
Laura segera menghampiri dan duduk lesehan bersama mereka. "Ini donatnya ambil aja, kami beli kebanyakan tadi," kata Cika menyuguhkan sekotak donat pada Laura.
"Gak usah malu-malu Ra," kata Caca
"Iya, makasih." Laura mengambil sebuah donat berlapis matcha kesukaannya dan mengunyahnya perlahan. Mata Laura berkilau takjub melihat sikap mereka yang loyal dan tidak sombong, berbeda dengan teman di tempatnya dulu, sering pergi clubbing dan berpesta ria.
"Seneng banget Ra," kata Cika.
"Eh? Do-donatnya enak, lebih lembut."
"Ambil lagi kalo mau."
Mereka pun makan bersama sambil bercerita tentang latar belakang mereka masing-masing. Tidak seperti Keisya yang terkesan menutupi, Laura justru bersikap terbuka menceritakan kehidupan keluarganya. Cika mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya lalu membuka aplikasi berjenis media sosial yaitu Instagram.
"Nama IG lo apa? Gue mau follow." Cika menyodorkan ponselnya pada Laura.
"Eh gue juga dong," kata Caca tak mau ketinggalan.
Laura mengambil ponsel dari tangan mereka lalu mengetikan nama akun sosmednya. "Nih, follback ya."
"Sip! Eh kita selfie bareng yuk," ucap Cika mengangkat ponselnya ke atas.
Mereka bertiga pun mengambil posisi yang tepat, menunjukkan gigi putihnya masing-masing dan mengatakan 'cis'. Senyum tulus terpancar dari wajah Laura, ia sangat senang sampai rasanya ingin terbang melayang.
Sementara Keisya hanya duduk membaca rumus-rumus fisika yang belum ia pelajari di kelas dengan ditemani Gwen di sampingnya. "Gue heran sama sekolah ini," ungkap Gwen membuat Keisya mengernyitkan alis, bingung.
"Kenapa?"
Brak.
Lagi-lagi Gwen menggebrak meja, sudah jadi kebiasaannya setiap kali ingin curhat ataupun haus akan cerita. "Giliran ada murid yang bening aja, beuh! Langsung heboh tu semuanya. Sampe bapak-bapak yang ngajar olahraga di lapangan tu gue liat, ngomongin Laura buat jadi anak didiknya. Heran gue. Lo aja yang ketua OSIS, pinter, cakep, rajin aja gak seheboh gitu. Haduh, kayaknya gue salah masuk sekolah nih."
Keisya dibuat tertawa mendengar ucapan Gwen. "Gwen, Gwen. Kok jadi lo yang repot sih." Ia acuh dan kembali membolak-balikan halaman di bukunya. "Ngomong-ngomong, si Anna marah ya sama gue?"
"Ah biasa! Dia emang kayak bocah, suka ngambek. Paling besok moodnya balik lagi. Oh ya Kei, kayaknya Laura mau duduk terus deh sama lo. Kalo gitu sih, biar Isel aja yang sebangku sama Anna. Gak apa deh gue duduk sendirian di belakang daripada entar ribut."
Walaupun Gwen bersikap rusuh tapi sebenarnya, dia memiliki hati yang terbuat dari sutra, sangat lembut. Keisya merasa beruntung dipertemukan Tuhan padanya. "Makasih ya Gwen, mau ngertiin gue."
Gwen mengangguk. "Iya dah. Biasa aja kalo sama gue."
~•••~
Kring.
Bel tanda istirahat telah berakhir, saatnya murid-murid mengisi otak mereka yang gelap akan pelajaran. Laura kembali ke kelas dan duduk di samping Keisya sembari mengeluarkan buku catatan yang masih kosong dan menaruh pena di atasnya. Begitupun guru yang akan mengajar, sudah masuk ke dalam kelas.
"Lo kenapa gak ikut gue tadi. Sombong banget," ketus Laura membuat Keisya tertegun. Laura harus mengetahui sifat mereka yang sebenarnya, tapi bagaimana? Keisya juga tidak ingin merusak keakraban mereka yang baru saja terjalin.
"Maaf Ra, tapi gue cuma mau kasih tau, kalau mereka itu dijuluki The Evil Geng di sekolah.”
"Gue gak peduli," ketus Laura. "Asalkan mereka baik sama gue, gue bakal nganggep mereka baik. Lo juga Kei, jangan ikut menghindari mereka kalo denger dari asumsi orang doang, belum tentu yang dibilang mereka tu bener."
Keisya berpikir sejenak, ia tidak bisa membenarkan ucapan Laura, mengingat kejadian saos yang menempel dibajunya dan permen karet kemarin. Apalagi tamparan yang mengenai pipinya waktu itu, Tapi, Keisya juga tidak boleh mengekang pertemanan Laura.
"Keisya!" Lamunnya kabur saat guru di depan berteriak memanggil namanya. "Melamun aja ya kamu sekarang. Udah gak mau perhatiin ibu lagi?" celetuk Bu El si guru killer.
