His Struggle

His Struggle
• BAB 3 •



“Devan pulang.”


“Gimana sekolah kamu?” tanya Nelson, ayah Devan. “Tadi kepala sekolah nelpon tiba-tiba putus. Kamu coba bolos lagi ya?”


"Enggak kok."


“Kamu itu harus belajar yang bener Devan, sebentar lagi kan mau lulus,” timpal Jeslyn.


“Iya mama cantik.” Ia beranjak dari sofa dan pergi ke kamar.


Jeslyn hanya menggeleng melihat tingkah laku anak sulungnya, ia segera membereskan barang-barang milik Devan termasuk jaketnya. “Sejak kapan Devan punya jaket? Perasaan tiap ke sekolah cuma pake baju berantakan.”


“Ya gapapa lah ma, berarti uang jajannya dipake bukan untuk bolos-bolosan gak berguna,” kata Nelson sambil berdiri, lalu merangkul bahu istrinya itu. “Oh ya, gimana kalau minggu depan kita jalan-jalan ke Venice biar sekalian refreshing?”


“Oh, berdua aja ceritanya?”


“Iya, biar lebih romantis."


Jeslyn tersenyum dan mengelus lembut rambut suaminya. “Boleh dong.”


Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa merusak hubungan dua insan yang sedang kasmarannya.


“Kak, cariin Robi referensi motor yang bagus dong, bosen nih." Robi dengan santainya melempar miniatur miliknya tepat mengenai dahi Devan, membuat kakaknya itu meringis kesakitan.


“Gak bisa slow apa ngelemparnya,” ucap Devan masih terfokus pada ponselnya, sebenarnya ia sedikit berharap ada notifikasi dari Keisya.


“Cie … mentang-mentang beli jaket baru, mentengin hp mulu. Kenalin kak siapa nama ceweknya.” Robi merubah posisi menjadi duduk di samping Devan. “Cantik gak?”


"Masih kecil gak usah sok tau. Makanya jangan jomblo, cari cewek sana.”


"Dasar kakak lucknut.”


~•••~


Akhirnya selesai juga pekerjaan Keisya, ia bisa bebas merenggangkan badannya yang terasa letih. Begitu menutup pintu kafe tempatnya bekerja sebagai waitress, tiba-tiba saja datang seorang gadis bernama Laura yang tidak lain sahabat Kesiya sewaktu kecil.


"Loh, Laura. Kok lo bisa ada di sini? Bukannya sekarang di Prancis?"


"Wah! Padahal gue mau ngabarin lo abis dari sini." Laura memeluk Keisya erat. "Eh ... gue boleh masuk gak? Mau beli minum doang nih haus."


"Oh! Boleh dong masuk aja, kita duduk santai."


Keisya menyiapkan segelas air putih dan cappucino kesukaan Laura, diantarkannya ke meja bagian tengah lalu duduk berhadapan dengan sahabatnya. Laura Navarrete adalah seorang gadis yang sangat cantik dan baik menurut Keisya. Jika Laura ada di sekolahnya sekarang mungkin dia akan menjadi primadona baru di sana.


Laura banyak bercerita tentang kehidupannya di Prancis seperti kesehariannya, sekolahnya, bahkan pacarnya. “Gue kira lo gak ngenalin muka gue.”


“Walaupun kita pisah waktu kecil mana mungkin gue lupa sama lo. Lo itu punya ciri khas mata biru laut yang cantik.”


"Bisa aja lo, oh ya Kei kenapa lo bisa kerja di sini?”


"Ya, lo tau sendiri kan kalau nyokap gue sampai sekarang koma, gue juga harus mampu buat ngebiayai hidup gue sendiri. Untungnya sih masih ada beasiswa, setidaknya gue gak perlu bayar studi gue."


"Udah deh Kei lo gak usah sedih, kayak gue berbuat jahat aja." Laura mengelus pundak sahabatnya dan mengusap air matanya. “Lagian nih ya mau nyokap gue ada kek, bokap gue ada kek, gue gak peduli. Nyokap gue udah ninggal kayak bokap lo, terus bokap gue gak tau kemana? Gue cuma dapet kabar kalau uangnya udah di kirim, itu aja belum cukup. Makanya, gue ke sini mau minta tolong pacar gue. Ya, siapa tau dia mau nolongin gue.”


"Iya Ra, mungkin gue gak sekuat lo ya."


Tak terasa sudah satu jam lebih mereka bercengkrama, Keisya harus segera beranjak dan menutup tempatnya bekerja.


"Kak ... boleh minta sumbangannya gak kak?" Suara sayup anak kecil terdengar di telinga Keisya. Dilihatnya anak kecil itu dengan baju compang-camping dan wajah yang penuh luka, tak lupa juga kaleng yang berisi recehan di tangannya.


