dev, tangan gue masih sakit,” lirih Laura.


"Lo gak baca tulisannya? Yang masuk harus siap mati!"


"Tapi, gue cuma minta tolong."


"Minta sana sama emak lo!"


Devan yang muak dengan tingkah Laura pun bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah melewati Laura. Namun baru selangkah ia berjalan, rintihan tangis Laura terdengar di telinganya.


“Woi Pan! Lo buat anak orang nangis,” tunjuk Brian pada Devan sambil mendekat ke arah Laura.


“Gila, lo apain primadona kita. Wah bahaya nih lo,” cibir Arif.


“Lo boleh jadi bad boy tapi gak boleh buat cewek nangis. Lo sendiri kan yang bilang,” kata Aldo yang tak kalah membela Laura.


Devan menghela napas kasar mendengar penuturan temannya yang mengelilingi Laura. Laura pasti playing victim. Walaupun begitu, Devan tidak boleh munafik dengan ucapannya sendiri.


Devan meraih makanan Laura dari tangan gadis itu, membuka bungkusnya, lalu menyodorkan sesendok nasi. “Cepet! Gue gak punya waktu!"


"Makasih, Dev." Laura menghapus air matanya, lalu tersenyum senang. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suap dari Devan.


Kebetulan tempat duduk di ujung kantin sedang kosong, jadi Keisya bisa makan batagor sembari menunggu Laura selesai makan dan sesekali menghela napas panjang. Devan tidak tau, kalau ada seorang gadis yang diam-diam memperhatikan setiap gerakan tangannya, apalagi rasa sesak yang dirasakan gadis itu.


Keisya tidak boleh cemburu, apalagi marah. Ia tidak punya hak untuk itu, hanya bisa memendamnya saja.


Daffa yang kaget melihat Keisya duduk sendirian pun langsung menghampiri gadis itu. “Loh, Kei? Lo ngapain makan sendirian di sini?”


“Gue nungguin Laura,” tunjuk Keisya dengan dagunya.


Daffa menoleh ke arah basecamp milik Devan dan kawan-kawan. “Ngapain lo ngawasin orang pacaran. Kurang kerjaan banget dah.” Daffa geleng-geleng kepala. “Udah ya, gue mau balik, bentar lagi masuk.”


Keisya bangkit berdiri dan menahan tangan Daffa. “Eh, jangan tinggalin gue. Temenin dong.”


“Mending lo ikut gue, daripada merana sedih gitu.”


“Ih! Gak mau!” pekik Keisya.


Mendengar pekikan Keisya di telinganya, membuat Devan mendongakkan kepala. Cowok itu langsung menghempaskan makanan Laura di drum dan berjalan menghampiri Keisya diikuti Laura di belakang.


“Lo di sini juga Kei?”


Keisya menatap kaget Devan yang sudah berdiri di sampingnya. “I-iya gue tadi abis fotokopi bareng Daffa. Iya kan Daf?” Keisya menyenggol Daffa dengan sikutnya.


“Iya, kami mau pergi,” kata Daffa, menangkap kode Keisya dengan baik.


Devan memicingkan mata menatap Keisya. “Abis makan?”


“Siapa yang makan?”


Devan mengulurkan tangannya dan mengusap lembut sudut bibir Keisya dengan jempolnya. “Makan aja berantakan.”


Keisya mendadak terdiam, semilir rasa hangat saat tangan Devan menyentuh wajahnya membuatnya jadi sulit berkata-kata. Tanpa sadar tangan Keisya terangkat dan menyentuh lembut lengan Devan. Jari Devan beralih menyentuh bibir Keisya kemudian turun ke dagunya.


“Woi!” Daffa menimpuk kepala Devan dengan berkas yang dipegangnya sampai Devan meringis. “Lo pikir siapa nyentuh-nyentuh cewek sembarangan. Udah Laura, Keisya yang jadi sasaran.”


Devan dan Keisya sama-sama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Em, ya udah gue balik ya. Ayo Ra, udah selesai kan makannya?” tanya Keisya pada Laura tapi tatapannya menatap pada Devan.


“Udah! Gue gak nafsu,” kata Laura mendengus kesal lalu menarik tangan Keisya menjauh dari Devan.