Keisya menunduk pasrah. "Ma-maaf bu," hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
"Bawa semua spidol ini dan isi sampai penuh! Gimana saya mau ngajar, kalau ketua kelasnya gak ada persiapan."
Guru tersebut berkacak pinggang marah. Baru pertama kali dalam seumur hidupnya, Keisya dimarahi oleh guru. Keisya segera mengambil lima spidol beserta botol tinta di meja guru dan keluar dari kelas. Keisya mendengus kesal, menekan botol tinta itu dengan kuat, namun tak ada setetes cairan yang ada mengotori telapak tangannya. “Abis lagi.”
"Iya, punya kelas lo masih ada gak? Bagi dong."
"Ok, bentar ya." Daffa berdiri lalu pergi ke kelasnya.
Tak lama kemudian ia kembali menemui Keisya sambil membawa dua botol tinta spidol dan tisu basah. Daffa mengisi spidol tersebut dengan telaten lalu menutupnya kencang, setelahnya ia mengangkat tangan Keisya dan membersihkannya dengan tisu. Keisya bingung dengan sikap Daffa, kadang dia acuh kadang juga sangat perhatian.
Sebaiknya, Keisya segera menghapuskan pikirannya tentang Daffa, terlalu banyak berpikir membuatnya sial. "Udah Daf, makasih ya." Ia bangkit berdiri dan masuk kembali ke dalam kelas.
~•••~
Langkah Devan terhenti, begitu Aldo datang merangkul bahunya dari belakang. “Eh Pan, lo ikut ya ke rumah gue. Kita main game bro!”
Devan menatap Aldo sekilas, kemudian pandangannya beralih menatap Keisya yang sedang menunggu di depan gerbang sekolah.
“Besok deh.”
Aldo berdecak kesal. “Ah lo ga seru! Pokoknya hari ini lo harus ikut, kita bakal bikin teammate di game ini. Pasti seru!” seru Aldo sambil mengangkat sebuah DVD game dengan sebelah tangannya. “C’mon gue tau lo paling suka sama game baru.”
Devan melepas rangkulan Aldo. “Sori, gue gak bisa.” Tanpa basa-basi lagi Devan langsung berlalu pergi, tak menghiraukan panggilan sohibnya. Mata dan kakinya sekarang tertuju pada Keisya.
"Kei," panggil Devan.
Keisya yang semula menatap layar ponselnya kini mendongak menatap Devan, mendadak rasa dingin di telapak tangan gadis muncul kembali. “Kenapa Dev?”
“Gue bantu lo kerja ya.”
Senyum Keisya perlahan memudar, hal inilah yang membuatnya tak enak hati menceritakan kehidupannya sendiri, ia seperti menjadi beban untuk orang lain, padahal ia ingin memikul bebannya sendiri. "Hari ini kerjaan lagi libur Dev," bohong Keisya, sekarang kebohongan adalah bakatnya.
"Oh, ya udah kita pulang bareng.”
"Gue pulang bareng Laura.”
Sedetik kemudian, mobil datang tepat di saat Keisya berbalik badan. "Nah, itu Laura. Gue duluan ya." Keisya menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya.
Laura menurunkan kaca pintu mobil. "Eh, Devan mau nebeng gak? Gue anter kok, lagi pengen jalan-jalan nih," kata Laura.
"Gue bawa motor."
"Ya, sayang banget. Besok-besok gak usah bawa motor, biar bareng kita pulangnya," ujar Laura sambil memberi simbol tangan yang menandakan ‘ok’ sedangkan, Keisya hanya tersenyum tipis, setelah itu melaju pergi.
Bisa jadi, Devan takkan bisa lagi mengantar Keisya pulang jika Laura terus bersamanya. Walaupun begitu, Devan akan terus mengejar Keisya.
~•••~
Setelah menyelesaikan semua perkerjaan di kafe, Laura dan Keisya pun berhenti di tempat terakhir yaitu rumah sakit. "Maaf Kei, gak bisa jenguk ibu lo," kata Laura yang masih memegang setir mobil.
"Gapapa kok, makasih banyak ya Ra udah nemenin gue," kata Keisya yang berada di luar mobil seraya menunduk merasa bersalah.
“Udah, gak usah sedih.” Laura mengelus pelan lengan Keisya. "Mulai besok lo pulang bareng gue aja, kan kita udah satu sekolah. Kasihan kalau lo dianter Devan terus, bisa-bisa ngerepotin dia," ujar Laura menasehati Keisya yang sebetulnya tidak suka melihat Keisya dekat dengan Devan.
"Iya."
“Ya udah gue pulang ya.” Laura langsung menutup kaca mobilnya lalu menginjak pedal gasnya. Keisya melambaikan tangan, mobil itu pun melaju hingga tak terlihat lagi.
Begitu masuk ke ruangan, sorot mata Keisya langsung menangkap tubuh seorang cowok yang tengah tertidur dengan posisi duduk dan kepala terbenam di lipatan tangan ranjang rumah sakit, tepat di samping ibunya. Keisya berjalan mendekat dan setelah diperhatikan barulah tersadar.
“Devan?"