Keisya meraba-raba sakunya berharap punya uang lebih, tapi setelah di keluarkan hanya ada recehan, tanpa pikir panjang Keisya memberikan uang itu kepada anak kecil yang tadi meminta.


“Makasih banyak kak! Semoga rezekynya bertambah dan berkah.” Setelah terus berterima kasih kepada Keisya, akhirnya anak kecil itupun pergi ke ujung jalan. Keisya lupa, ternyata masih banyak orang di luar sana yang lebih kurang darinya.


Terkadang ia sering tertukar untuk menentukan sebuah batas. Menggunakan batas maksimal nikmat untuk bersyukur dan menggunakan batas minimal musibah untuk bersabar. Baru bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang sangat besar, tapi sudah mengeluh dengan musibah yang begitu kecil.


"Ayok Ca gue anter lo pulang." Mendengar ajakan Laura membuat lamuan Keisya terbuai.


"Mobil siapa Ra?"


"Kita cerita pas di jalan aja."


Di sela perjalanan Laura berkata, "Jadi Kei, mobil ini tuh dipinjemin sama pacar gue. Gue sih cuma iseng-iseng doang kemarin, eh beneran dipinjemin." Keisya hanya diam seribu bahasa. "Coba aja cari pacar Kei, bisa ngurangin beban lo sedikit lah, lo kan punya senyum manis, pasti banyak yang ngantri."


"Gue gak mau manfaatin orang lain Ra, biar gue susah asal dengan jerih payah gue sendiri.”


"Ya udah deh, terserah lo. Oh ya, rumah lo dimana Kei? Gue lupa."


"Kerumah sakit aja Ra, mau ketemu nyokap. Oh ya, lo mau sampai kapan disini Ra?"


"Gak tau deh, sebulan, dua bulan. Bosen aja di Prancis, gak ada lo sih."


Sepanjang perjalanan Laura hanya fokus menyetir mobil sedangkan Keisya sudah seperti ayam yang mematuk beras, menahan kantuknya yang tak bisa lagi diajak kompromi. Ponsel di dalam saku Keisya pun berdering, menandakan ada panggilan masuk. Keisya mengambil ponselnya dari dalam saku dan menyentuh ikon bergambar telepon di layar, tanpa sempat melihat siapa yang menelponnya.


"Halo?"


"Udah pulang Kei?"


Mata Keisya terbelalak sambil mencari alasan untuk berbohong, ia tidak mau jika Devan melakukan hal yang berlebihan padanya. Bukannya gr bisa saja ia mengantar Keisya pulang, padahal ini sudah larut malam. "I-ini gue bentar lagi sampe rumah."


"Sama siapa?"


“Temen gue."


"Oh, baguslah. Gue takutnya lo belum pulang." Keisya terkekeh mendengar pesan Devan, baru kenal sudah langsung peduli. "Take care."


"Iya, makasih Dev." Keisya segera menutup ponselnya.


"Siapa Kei? Senyum-senyum gitu?” tanya Laura.


"Em ... temen gue disekolah, namanya Devan Cal Nelson."


Ckiiit.


Laura yang ngerem mendadak, membuat kepala Keisya terbentur dasbor, membuat Keisya meringis kesakitan.


"Etdah Ra! Kepala gue kejedot nih ampe benjol tau gak."


"Aduh, sori ya Kei, gue gak sengaja." Laura kembali menyetir mobil dengan aman. "Kok lo bisa temenan ama Devan?"


"Lo kenal Devan?"


"Dia itu anak dari CEO Son's Corp yang punya cabang restauran di mana-mana. Pasti ganteng kan?”


"Gak temen gue, gak lo semuanya tau tentang Devan.”


“Lo beruntung banget bisa dapetin dia.”


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit yang sudah menjadi rumah kedua bagi Keisya.


"Gue gak ikut masuk gak apa kan Kei, gue juga ngantuk nih gue mau pulang."


“Jangan ngebut Ra.” Setelah mobil yang dikendarai Laura menghilang dari tatapannya, Keisya langsung masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan ke ruangan di mana ibunya terbaring lemah.


Sudah tiga bulan lamanya ibunya mengalami koma, dengan mata tertutup dan badan yang terbujur kaku akibat kecelakaan pesawat yang menyebabkan kerusakan di otaknya. Siapapun pasti takkan tega melihat kondisi ibunya.


"Ibu, cepat sembuh ya. Keisya bakal cari uang yang banyak. Biar ibu senyum lagi kayak dulu." Buliran air mata pun mulai jatuh membasahi pipi Keisya. Beberapa kali ia mencoba kuat di depan ibunya tapi tetap saja tak bisa, rindu pada ini terus mengendap, ia ikhlas walau tak dibalas Tuhan, seperti endapan kopi yang tak pernah diteguk.